Kamis, 01 Desember 2011

Dari Shalat Ritual Menuju Shalat Aktual

Untuk pertama kali momentum Isra Mi’raj yang telah menjadi bagian yang mapan dari keagamaan umat islam Indonesia, kita peringati saat bangsa tengah di landa krisis, dari krisis ekonomi-moneter, krisis kepercayaan dan berbagai krisis lainnya.Bukan rahasia umum lagi, bila multidimensi krisis yang sekarang menghimpit bangsa ini bersumber kebobrokan moral (krisis iman, krisis aqidah) para elit (decision maker) kita pada rezim-rezim sejak Orla, ORba, bahkan yang katanya Reformispun penuh dengan hal-hal tersebut. Ini di tandai menjamurnya pennyakit KKN (koncoisme), pelanggaran HAM, dan berbagai tindakan inkonstitusional lainnya. Oleh karena itu reformasi total merupakan pilihan yang tidak bisa di tawar-tawar lagi, terutama di bidang politik, ekonomi, dan hukum.

Shalat, yang menjadi pilar utama rukun Islam dan merupakan ”buah tangan” Nabi Muhammad saw ketika melakukan Mi’raj dan “beraudiensi” langsung dengan Allah SWT, sebenarnya sarat dengan reformasi. Visi reformatif shalat, seara gamblang terutama dalam Al Qur’an: ”Sesungguhnya salat itu mencegah (kamu) dari melakukan perbuatan keji dan mungkar” (QS.29:45). Di samping itu, visi tersebut secara simbolik juga bisa di telusuri melalui syarat-syarat shalat, gerakan-gerakan shalat, dan shalat jamaah. Dari beberapa syarat shalat, paling tidak ada empat syarat yang cukup signifikan dan relefan dengan nuansa reformasi. Pertama, Bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari dimensi waktu, karena dengan waktu itulah roda sejarah hidup manusia bisa berjalan. Agar dapat mengikuti sejarah hidupnya, manusia dituntut untuk memahami waktu (lampu, sekarang, besok). Pengabaian terhadap waktu akan mengakibatkan manusia terisolasi dari sejarahnya, yang pada gilirannya akan melahirkan stagnasi karena tidak mengenal kedinamisan.Inilah makna simbolik dari mengetahui waktu ketika melaksanakan shalat. Sejarah kelam masa lalu harus dibuang jauh-jauh guna menyongsong masa depan yang lebih baik. Kedua, sebelum melaksanakan shalat, seseorang harus menyucikan diri dari segala bentuk najis (kotoran), baik raga, tempat, pakaian, maupun jiwanya. Makna simbul ini adalah, setiap muslim harus senantiasa suci ( bersih) dalam kehidupannya. Dengan demikian, seorang muslim seharusnya dapat terhindar dari segala bentuk kenegatifan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, manipulasi, prostitusi dan lain-lainnya. Ketiga, menutup aurat, yaitu menutup bagian tubuh yang seharusnya tidak di perkenankan terlihat. Syarat ini merupakan etika dalam hal pakaian saat menghadap Tuhan. Jika setiap hari dilatih untuk menerapkan etika ini, maka seseorang akan terbiasa dengan kehidupan yang indah dan bersih. Keempat, orang yang akan mengerjakan shalat secara formal diwajibkan menghadap ke kiblat di Mekkah. Selain menunjukan gerak orbital, shalat menghadap ke kiblat secara simbolik menunjukan adanya kesatuan dan kekompakan umat islam, yang pada gilirannya akan membentuk satu kesatuan umat manusia ( Wahdah al-ummah, unity of mankind ), Kesatuan ini terwujud karena konsesus dan kebersamaan ummat yang terlihat ketika shalat dengan menyembah Tuhan yang sama, menghadap kiblat yang sama, melakukan gerak yang sama, dan meneladeni nabi yang sama. Dari sini, maka menjamurnya partai politik berbasis islam, harus mengedepankan arti penting kesatuan dan persatuan umat untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik.


Simbol Gerakan Shalat

Berikut uraian makna Gerakan Sholat mudah-mudahan menjadikan ibadah Sholat Semakin Mantap :

1. Takbiratul Ihram (Awal dan Akhir) Pengawalan segala sesuatu, sebagaimana hidup dimulai kelahiran, sesuatu yang ada pasti ada awalnya. Dengan keimanan kita yakin bahwa semuanya berawal dari Allah. Maka dengan takbir kita mengembalikan kepada segala aktivitas kita adalah karena Allah, ujung rantai dari awal segala awal, tidak karena guru, orang tua, orang lain (rantai pengetahuan bahwa kita harus Sholat) atau karena rantai rasa takut, rasa terpaksa, tapi karena ujung rantai rasa itu sendiri Allah sang Pencipta Rasa. Takbiratul Ihram sebagai starting point Sholat, simbol starting perjalan hidup. Maknanya penyerahan totalitas pada yang Maha Awal bahwa karenaNya ada dan karenaNYa melakukan perjalanan hidup. 

2. Berdiri (Gerak Perjalanan) Berdiri lambang siap berjalan menjelajahi kehidupan, karena kalo duduk tidak mungkin berjalan, Tegak artinya kehidupan harus ditegakkan (ditumbuhkan) pada ruang waktu, iman harus ditegakkan, akhlak harus ditegakkan, amalan pribadi dan amalan sosial harus ditegakkan. Hadist : Sholat adalah tiang agama (agama didirikan/ditegakkan oleh sholat). Sebagaimana pohon tegak lalu pada titik ketinggian optimum kemudian berbuah. Dalam perjalanan itu kita memakan energi di bumi lalu diproses dengan aturan hukum Allah dan memeliharanya supaya tidak dirusak hama/penyakit untuk menghasilkan buah (hakikat hidup). Buah itu untuk bekal perjalanan kehidupan selanjutnya. Tanpa tegak ruang hidup tidak ada, karena tegak, maka ada titik atas dan bawah dalam satu garis dan bergerak sehingga menciptakan ruang. Sederhananya karena kita berdiri tinggi atap rumah kita tidak kurang dari 1 m, tapi bahkan lebih tinggi dari badan kita. Sehingga ada ruang rumah yang harus diisi. Begitu juga hidup jasmani dan ruhani kita harus ditegakkan dan ruang yang dihasilkannya harus diisi dengan keimanan, amal kebaikan, kesholehan, pengabdian yang iklas kepada Allah, dsb. Dalam tegak berdiri, posisi kepala tunduk, artinya dalam perjalanan hidup akan tunduk dan patuh pada segala Hukum dan Kehendak Allah bebas dari rasa kesombongan diri. Kedua tangan memegang ulu hati, simbol bahwa hati akan selalu dijaga kebersihannya dalam perjalanan hidup. 

3. Rukuk (Penghormatan) Mengenal Allah lewat hasil ciptaanNya . Dalam perjalanan hidup, pada ruang ciptaan Allah kita menemukan, menyaksikan dan merasakan bermacam-macam hal : tanah, air, gunung, laut, hewan, sistem kehidupan, rantai makanan, rasa senang, rasa sedih, rasa marah, kelahiran, kematian, pertengkaran, percintaan, ilmu alam, pikiran, manusia sekitar kita, Nabi Rosul , dsb pokoknya semua yang kita tahu dan kita rasa. Ini bukti bahwa Allah itu Ada sebagai Pencipta dari semua itu. Dan kita tahu apabila tanpa petunjuk para Utusan Allah (Nabi dan Rosul) kita tidak akan tahu jika semua itu ciptaan Allah, dan dengan para UtusanNya kita tahu tujuan arah hidup serta cara mengisi hidup agar selamat. Sebagai contoh : suku primitif tanpa adanya bimbingan Agama, sesuai fitrah manusia tetap mengamati alam dan menyimpulkan bahwa ada yang menciptakan, tapi tidak tahu siapa Sang Pencipta sebenarnya, sehingga diekspresikan pada penyembahan batu, patung yang dianggap memiliki kekuatan pencipataan. Jadilah kita menghormati , Para Utusan Allah (Rosul, Nabi, Malaikat) yang telah mengenalkan Allah pada kita serta menghormati langit bumi berserta isinya, serta termasuk kepada siapa yang mengenalkan Tuhan kepada kita seperti orang tua, guru. Penghormatan sebagai rasa terimakasih kita bahwa kita jadi tahu Tuhan itu seperti apa. Dalam penghormatan juga sebagai dinyatakan keinginan berpartisipasi untuk ambil bagian dalam pemeliharaan Ciptaan Allah ini dan tidak ingin merusaknya. 

4. Itidal (Puja-puji pada Allah) Kemudian kita berdiri lagi untuk mengisi perjalanan hidup dengan penuh puja dan puji pada Allah serta penuh syukur setiap saat sehingga tercipta kepatuhan dan ketaatan. Dengan mengetahui hasil ciptaan Allah maka akan tumbuh kekaguman dan kecintaan pada Allah sehingga tumbuh rasa cinta dan iklas atau dengan senang hati menjalani hidup sesuai Kehendak Allah. 

5. Sujud (penyatuan diri dengan Kehendak Allah) Jika berdiri di analogikan dengan perjalan jasadi maka Sujud dengan kaki dilipat, atau setengah berdiri adalah simbol dari perjalanan hati (rohani). Dangan sujud hati dan fikiran kita direndahkan serendahnya sebagai tanda ketundukan total pada segala kehendak Allah dan mengikuti segala kehendak Allah. Menyatu kan kehendak Allah dengan Kehendak kita. Contohnya : Allah maunya kita Sholat, ya ane juga mau Sholat, kalo kata Allah jangan lakukan ya ane juga tidak akan lakukan, Kalau Allah tidak suka ya ane juga tidak suka, Kalau Allah cinta atau suka ya ane juga cinta dan suka pokoknya akin selalu sama (dan sehati) tidak akan sedikitpun bertentangan. Dengan merekatkan kepala pada bumi dimana bumi adalah asal, tempat hidup dan tempat akhir hidup. Di bumi kita lahir di bumi kita menjalani waktu kehidupan, di bumi kita berladang amal, bumi menjadi saksi seluruh hidup kita, di bumi kita mati, di bumi kita dihukum (alam kubur). Merekatkan diri ke Bumi, bahwa awal dan akhir manusia dari dan ke bumi, berharap pada saat kematian keadaan diri kita sama saat dengan saat dilahirkan, yaitu dalam keadaan suci, sehingga bisa bertemu Allah. Sujud dilakukan 2 kali dimaknai Sujud pertama : penyatuan Kehendak Allah dengan Kehendak ruhani/hati/jiwa. Diselangi permohonan pada duduk antara 2 sujud Sujud kedua : pernyataan Pengagungan Dzat Nya Allah personal antara makhluk dan Sang Pencipta, pernyataan ingin kembali pada Sang Pencipta akhir dari perjalanan. 

6. Duduk antara 2 Sujud (Permohonan) Pengungkapan berbagai permohonan pada Allah untuk memberikan segala kebutuhan yang diperlukan dalam bekal perjalanan menuju pertemuan dengan Allah, butuh sumber dukungan hidup jasmani dan ruhani, serta pemeliharaan dan perlindungan jasmani ruhani agar tetap pada jalan Allah. 

7. Attahiyat : Pernyataan Ikrar Tahap pemantapan, Karena perjalan hidup itu naik turun dan fitrah manusia tidak lepas dari sifat lupa maka perlu pemantapan yang di refresh dan diulang untuk semakin kokoh. Yaitu Ikrar Syahadat, dengan simbol pengokohan ikrar melalui telunjuk kanan. Sebelum Ikrar memberikan penghormatan untuk para Utusan Allah dan Ruh Hamba-hamba Sholeh (Auliya) yang melalui merekalah kita mengenal Allah juga melalui ajaranya kita dibimbing menujuNya dan menjadikan mereka menjadi saksi atas Ikrar kita. Sholawat menjadi pernyataan kebersediaan mengikuti apa yang diajarkan Rosululloh Muhammad SAW, dan menempatkannya sebagai pimpinan dalam perjalanan kita. Salam penghormatan kepada Bapak para Nabi Nabi Ibrohim yang menjadi bapak induk ajaran Tauhid. Kemudian diakhir dengan permohonan doa dan permohonan perlindungan dari kejahatan tipuan Dajal / Iblis untuk menjaga perjalanan tetap pada keselamatan dan berhasil mencapai Allah. 

8. Salam, salam adalah ucapan yang mengakui adanya manusia lain yang sama-sama dalam perjalanan (aspek kemasyarakatan) menunjukkan bahwa hidup ini tidak sendiri, sehingga hendaknya menyebarkan salam dan berkah kepada sesama untuk saling bahu membahu menegakkan kehidupan yang harmonis (selaras) dan tegaknya kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan di bumi Allah. Salam adalah penutup sekaligus awal dari mulainya praktek aplikasi Sholat dalam bentuk aktivitas kehidupan di lapangan hingga ke Sholat berikutnya. Nah salam itu simbol dari putaran yang dimulai dari kanan ke kiri dengan poros badan. Jika dihubungkan dengan Hukum Kaidah Tangan Kanan berarti arah energi ke atas, simbolisasi bahwa perjalanan digantungkan pada Allah SWT (di atas) sebagai penjamin keselamatan dalam perjalanan. SHOLAT PENUH 24 JAM SEHARI SEMALAM jika kembali pada pemahaman Takbiratul Ihram di atas takbiratul ihram simbol dari pernyataan awal perjalanan, maka kita akan bertanya kapan akhirnya. Allah itu Maha Awal = Maha Akhir karena Sholat dipersembahkan pada Allah yang Maha Awal = Maha Akhir, maka akhir dari Sholat akan bertermu pada takbiratul ihram Sholat berikutnya. Atau misalnya Takbiratul Ihram Sholat subuh Sholat periode itu (Sholat + praktek aplikasi Sholat (aktivitas hidup) akan berakhir pada takbiratul ihram Sholat dzuhur. Kemudian seterusnya Sholat dzuhur dimulai Takbiratul Ihram Sholat dzuhur hingga takbiratul ihram Sholat Ashar terus berlanjut sehingga menjadi rantai yang tidak terputus dalam 24 jam berupa Sholat.

Jika dihitung secara matematis, maka keseluruhan gerakan shalat menunjukkan angka 360º derajat, angka yang menunjukkan gerakan orbital. Penghitungan 360 derajat di dapat dari akumulasi lima tahap gerak shalat. Tahap pertama adalah sikap berdiri sempurna, sejajar dengan bidang vertikal. Tahap ini menunjukan sudut nol derajat. Tahap kedua adalah sikap ruku sempurna yang akan membentuk proyek sudut siku-siku 90 derajat terhadap bidang vertikal. Tahap ketiga adalah sikap sujud pertama sempurna yang akan membentuk proyeksi sudut tumpul sebesar 135 derajat terhadap bidang vertikal. Gerakan melingkar adalah gerakan alam semesta yang terus menerus, bagaimana telah dijelaskan pada simbol menghadap kiblat.

Gerakan shalat dapat menggambarkan simbol kepemimpian yang idial. Kepala yang di dalamnya terdapat otak menjadi koordinator aktifitas tubuh manusia. Saat shalat, kepala harus bergerak keatas (saat berdiri ), ditengah ( saat ruku’), dan di bawah ( saat sujud ). Hal ini berarti, seorang pemimpin apa pun posisinya harus memperhatikan aspirasi rakyatnya, baik menyangkut kelas bawah, kelas menengah, maupun kelas atas. Dia seharusnya dapat bermusyawarah dengan rekan ( rakyat )-nya di kalangan atas secara demokratis. Dia seharusnya melihat dan mendengar suara rakyat kelas menengah. Dia juga seharusnya “ turun “ untuk memperhatikan keawaman dan kemiskian rakyat bawah, mendengarkan rintihan dan usulan wong cilik dan memikirkan solusi problematika mereka. Selanjutnya, gerakan shalat juga dapat menjadi simbul budi pekerti manusia seperti, ihklas, sabar, rendah hati, tidak arogan dan sebagainya. Ihklas dapat diketahui dengan gerakan tubuh misalnya gerakan kaki yang hanya dapat di lipat ke belakang. Alur kehidupan dan gerakan orbital, seperti yang telah di jelaskan di muka, berlangsung relative pelan, sehingga shalat harus di kerjakan dengan sabar ( tidak tergesa-gesa ). Gerakan kepala yang harus turun sampai ke tanah menunjukan simbuk rendah hati dan arogan.


Simbol Shalat Jama’ah



Shalat jama’ah merupakan simbul atau miniatur masyarakat. Imam shalat di analogikan dengan pemimpin masyarakat, sedangkan ma’mum dianalogikan dengan anggota mansyarakat. Shalat jemaah menggambarkan mekanisme kehidupan masyarakat. Seorang imam shalat mempunyai kriteria tertentu, seperti sanggup menunaikan shalat , mengetahui aturan shalat jemaah, berakal sehat, mampu membaca Al-Qur’an dengan benar , orangnya soleh ( baik terhindar dari maksiat ) dan disetujui oleh ma’mum. Syarat-syarat tersebut mengindikasikan kapabilitas dan akseptibilitas, seorang pemimpin. Artinya , seorang pemimpin seharusnya sanggup melaksanakan tugasnya , berakal sehat , dapat menjadi contoh yang baik dan di sepakati oleh masyarakat bawahnya. Makmum dianalogikan dengan anggota masyarakat atau bawahan. Ma’mum berada di belakang imam, meluruskan dan merapatkan barisan ( shaff ) , mempunya niat ikhlas untuk mengikuti gerak-gerak Imam , makmum pria berada di bagian depan , anak-anak di tengah, dan wanita di bagian belakang. Dari hal-hal tersebut di atas dapat di ketahui, anggota masysarakat atau bawahan menempati posisi lebh bawah daripada pemimpin. Mereka harus melaksanakan pekerjaan dengan lurus (benar) dan bersatu (bergotong royong). Mereka seharusnya bersedia dengan rela mengikuti dengan benar dari pemimpinnya. Anggota masyarakat mempunyai posisi (status) masing-masing. Heteroginitas makmum menggabarkanheteroginitas masyarakat.

Gerakan shalat jamaah merupakan gerakan kolektif, yakni gerakan yang di lakukan bersama-sama setelah imam memberikan contoh. Kebersamaan ini merupakan simbol persatuan dan persatuan yang seharusnya di galang dengan gotong-royong dan saling membantu.

Gerakan tersebut juga mengindikasikan keteladanan para pemimpin, yaitu ketika imam bergerak lebih dahulu daripada makmum. Dengan demikian , Seorang pemimpin harus ing ngarsa sung tuladha , ing madya mangun karsa , tut wuri handayani ( memberi contoh waktu di depan, memberi semangat waktu di tengah , dan memberi doarestu waktu di belakang ).

Jika imam melakukan suatu kesalahan bacaan maupun gerakan, maka makmum harus mengingatkannya. Makmum mengingatkan bacaanyan bila kesalahan pada bacaan, dan jika kesalahan pada gerakan, maka makmum pria mengingatkannya dengan bacaan subhanallah ( Maha Suci Allah ), dan makmum wanita mengingatkannya dengan tepuk tangan sekali. Hal tersebut kontrol sosial atau kritik sosial dari rakyat (wakil rakyat ) terhadap pemimpinnya. Kontrol atau kritik itu di lakukan dengan “suara”atau”gerakan” ( demontrasi ) yang kontruktif dan argumentatif . Dalam hal ini pwmimpin (imam) harus peka dan sadar terhadap kritik sosial.Apabila imam melakukan suatu yang membatalkan shalat ( misalnya kentut ), maka ia harus menyingkir untuk berwudhu, kemudian makmum yang berdiri di belakangnya maju selangkah untuk menggantikan dan melanjutkan kepemimpinannya dalam shalat. Hal ini menjadi suksesi atau regernerasi kepemimpinan. Imam yang batal shalatnya berarti dia tidak mampu ( tidak sah ), dan memang tidak boleh melanjutkan dalam shalatnya. Jika seorang tidak mampu (inkontitusional) atau tidak pantas memimpin, maka seharusnya ia lengser dari jabatan dengan sadar dan ikhlas. Penggantinya adalah orang yang paling dekat dengannya , yaitu dekat tempat, jabatan maupun kemampuannya. Dari uraian tentang makna simbolik dalam shalat di atas, dapat di ambil dua kesimpulan penting.

  • Pertama, sebenarnya shalat sarat dengan muatan visi reformatif, seperti demokratisasi, solidaritas sosial, keadilan, kesederajatan, kedisiplinan, kesabaran, kejujuran, keseriusan, keteledanan, kepemimpinan yang ideal dan sebagainnya.
  • Kedua, sebagai umat islam hendaknya tidak hanya “mengerjakan shalat “, tetapi juga harus meningkat pada level “menegakan shalat “ , yakni mengerjakan shalat dengan benar kemudian menerjemahkan makna simbolik shalat dalam kehidupan kongkrit sehari-hari. Seiring dengan gaung reformasi marilah kita jadikan momentum Irsa Mi’raj tahin ini untuk kembali mengadakan perenungan-perenungan, sudahkah kita “mentegakan shalat”? Kalau belum, saat inilah yang paling tepat untuk mereformasi shalat kita, dari “shalat ritual “menuju “shalat aktual”. Yang di maksud dengan shalat aktual adalah shalat ritual yang telah diterjemahkan dalam realitas empiric. ***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers