Senin, 30 Januari 2012

Mengapa Ada Orang Jahat Seumur Hidup?


Perangai jahat ternyata dapat diturunkan orang tua kepada anaknya. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan hasil mencengangkan, yakni penjahat bakal menurunkan perilaku jahatnya. Gagasan bahwa perilaku jahat terekam dalam gen manusia ini sontak menyulut kontroversi. Sebab, sebagian besar kriminolog selama ini berpendapat bahwa penyebab kejahatan adalah faktor lingkungan, seperti kemiskinan. Tapi sekarang sekelompok peneliti mengklaim bahwa gen manusia dapat memainkan peran signifikan terhadap kemungkinan mengubah sifat seseorang untuk berbuat kriminal di kemudian hari.

Sebuah penelitian dari University of Texas di Austin, Amerika Serikat, yang dipublikasikan dalam jurnal Criminology menemukan, meski tidak ada gen tunggal yang menyebabkan perilaku kriminal, diduga kuat ada sejumlah variabel yang berperan menyulut atau meredam perilaku jahat. Salah satu peneliti, J.C. Barnes, mengatakan ada ratusan, bahkan ribuan, gen yang secara bertahap akan meningkatkan kemungkinan seseorang terlibat dalam tindak kejahatan, meski kemungkinannya hanya 1 persen.
“Tapi ini masih merupakan efek genetik. Dan itu penting,“ kata dia. Para peneliti mengamati tiga kelompok besar responden, yakni mereka yang sepanjang hidupnya terus-menerus melakukan pelanggaran, mereka yang hanya melakukan kejahatan pada usia remaja, dan orang-orang yang selalu mematuhi hukum.

Mereka berfokus pada apa yang disebut faktor “pelanggar“, yang biasanya menunjukkan perilaku anti-sosial selama masa remaja. Perilaku tersebut akan berubah menjadi tindak kejahatan atau kekerasan saat orang itu beranjak dewasa. Berdasarkan data 4.000 orang dari The National Longitudinal Study of Adolescent Health, para peneliti menemukan, perilaku melanggar pada pelaku remaja tampaknya lebih dipengaruhi faktor lingkungan. Tapi hal serupa tidak ditemui pada mereka yang menjadi penjahat seumur hidup. Metodologi kembar untuk menentukan pengaruh relatif dari berbagai faktor lingkungan dan gaya hidup tidak berhasil mengidentifikasi gen mana yang bertanggung jawab. Namun metode tersebut menganalisis 70 persen kemungkinan seseorang melakukan tindak kriminal yang dipicu secara genetik.

Barnes mengatakan kesimpulan menyeluruh dari penelitian tersebut adalah pengaruh genetik dalam faktor “pelanggar“ berperan lebih besar dibanding pengaruh lingkungan. “Faktor genetik memainkan peran besar dan demikian pula lingkungan. Untuk pelanggar berusia remaja, faktor lingkungan tampaknya paling penting,“ ujar dia.

TELEGRAPH

3 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers