Jumat, 08 Maret 2013

Hubungan Manusia-Mesin Lunturkan Nilai Kemanusiaan


Manusia kini bergantung pada mesin dalam berbagai cara, melupakan hal krusial mengenai kasih dalam percakapan yang hanya bisa terjadi antarmanusia.

anak,gadget
Ilustrasi anak dan gadget. (thinkstockphoto)

Sudah bukan hal aneh melihat seseorang sibuk dengan gadget miliknya. Tidak acuh pada lingkungan sekitar, hanya gadget dan koneksi di dalamnya-lah yang terpenting. Seseorang yang sudah sedemikian kuat hubungan dengan gadget-nya, bisa kelimpungan ketika sang gadget tertinggal atau hilang. Hubungan macam ini memperlihatkan bahwa manusia makin mencari hubungan pertemanan baru dengan gadget atau "mainan" mesin lainnya. 

Aplikasi seperti asisten digital dismartphone juga mengajarkan manusia agar bergantung pada mesin dalam berbagai cara. Demikian kritik yang disampaikan Sherry Turkle, profesor studi sosial iptek di Massachusetts Institute of Technology (MIT), AS, dalam pertemuan American Association for the Advancement of Science, Jumat pekan lalu (15/2). "Ide untuk menciptakan persahabatan rekaan sudah menjadi 'normal' yang baru," kata Turkle yang menambahkan anak-anak kini berteman dengan hewan peliharaan dari robot atau sangat terikat dengan game komputer. Hubungan "normal" yang baru ini membuat manusia akhirnya menimbang ulang nilai dari hubungan dengan manusia lain.

robot
Ilustrasi robot. (thinkstockphoto)
Turkle mempelajari pemikiran dan perasaan mengenai robot yang berubah seiring jalannya waktu. Dikatakan subjek yang dipelajari Turkle, pada era 1980 dan 1990-an, cinta dan pertemanan adalah hubungan yang hanya bisa terjadi antarmanusia. Namun, subjek masa kini menyebut, robot bisa mengisi peranan yang dulu diisi manusia. Sebagai contoh, Turkle mempelajari Paro, robot bayi anjing laut yang digunakan sebagai teman bagi warga lanjut usia yang terkena demensia ataupun depresi. Di masa depan, robot semacam ini diprediksi akan menjadi penjaga yang ideal bagi warga lanjut usia. Mengingat Paro dan robot sejenisnya diprogram dengan rasa sabar tanpa batas, tidak akan abusif atau berbohong. "Bagi saya, hal terpenting di masa kanak-kanak dan dewasa adalah menjalin hubungan dan kepercayaan pada orang lain. Kita melupakan hal krusial mengenai kasih dalam percakapan yang hanya bisa terjadi antarmanusia," ujar Turkle.

(Sumber: Phys.org)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers