Sabtu, 28 Januari 2012

Genom Etnis Melayu Sudah Dipetakan


Menguji teori yang menyebut Orang Asli adalah pribumi tertua di dunia, setelah Afrika.


Para peneliti dari Universiti Teknologi Mara's (UiTM) Pharmacogenomics Centre telah menyelesaikan pemetaan genom etnis Melayu. Ini keberhasilan pertama yang dihasilkan penelitian semacam itu. 

Deputi Perdana Menteri Malaysia, Tan Sri Muhyiddin Yassin mengatakan, keberhasilan penelitian ini membuktikan Malaysia telah sejajar dengan negara-negara maju. 

"Negara ini telah menghasilkan sekitar 16.000 lulusan ilmu hayati industri dan bertekad menjadikan 70 persen dosen mencapai gelar doktor, demi perkembangan bioteknologi," kata dia seperti dimuat situs The Star, Selasa 27 Desember 2011. "Sektor bioteknologi akan menjadi salah satu sumber pendapatan utama negara." 

Pharmacogenomics Centre adalah bagian dari jaringan BioNexus Partners (BNP) BiotechCorp, yang mencakup 207 perusahaan berstatus BioNexus dengan total investasi mencapai RM 2,1 miliar. 

Kepala Pharmacogenomics Centre, Prof Dr Mohd Zaki Salleh mengatakan, penemuan tersebut akan membantu para ilmuwan dan peneliti mengembangkan perawatan kesehatan dan obat-obatan yang spesifik untuk penduduk pribumi Asia Tenggara. Yang lebih efektif.

"Studi kami tentang genome etnis Melayu akan ditambahkan pada database proyek Human Genome Project, yang bisa diakses oleh para ilmuwan. Selain membantu menyediakan pengobatan yang lebih baik, pemetaan genome juga membantu para ilmuwan memperdalam pengetahuan teori migrasi dan studi populasi," kata dia. 

Mohd Zaki menambahkan, lembaga yang dipimpinnya telah mendapat hibah sebesar RM8 juta dari Kementerian Pendidikan Tinggi. "Bantuan ini untuk pemetaan genome Orang Asli, termasuk membiayai penelitian di universitas negeri dan swasta," kata dia. "Kami ingin menguji teori yang menyebut, Orang Asli adalah pribumi tertua di dunia, setelah suku-suku Afrika." 

Sementara, seperti dimuat The Malaysian Insider, chief executive BiotechCorp, Datuk Dr Mohd Kamal Nazlee mengatakan, "genome Melayu tak hanya untuk orang Malaysia, tapi juga Indonesia, Thailand Selatan, dan Filipina. 

Keberhasilan Malaysia memetakan genom orang Melayu berarti kuasai peta genom Asia Tenggara


Peneliti dari Universitas Teknologi Mara (UiTM), Malaysia, berhasil memetakan genom orang Melayu, sebuah terobosan penting yang diharapkan bisa menghasilkan miliaran ringgit dari industri farmasi dan bioteknologi.
Chief Executive Officer Malaysian Biotech Corporation (BiotechCorp) Mohd Nazlee Kamal menyatakan peta genom ini bisa menghasilkan "sekitar RM2 miliar per tahun" atau sekitar Rp5,7 triliun.

Lompatan ilmu pengetahuan ini membuka jalan untuk pengobatan khusus atau pribadi di Asia Tenggara. Sebagaimana diketahui, warga Malaysia merupakan komposisi yang mewakili sejumlah negara tetangganya seperti Thailand, Indonesia dan Filipina.

"Populasi etnik Melayu berjumlah sekitar 200 juta orang di Asia Tenggara -- Malaysia, Indonesia, Thailand dan Filipina. Wilayah ini terlihat sebagai sebuah pasar menguntungkan karena kondisi rakyatnya yang makin sejahtera," kata Nazlee dilansir New Strait Times.

"Genom Malaysia sangat berharga untuk perusahaan obat dalam mengembangkan pengobatan yang dipersonalisasi, yang lebih efektif sehingga bisa ditargetkan untuk orang-orang yang memiliki jejak genetika yang sama."

Nazlee menjelaskan, kebanyakan obat yang dikembangkan sekarang sebenarnya tidak cocok dengan populasi lokal karena didesain untuk pasar Eropa.

Riset ini dilakukan atas tiga generasi keluarga Melayu menggunakan teknik yang sama dengan yang digunakan untuk mengidentifikasi genom orang Kaukasia dan Jepang. Proyek senilai RM150.000 ini sepenuhnya dibiayai UiTM dengan menggunakan peralatan dan teknologi BiotechCorp sejak Juni 2010 dan selesai tujuh bulan kemudian.

Sementara ketua peneliti Prof Mohd Zaki Salleh menyatakan, riset genom Melayu ini akan masuk dalam database Proyek Genom Manusia yang bisa diakses peneliti yang berminat. Dia juga mengungkapkan, Menteri Pendidikan Tinggi telah menyetujui grant RM8 juta untuk penelitian lanjutan atas populasi Orang Asli, suku asli Malaysia.

Hasil penemuan ini diumumkan Deputi Perdana Menteri Malaysia, Tan Sri Muhyiddin di kampus UiTM pada Selasa 27 Desember lalu. "Penemuan ini mendorong perkembangan, khususnya bioteknologi sebagai industri berpendapatan tinggi yang potensial," kata Muhyiddin.

Dia menyampaikan, BiotechCorp, badan utama negeri itu untuk bioteknologi, telah memfasilitasi 207 perusahaan berstatus BioNexus, dengan nilai investasi RM2,118 miliar, di mana tiga persen di antaranya terdaftar di bursa saham Malaysia, Australia dan Eropa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers