Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

Surat Einstein Tentang Tuhan


Ditulis untuk membantah kliam seorang filsuf Yahudi, Eric B. Gutkind.


klik!

Albert Einstein diakui sebagai fisikawan terbesar di abad ke-20. Seorang jenius yang dari pikirannya tercipta banyak ide brilian di bidang fisika dan matematika. Spesimen otaknya bahkan jadi obyek penelitian para ilmuwan yang ingin menguak kecerdasannya. 

Selain otaknya itu, ada sebuah surat yang menguak pemikiran Einstein. Tentang pertanyaan manusia yang paling mendalam: keberadaan Tuhan.

Surat pribadi yang ditulis Einstein, tentang pandangannya tentang Tuhan dan agama akan dilelang Senin 8 Oktober 2012 di eBay. Dalam suratnya itu ia menyebut, keputusan seseorang untuk memeluk agama dan meyakini Tuhan adalah "kekanakan", dan anggapan bahwa Yahudi adalah orang-orang terpilih sebagai "konyol". 

"Ini adalah obyek paling bersejarah dan penting yang pernah dilelang dalam eBay," kata  Eric Gazin, direktur Auction Cause, agensi lelang kepada LiveScience. "Kami sangat bangga bisa menawarkan pada individu atau organisasi sebuah dokumen yang paling menarik dari abad ke-20. Surat pribadi Einstein yang mengaitkan ilmu pengetahuan, teologi, logika dan budaya."

Surat itu ditulis tangan oleh Einstein untuk seorang filsuf Yahudi,  Eric B. Gutkind pada 3 Januari 1954, setahun sebelum kematian Einstein. Sebagai respon dari buku Gutkind, "Choose Life: The Biblical Call to Revolt".

"Bagiku, agama Yahudi sama dengan agama lain, sebagai inkarnasi dari mitos yang kekanakan,"kata Einstein dalam suratnya. 

Ia juga tak melihat bangsa Yahudi sebagai orang-orang terpilih, klaim mereka selama ini. "Orang-orang Yahudi tidak punya perbedaan kualitas dengan kelompok lainnya. Sejauh pengalamanku, mereka juga tidak lebih baik dari lainnya."  

Konteks surat Einstein adalah untuk membantah klaim Gutkind dalam bukunya, yang menyebut hipnotis massal merusak umat manusia saat itu. Kecuali jiwa orang Yahudi, bahwa jiwa orang Israel tak bisa dihipnotis. 

Jadi, apakah Einstein percaya Tuhan? Jawabannya, bisa ya, bisa juga tidak. 

Dalam surat berbeda yang ditulis 24 Maret 1954, Einstein menulis, "Itu jelas sebuah kebohongan, saat Anda membaca soal keyakinan agamaku. Sebuah kebohongan yang diulang-ulang secara sistematis," tulis Einstein. 

"Aku tak meyakini Tuhan secara personal, juga tidak pernah menyangkalnya. Aku tak pernah menyatakannya secara jelas. Jika ada sesuatu dalam diriku yang bisa disebut sebagai agama, itu adalah kekaguman tak terbatas pada struktur alam semesta, yang bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan." 

Kembali ke suratnya pada Gutkind,  Einstein menulis, "Tuhan tak lebih dari ekspresi dan produk kelemahan manusia." 

Tulisan Einstein yang dikenal dengan 'Surat Tuhan" bukan kali pertamanya dilelang. Pada 2008, seorang pembeli anonim membeli surat itu dari Bloomsbury Auctions di London seharga  US$$404 ribu, 25 kali lipat dari harga yang ditawarkan, menurut artikel New York Times. Harganya kini melonjak, nilai pembuka dalam lelang yang akan dibuka 8 Oktober adalah US$3 juta. 

Surat itu kini disimpan dalam kondisi suhu lingkungan dengan cahaya dan kelembaban yang dikendalikan oleh sebuah institusi yang khusus  merawat koleksi warisan budaya.

Karena surat tersebut telah diketahui kalangan ilmuwan selama 50 tahun, belum ada pertanyaan soal keasliannya. Amplop otentik surat itu memuat perangko dan cap pos dari Princeton, di mana Einstein tinggal hingga menghembuskan nafas terakhirnya.

LiveScience

Jumat, 04 Mei 2012

Fenomenologi


Fenomenologi adalah studi mengenai bagaimana manusia mengalami kehidupan di dunia. Studi ini melihat objek dan peristiwa dari objek dan peristiwa dari perspektif orang yang mengalami. Realitas dalam fenomenologi selalu merupakan bagian dari pengalaman sadar seseorang. Pendekatan ini merupakan suatu langkah maju terhadap aliran yang menganggap bahwa suatu realitas terlepas dari kesadaran atau persepsi manusia. Maurice Merleau-Ponty, seorang fenomenologis terkenal, mengungkapkan pandangannya sebagai berikut :


"Seluruh pengetahuan saya tentang dunia, bahkan pengetahuan ilmiah saya, diperoleh dari sudut pandang saya sendiri, atau dari beberapa pengalaman yang tanpa menggunakan sudut pandang saya sendiri akan menyebabkan simbol-simbol ilmiah menjadi tidak berarti ..... Untuk kembali kepada hal-hal tersebut adalah kembali kepada dunia yang mendahului pengetahuan, dimana pengetahuan selalu bicara."

Dengan kata lain, fenomenologi menempatkan pengalaman nyata sebagai data dasar dari pengetahuan. Fenomenologi menghindari penerapan ketentuan kategori teoritis. "Fenomenologi berarti membiarkan segala sesuatu mengungkapkan dirinya sendiri, tanpa memaksakan kategori kita kepada mereka".

Stanley Deetz mengemukakan tiga prinsip dasar fenomenologi :

  1. Pengetahuan haruslah sadar, pengetahuan tidak disimpulkan dari pengalaman, tetapi diekspresikan dalam pengalaman sadar itu sendiri.
  2. Makna diberikan pada sesuatu atas dasar potensinya bagi tindakan seseorang. Bagaimana seseorang berhubungan dengan suatu objek akan menentukan makna tersebut. Seikat kunci misalnya, akan menjadi penindih kertas ketika seseorang melihat potensinya sebagai suatu benda yang cukup berat.
  3. Bahasa merupakan perantara bagi munculnya makna, kita mengalami banyak hal melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan dan mengungkapkann hal-hal tersebut. Kita mengalami banyak hal melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan dan mengungkapkan hal-hal tersebut. Kita tahu bahwa itu adalah sebuah kunci karena berbagai atribut yang diberikan pada benda tersebut: untuk mengunci, membuka, terbuat dari logam, berat dan sebagainya.

Fenomenologi terbagi ke dalam dua kubu, Perintis fenomenologi modern, Edmud Husserl, mengajarkan bahwa fenomenologi dapat menjadi suatu disiplin ilmu, yaitu dengan menggunakan kesadaran yang jernih, orang dapat mengungkap kebenaran. Pada kubu lainnya, Martin Heidegger mengajarkan bahwa pengetahuan yang pasti adalah tidak mungkin dan bahwa manusia tidak dapat memisahkan diri mereka dari pengalaman subjektif mereka.

Rabu, 11 April 2012

FENOMENA EVOLUSI

LOGOSENTRIS

"Logos adalah `ilusi' kesempurnaan"

Esensi utama yang dijelaskan/dimaksudkan oleh analogi selamanya akan tetap sama, walaupun logos-logos yang mewakili/membentuk sinerginya berubah-ubah. Demikian pula dengan Analogi Sempurna kisah Adam dan Hawa, yang menjelaskan Sinergi Sempurna. Penjelasan tentang esensi ego, secara tidak langsung dapat menjelaskan bahwa esensi elemen/logos Adam maupun Hawa, bukan/tidaklah untuk diterjemahkan secara harfiah sebagai logos mandiri "bentuk fisik manusia" (sebagaimana proyeksi logos ego penerjemah), melainkan bagian kesatuan yang membentuk sinergi (kesempurnaan) – Yang Satu.



Teori Darwin (sesungguhnya) tidak memiliki efek/ilusi `mengguncang' iman/agama/esensi Tuhan, jika saja ego melepaskan bentuk keterikatan pemaknaan atas logos-logos/bentuk-bentuk fisik - proyeksi `ilusi' - medium pemahamannya. Namun, benarkah evolusi (fisik) makhluk hidup tidak/belum dijelaskan oleh manifestasi/esensi Kausa Prima dalam kisah Adam dan Hawa?

EVOLUSI

"Akhir menjelaskan Awal""

"Sains tanpa agama lumpuh, agama tanpa sains buta" ---Albert Einstein

Berikut penjelasan sederhana kronologi asal-muasal (evolusi) kehidupan yang dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern:

1. Pada awalnya adalah Big-Bang (dentuman besar) yang melemparkan bola-bola api (raksasa) yang bercahaya/berpijar.



2. Bumi terbentuk ketika tata surya muncul sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu. Semula ia adalah massa bercahaya, yang lambat laun mendingin (membentuk bagian daratan/tanah dan/air).

3. Pada awalnya, tidak ada oksigen dalam atmosfir bumi, dan ini merupakan hal yang penting oleh karena mustahil sel-sel kehidupan yang dapat membentuk DNA – dapat muncul dalam suatu atmosfir yang mengandung oksigen, sebab oksigen sangat reaktif dan akan mengoksidasi sel-sel molekuler DNA sebelum bisa membentuk molekul kompleks DNA. Setidaknya ada 2 syarat yang harus terpenuhi pada awal pembentukan DNA:

- Tidak boleh ada oksigen diatmosfir
- Harus ada jalan masuk bagi radiasi kosmik

Karena tidak ada oksigen di atmosfir maka tidak ada lapisan ozon yang melindungi Bumi sehingga radiasi kosmos (bersumber dari api+cahaya) bisa membentuk membentuk molekul kompleks yang pertama di muka Bumi. Radiasi kosmik semacam itu merupakan energi aktual yang menyebabkan berbagai substansi kimia diatas bumi bergabung menjadi makromolekul yang rumit.

Dalam sup primal/sup purba (di planet bumi), pernah terbentuk suatu makromolekul yang amat-sangat rumit, yang mempunyai kemampuan untuk membagi dirinya sendiri menjadi 2 bagian yang identik. Materi turunan, DNA atau sel hidup pertama yang terus-menerus membagi dirinya – yang selanjutnya mengalami transmutasi. Setelah masa ribuan tahun lewat, salah satu organisme bersel satu berhubungan dengan organisme bersel banyak yang lebih rumit.


4. Terjadilah/Dimulailah proses fotosintesis tanaman yang mengisi/membentuk atmosfir (dengan oksigen) - kehidupan dimulai di 'lautan'/sup primal sebelum atmosfir terbentuk dengan sempurna (terisi oleh cukup oksigen). Disana "ia" dapat berlindung dari cahaya-cahaya/radiasi-radiasi yang berbahaya. Terisinya atmosfir dengan oksigen memungkinkan terjadinya evolusi binatang yang bernafas dengan bantuan paru-paru (amfibi-amfibi pertama merangkak keluar keluar ke daratan dan memulai proses evolusi makhluk-makhluk darat selanjutnya, termasuk manusia). 


5. Atmosfir melindungi kehidupan dari keberadaan radiasi kosmik yang berbahaya, anehnya radiasi tersebut, yang (barangkali) merupakan faktor/tanda/elemen penting dalam pembentukan sel pertama, juga membahayakan bagi seluruh bentuk kehidupan.



Berikut penjelasan sederhana kronologi asal-muasal (evolusi) kehidupan (manusia) yang dijelaskan oleh agama:

1. Pada awalnya Tuhan (=Big-Bang) menciptakan Malaikat dari cahaya dan Iblis dari api, manifestasi/proyeksi – YANG SATU ((bola) api+cahaya).

2. Tuhan mengambil segumpal tanahH/air* (=BUMI).

*Dalam Al-Quran (yang saya baca) ditambahkan `mani', yang saya kira hanyalah bentuk upaya "pemaksaan" dilibatnya logos "manusia"?

3. Adam belum tercipta sebelum Tuhan meniupkan dengan nafasnya (oksigen), yang ada hanyalah TUHAN beserta/melalui elemen-elemen proyeksi/manifestasinya yaitu (bola) api + cahaya => radiasi kosmik/kosmos. (yang sibuk dengan eksperimen-eksperimen/penciptaan-penciptaan selama beberapa hari (menurut JAM-beliau dalam kitab suci agama - ribuan tahun waktu manusia?*) …saya curiga, mungkin Tuhan sedang `menggagas' bentuk DNA-mu).

* …lagi pula, apa sih yang sesungguhnya ego ketahui tentang waktu kecuali melalui acuan logos "manusia"nya?

4. Tuhan meniupkan nafasnya (yang saya yakini mengandung oksigen) pada tanah/air yang digenggamnya (=proses foto sintesis di permukaan bumi) sehingga terciptalah Adam (= kehidupan makhluk darat, termasuk "manusia").

5. Tuhan (Agama) melindungi kehidupan dari keberadaan ilusi dualitas (kebaikan+ kejahatan) yang berbahaya, anehnya ilusi dualitas tersebut, yang (barangkali) merupakan faktor/tanda/elemen penting dalam pembentukan peradaban awal (=sel pertama), juga membahayakan bagi seluruh bentuk kehidupan.

Pertanyaan untuk/bagi para pakar ilmu pengetahuan modern (yang sudah memasuki senjakala) :

Apa dan/atau bagaimana, anda harus menjelaskan secara sempurna teori evolusi modern kepada pada umat manusia yang hidup ribuan tahun yang lalu?

…' Where are you coming from, human-killer, and where are you going, space-conqueror?


Minggu, 08 April 2012

KAUSA SINERGI


"Sinergi adalah bentuk kesempurnaan"

Synergy
Paradoks sempurna, akan senantiasa menjelaskan bahwa segala fenomena terjadi atas kehendak-NYA atau merupakan bentuk/manifestasi kesempurnaan-NYA. Dualitas sempurna, akan senantiasa menjelaskan esensi kesempurnaan Pencipta dan ciptaannya Yang Satu. Hakekat kisah Adam dan Hawa adalah berasal dari Tuhan, dan/atau menjelaskan esensi kesempurnaan Tuhan. Berawal dari Sang Sempurna dan/untuk kembali kepada Sang Sempurna – Sinergi Sempurna - Yang Satu. Sinergi merupakan realitas (bentuk/manifestasi) Kesempurnaan yang sesungguhnya.

Esensi kesempurnaan kisah Adam dan Hawa tidak terletak pada satu, atau lebih manifestasi-manifestasi logos-logos maupun kronologi-kronologi/kejadian-kejadian per penggalan-penggalan cerita, melainkan sinergi - Yang Satu atas/dalam keseluruhan cerita.

Pemahaman secara menyeluruh kisah Adam dan Hawa (sebagai satu sinergi) akan sekaligus bisa mengakhiri bentuk-bentuk paradoks manifestasi Tuhan, yang senantiasa bisa ditemukan dan/atau dikomparasikan atas/melalui pertautan dan/atau perbandingan satu atau lebih manifestasi kesempurnaan-NYA, per penggalan-penggalan/kronologi-kronologi/kejadian-kejadian cerita.

Secara tidak disadari, dogma-dogma/keyakinan-keyakinan yang dibentuk melalui pemahaman secara tidak menyeluruh atas kisah Adam dan Hawa, (sesungguhnya) sekaligus berkonotasi pada `Tuhan yang bodoh'.

"Jika benar bahwa hakekat/esensi kehidupan manusia adalah bentuk `hukuman' akibat kesalahan yang dilakukan oleh Adam dan Hawa, mengapa Tuhan sejak awal menciptakan Hawa (yang sekaligus dinubuatkan untuk menyempurnakan esensi Adam)? Bagaimana mungkin Sang Maha Mengetahui tidak tahu bahwa kelak Hawa akan membuat Adam melakukan pelanggaran atas larangan-NYA (sehingga dihukum/diturunkan kedunia)?

1. Tuhan memang cukup bodoh untuk tidak tahu.
2. Segala sesuatu terjadi atas kehendak-NYA; bahwa Adam dan Hawa (manusia) memang dikehendaki untuk `diturunkan' kedunia. Bahwa stigma `hukuman' atas esensi kehidupan merupakan bentuk `ilusi' pemahaman manusia atas manifestasi kesempurnaan-NYA.

Bagaimana mungkin Sang Maha Berkehendak tidak menghendaki Adam dan Hawa untuk melanggar larangannya (memakan buah terlarang)? Bagaimana mungkin Adam dan Hawa bisa melakukan sesuatu diluar kehendak Sang Maha Berkehendak? Bukankah hal tersebut menjelaskan bahwa Adam dan Hawa adalah sekaligus (Sang) Maha Berkehendak bagi/atas keberadaan mereka? Bukankah dualitas sempurna (Tuhan manusia-manusia Tuhan yang sama-sama (Maha) berkehendak) masih berlaku bahkan setelah terciptanya Hawa? Bukankah "kebebasan untuk memilih" merupakan hakekat dasar Adam dan Hawa? Hakekat dasar manusia? Bukankah `hukuman' merupakan bentuk `ilusi' atas keterbatasan pemahaman ego memahami esensi/manifestasi kesempurnaan-NYA - Yang Satu?

contoh konsep sinergi
Melalui bentuk pemahaman sinergi, akan tampak bahwa keterbatasan pemahaman manusia lah yang (sesungguhnya) menciptakan bias dalam menerjemahkan manifestasi kesempurnaan Tuhan. Contoh inkonsistensi bentuk pemahaman ego, manusia yang mutlak memisahkan esensi kesempurnaan dan ketidaksempurnaan atas esensi Tuhan dan manusia (pengingkaran bentuk dualitas sempurna) adalah sebagai berikut:

Kelompok-kelompok tertentu meyakini dogma yang menyebutkan, bahwa hidup adalah bentuk kutukan/hukuman atas kesalahan/pelanggaran yang dilakukan oleh Adam dan Hawa (manusia) terhadap Tuhan. Anehnya, kelompok-kelompok bersangkutan umumnya sekaligus sangat meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan. Manusia? atau kehendak Tuhan terhadap/kepada manusia yang salah?

Esensi kesempurnaan (Tuhan) selamanya tidak akan bisa dipahami melalui `ilusi' pemahaman dualitas yang secara mutlak memisahkan esensi kesempurnaan Sang Pencipta (yang sempurna) dan ciptaannya/manusia (yang tidak sempurna). Esensi kesempurnaan kisah Adam dan Hawa, tidak akan bisa dipahami melalui bentuk keterikatan pemahaman atas logos per logos dan/atau kejadian per kejadian, kecuali melalui bentuk pemahaman sinergi atas keseluruhan relasi-relasi logos-logos/elemen-elemen, kronologi-kronologi/kejadian-kejadian serta alur cerita - Yang Satu.

Kesempurnaan adalah hakekat Kausa Prima sementara kesempurnaan sinergi menjadi hakekat bagi/atas manusia (setelah terpecahnya ego tunggal/dual menjadi ego-ego yang lain/ego individu. Pemahaman sinergi, adalah pemahaman Sempurna.

MASKULINITAS

"Ego pria mengawali sinergi"

Mengapa (ego) manusia memahami Adam sebagai seorang pria sejak awal penciptaan?

Peradaban umat manusia diawali oleh bentuk dominasi/superioritas kaum pria/laki-laki terhadap kaum wanita. Kekuatan fisik kaum pria yang jauh lebih unggul dibanding kaum wanita, menjadi faktor utama bagi keberadaan proyeksi (ilusi) dualitas tinggi-rendah posisi ego (esensi dasar pemahaman pria), yang menempatkan posisi (ego) kaum wanita dibawah (ego) mereka. Dominasi tersebut sekaligus menjelaskan mengapa sejak awal Adam penciptaannya (Tuhan manusia-manusia Tuhan) dipahami/dilogoskan sebagai pria/laki-laki.

Peradaban umat manusia diawali/dibangun oleh `ilusi' pemahaman ego pria. Di masa lalu, kaum wanita/perempuan yang menempatkan egonya pada posisi lebih rendah terhadap kaum pria dipandang sebagai bentuk kebenaran/kebaikan (Malaikat yang bersujud terhadap Adam), sebaliknya kaum wanita yang mencoba menempatkan egonya pada posisi yang lebih tinggi dipandang sebagai bentuk kesalahan/kejahatan (Iblis yang meninggikan dirinya). Fenomena tersebut menjelaskan bahwa segala bentuk pemahaman dualitas seperti: kebenaran-kesalahan maupun kebaikan-kejahatan (sesungguhnya) merupakan bentuk-bentuk ilusi atas keterbatasan pemahaman ego atas esensi kesempurnaannya - Yang Satu.

Hasrat pria/laki-laki untuk menempatkan ego mereka pada posisi yang lebih tinggi atas/terhadap aspek-aspek selain dirinya/dunia/ego-ego yang lain, merupakan realitas yang sesungguhnya atas/bagi `ilusi' (nilai-nilai) kebenaran-kesalahan dan/atau kebaikan-kejahatan yang melandasi tindakan-tindakan umat manusia pada awal peradabannya.

Dominasi gender cara termudah bagi kaum pria untuk dapat memproyeksikan/memanifestasikan bentuk (pemahaman) ego mereka. Peperangan, penaklukan, perbudakan, penindasan dan/atau bentuk-bentuk persaingan lain merupakan fase lanjutan yang ditempuh dalam upaya memproyeksikan bentuk `ilusi' pemahaman tersebut. Tindakan-tindakan, yang dipandang/dianggap/diyakini sebagai bentuk kebaikan, kebenaran, dan sekaligus bentuk kesempurnaan bagi/atas eksistensi mereka.

Untuk memposisikan ego, manusia menggunakan kedua bentuk penalaran yang dimilikinya (akal-budi/IQ-EQ). Melalui IQ, ego meletakan dasar argumentasi kebenaran/kebaikannya atas unsur-unsur fisik/inderawi/material/akal seperti kecantikan, kecerdasan (otak), prestasi, kekuatan, kekayaan, ketangkasan dan lain-lain. Sementara melalui EQ yang ego meletakan dasar argumentasi kebenaran/kebaikan atas unsur-unsur metafisik/perasan seperti: agama, kepercayaan, kesaktian dan lain-lain.

Pada abad peperangan/penindasan/penaklukan, bernaung dibawah logos "manusia/Adam" ego berupaya menempatkan posisi mereka sebagaimana proyeksi logos Tuhan yang menghendaki Malaikat-Iblis/manusia lain untuk tunduk terhadap dirinya (logos manusia), dan (berusaha) mengenyahkan Iblis/manusia lain yang menolak untuk bersujud/tunduk kepada/terhadap(ego)nya/-NYA. Ego memandang mereka yang bersujud/tunduk/menuruti perintah/kemauannya sebagai kebaikan/kebenaran, dan sebaliknya mereka yang membangkang/menolak untuk tunduk sebagai bentuk kejahatan/kesalahan – Realitas peradaban umat manusia diawali dan diakhiri oleh keberadaan – Yang Satu – EGO – Kausa Prima.

Secara umum, ego akan berlaku/berposisi sebagaimana logos "Tuhan" ketika eksistensinya bisa/memungkinkan untuk berada pada posisi Yang Lebih Tinggi dari/atas ego-ego yang lain, dan sebaliknya berlaku sebagaimana logos "manusia" (yang membutuhkan perlindungan Tuhan) ketika berada pada posisi yang rendah – Realitas dualitas sempurna – Kebebasan untuk memilih – Tuhan-Manusia dan Manusia-Tuhan – Ego – Kausa - Yang Satu.

Apapun, bagaimanapun bentuk/manifestasi yang dipandang/dianggap/dipahami sebagai kebenaran dan/atau kebaikan oleh umat manusia, sesungguhnya/selamanya adalah bentuk `ilusi', sepanjang esensi tersebut secara sadar atau tidak sadar, (sesungguhnya) diproyeksikan oleh hasrat tinggi-rendah posisi(ego)nya.

REALITAS EGO

"Realitas ilusi, adalah sinergi ego"

Pertanyaan-pertanyaan berikut ini adalah mengenai konsep-konsep, aspek-aspek, tujuan-tujuan ideal yang melandasi peradaban umat manusia hingga hari ini; realitas (sesungguhnya)?, atau `ilusi' (dualitas) yang didasari oleh penempatkan tinggi-rendah posisi ego?

Konsep kesuksesan, realitas atau ilusi? Konsep kebahagiaan, realitas atau ilusi? Konsep kecerdasan, realitas atau ilusi? Konsep kecantikan, realitas atau ilusi?

Bagaimana mungkin manusia bisa mengetahui makna `sukses' tanpa keberadaan elemen-elemen/ego-ego yang tidak atau berada dibawah ego yang sukses? Bukankah "kesuksesan" merupakan bentuk `ilusi' atas keberadaan ego yang berada pada posisi lebih tinggi atas (ego) yang lain? Kebahagiaan, bagaimana seseorang bisa mengenal/tahu makna `kebahagiaan' tanpa keberadaan mereka yang tidak bahagia? Bukankah `bahagia' merupakan `ilusi' atas keberadaan elemen-elemen ego yang berada diatas yang lain? Dan seterusnya…

Konsep kebaikan, realitas atau ilusi? Konsep surga, realitas atau ilusi?

Bagaimana mungkin manusia bisa mengenal `kebaikan' tanpa keberadaan elemen/ego-ego yang `jahat'? Bagaimana mungkin manusia bisa mengenal/mengharapkan surga tanpa keberadaan elemen-elemen/ego-ego lain yang kelak/wajib masuk neraka? Itukah bentuk `kesenangan', `kebahagiaan' sejati? Melihat ego-ego yang lain `terjatuh' kedalam Api Neraka sementara `ego' kita berada pada posisi yang tinggi? Bukankah sangat naïf untuk mengingkari kenyataan tersebut? Begitukah bentuk/wujud manifestasi kesempurnaan Tuhan yang sesungguhnya? Bagaimana mungkin Sang Maha Pengasih sekaligus adalah Sang Maha Pendendam atas/bagi manusia `ciptaan'-NYA? Paradoks sempurna?

Bukankah penempatan-penempatan posisi ego merupakan realitas sesungguhnya bagi/atas `ilusi' konsep-konsep `ideal' bagi/dalam kehidupan manusia? Bukankah fenomena penempatan posisi-posisi ego atas ego yang lain sesungguhnya/selamanya akan membentuk siklus tanpa batas yang menciptakan ketidakpastian, kecemasan atas waktu, situasi, tempat yang berlaku pada/bagi peradaban umat manusia?

Bukankah sebagian besar konsep-konsep, `mitos-mitos': sukses, bahagia, cerdas, sehat dan lain-lain yang secara mudah bisa anda dapatkan pada buku-buku "chicken soup" (sesungguhnya) hanya akan membentuk stereotip ego yang selamanya akan berusaha `saling menginjak' satu dengan yang lain? Bukankah stereotip sedemikian rupa tidak akan pernah membawa umat manusia pada peradaban yang lebih baik kecuali bersiklus dan terus bersiklus dalam ketidakpastian penempatan posisi masing-masing ego?

Religion in the world (Semua dari Asal yang sama dan bagaimana kembali ketempat asal yang sama)
Apa esensi kebahagiaan, kesuksesan sejati? Bukankah sesuatu yang sepatutnya abadi dan tidak dilandasi `ilusi' rasa takut akan ketidakpastian? Mengapa manusia (modern) takut kepada waktu? Pada hari esok? Pada kematian? Bukankah semuanya bentuk `ilusi' akibat hasrat ego untuk mencapai tinggi-rendah posisinya? Bukankah atas sinergi yang diciptakan oleh ego sendiri? Bukankah pemahaman atas esensi kesempurnaan ego (sesungguhnya) hanya ditentukan/merupakan bentuk proyeksi/cerminan/refleksi atas keberadaan ego-ego yang lain? Bukankah rasa takut merupakan `ilusi' akibat keterbatasan ego memahami esensinya? Dualitas sempurna? Sinergi ego merupakan realitas sesungguhnya atas/bagi `ilusi' kecemasan dan/atau ketidakpastian manusia modern.

Tidak satupun hal terjadi atas unsur ketidak sengajaan. Esensi Tuhan adalah sempurna sejak awal-NYA dan esensi manusia adalah kembali kepada-NYA. Kebahagiaan sejati sekaligus puncak (kesempurnaan) evolusi ego hanya akan bisa di/tercapai melalui (keniscayaan) SINERGI SEMPURNA…

EGO TUHAN


"Kesempurnaan diawali oleh perspektif"


P: Mengapa Tuhan (sering dipahami) memihak Malaikat ketika ia sekaligus menciptakan Iblis?

J: Tanpa perspektif Tuhan segalanya adalah nihil.

"Beyond Good and Evil " (diantara/diatas kebaikan dan kejahatan) – Nietzsche




 Secara sekilas judul diatas sering ditafsirkan sebagai `Tuhan yang nihil' karena berlaku sebagaimana sintesis antara tesis-antitesis kebaikan dan kejahatan. Benarkah esensi Tuhan sedemikian rupa pernah dijelaskan dalam sejarah umat manusia?

Sejak awal esensi Tuhan adalah ber-perspektif dan telah diuraikan secara sempurna dalam kisah penciptaan Adam. Munculnya pemahaman nihil atau tak bisa dipahami atas esensi Tuhan adalah bentuk `ilusi' atas keterikatan ego pada fase pemahaman trinitas. Manifestasi Tuhan yang tidak pernah tercantum atau digambarkan dalam kisah apapun-manapun-kapanpun. Perspektif (Tuhan) adalah hakekat dari (keberadaan) Ego dan manifestasi kesempurnaan Tuhan adalah Ego.

"Beyond Good and Evil is (God's) Perspective" – "Beyond Good and Evil is Ego*"

"Diantara/diatas kebaikan dan kejahatan adalah Ego" – Anti Nihilisme – Tuhan manusia dan manusia Tuhan.
*(ilusi dualitas akan menerjemahkan pernyataan diatas sebagai hal yang negatif)


DUALITAS SEMPURNA

"Elemen dualitas sempurna tidak berlawanan, melainkan bercermin"

Premis pencipta dan ciptaan adalah saling meniadakan, tidak ada pencipta tanpa ciptaan dan sebaliknya. Pencipta memerlukan ciptaannya sama halnya dengan ciptaan memerlukan penciptanya. Tuhan Butuh manusia dan Manusia butuh Tuhan. (Kisah Tuhan diperuntukan bagi manusia yang menjadikan manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang membuat kisah tersebut ada).

…Konon Tuhan memerintahkan Iblis dan Malaikat untuk bersujud kepada Adam (Manusia)– ciptaan paling sempurna. Malaikat tunduk pada perintah Sang Sempurna, sementara Iblis menolak untuk merendahkan dirinya. Tuhan menjadikan Iblis penghuni neraka…

Jika diuraikan secara kronologis, penggalan kisah diatas sesungguhnya merupakan ilustrasi atas/bagi penciptaan/keberadaan bentuk `ilusi' pemahaman manusia atas manifestasi/kehendak kesempurnaan Yang Satu. Malaikat dan Iblis merupakan logos-logos yang tidak berarti (nihil) sebelum mereka diperintahkan untuk bersujud kepada Adam. Tuhan tidak memerintahkan Adam untuk melakukan dan/atau memihak siapapun. Tuhan memerintahkan Malaikat dan Iblis untuk bersujud agar Adam bisa memahami esensi kesempurnaan-NYA.

Keberadaan (ilusi) dualitas kebaikan-kejahatan merupakan konsekwensi mutlak atas/bagi Sang Sempurna memanifestasikan/menunjukan kesempurnaan esensi/perspektif/Ego-NYA kepada/terhadap Adam. Keberadaan elemen Adam menjadi syarat bagi manifestasi/kesempurnaan/ esensi (Ego) Sang Sempurna. Esensi (Ego) Sang Sempurna menjadi cermin bagi kesempurnaan esensi (ego) Adam - Ego merupakan esensi kesempurnaan Tuhan dan manusia - Dualitas Sempurna*.

* Faktor esensial yang membedakan elemen Tuhan dengan Adam dalam dualitas sempurna adalah perintah untuk bersujud yang berawal dari Tuhan sebagai pelaku aktif kejadian, yang menjadikan Ego-NYA cermin bagi ego Adam sebagai pelaku pasif kejadian – KAUSA PRIMA yang mengawali SINERGI SEMPURNA


EVOLUSI EGO


"Esensi ego adalah mencari kesempurnaan"

"Konon Tuhan menciptakan Malaikat dari cahaya dan Iblis dari api, kemudian Tuhan mengambil segumpal tanah/air dan meniupnya sehingga terciptalah Adam. Tuhan memerintahkan Iblis dan Malaikat untuk bersujud kepada Adam (Manusia)– ciptaannya paling sempurna. Para malaikat tunduk pada perintah Sang Sempurna sementara Iblis menolak untuk merendahkan dirinya. Tuhan menjadikan Iblis penghuni neraka".

Secara kronologis kisah diatas mengilustrasikan 3 tahapan evolusi (pemahaman) Ego:

1. POLITAS & MONOITAS
"Konon Tuhan menciptakan Malaikat dari cahaya dan Iblis dari api…"

2. DUALITAS
"Tuhan menciptakan Malaikat dari cahaya dan Iblis dari api, kemudian Tuhan mengambil segumpal tanah/air dan meniupnya sehingga terciptalah Adam…"

3. TRINITAS
"…Tuhan memerintahkan Iblis dan Malaikat untuk bersujud kepada ADAM (Adam)– ciptaannya paling sempurna. Para malaikat tunduk pada perintah Sang Sempurna, sementara Iblis menolak untuk merendahkan dirinya. Tuhan memerintahkan Iblis untuk menghuni neraka".


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Klik!

1. POLITAS & MONOITAS

"Konon Tuhan menciptakan Malaikat dari cahaya dan Iblis dari api…"

Penggalan kisah diatas menjelaskan fase awal pemahaman ego atas logos-logos. Seperti dijelaskan sebelumnya, pencipta membutuhkan ciptaannya dan/atau sebaliknya dimana keberadaan elemen Malaikat dan Iblis adalah logos-logos berbeda namun tidak menjelaskan esensi apapun (logos tanpa arti) sebelum dimunculkannya `ilusi' dualitas kebaikan-kejahatan.

Penggalan kisah tersebut mengilustrasikan bentuk awal/dasar ego manusia, dimana manifestasi ego bukanlah sebagai pengamat (Adam) yang sedang memproyeksikan dirinya terhadap/melalui elemen Tuhan (elemen Adam belum menjadi bagian cerita), melainkan sebagaimana Kausa Prima atas/bagi logos-logos ciptaan-NYA yang sekaligus menjadikan eksistensi-NYA. PROYEKSI (eksternal) logos Tuhan adalah logos-logos Malaikat dan Iblis yang sekaligus membentuk pemahaman logos Tuhan sebagai SUBLIMASI (internal) logos-logos Malaikat dan Iblis. Induksi dan deduksi

Animisme dan dinamisme merupakan fase awal manusia menerjemahkan esensinya melalui alam. Keterbatasan pemahaman ego atas kesempurnaan esensinya lah yang sesungguhnya mengawali bentuk-bentuk pemujaan terhadap fenomena-fenomena alam. Ego membentuk proyeksi (eksternal) logos-logos yang digunakan untuk membentuk sublimasi (internal) "keyakinan" atas eksistensinya - sebagai faktor penyeimbang/pengisi keterbatasan pemahaman atas esensi kesempurnaannya.

POLITAS tampak dalam sejarah paganisme, dimana terjadi pemujaan terhadap benda-benda dan/atau fenomena-fenomena alam, penciptaan logos-logos dewa beserta mitos-mitosnya yang secara sederhana merupakan proyeksi bentuk-bentuk fisik, karakter-karakter maupun aspek-aspek lain yang senantiasa ditangkap oleh panca-indera manusia.

MONOITAS merupakan fase evolusi (pemahaman) yang selanjutnya, dimana ego mulai menyublimasikan esensinya sebagai Yang Satu sebagaimana elemen Tuhan dalam penggalan cerita. Pada fase ini ego menyublimasikan kembali proyeksi logos-logos yang sebelumnya telah diciptakan ke dalam/sebagai satu kesatuan logos ego itu sendiri. Fase tersebut mengawali keberadaan Firaun, Caesar, dan sosok-sosok lain yang diyakini sebagai manifestasi/titisan (kesempurnaan) Yang Satu atas/dari logos-logos/dewa-dewa/sembahan-sembahan mereka.

Masyarakat Mesir kuno tidak mengenal (dualitas) kebaikan-kejahatan, kecuali menerima secara penuh apapun yang dikehendaki oleh (logos) Firaun sebagai bentuk kesempurnaan bagi (hidup) mereka. Demikian pula pertunjukan Gladiator, manusia melawan singa maupun bentuk-bentuk kekerasan-kekejaman lain pada masanya yang senantiasa diterima masyarakat Romawi sebagai kehendak atau manifestasi (logos) Caesar yang sempurna.

Ego perlu melalui kedua fase tersebut untuk mencapai fase evolusi selanjutnya. Fase Monoitas mampu mengantarkan umat manusia pada peradaban yang maju dengan ciptaan-ciptaan maha karya, namun tidak dapat bertahan lama karena menyalahi hukum keberadaan ego sebagaimana proyeksi Adam terhadap Kausa Prima sebagai elemen dualitas sempurna.

Ego membangun sekaligus menghancurkan sendiri peradabannya. Sisa-sisa peninggalan Mesir Kuno, Inca maupun bentuk-bentuk peradaban lain yang seolah-olah lenyap ditelan Bumi merupakan penjelasan atas evolusi ego sebelum mengenal 'ilusi' dualitas kebaikan-kejahatan. Fenomena yang tidak bermakna (dualitas) positif-negatif, baik-buruk, melainkan jalan/tahapan/fase bagi ego menuju kesempurnaan (pemahaman)nya.

2. DUALITAS

Ego yang gagal menemukan kesempurnaan Yang Satu melalui/dalam logos dirinya, kemudian mencari kesempurnaan Yang Satu diluar dirinya. Dengan menempatkan esensi (kesempurnaan) Yang Satu diluar dirinya, ego mengalami fase dualitas sempurna yang berkonsekwensi pada keberadaan `ilusi' dualitas kebaikan dan kejahatan atau hukum peradaban manusia.

Secara konseptual, fase dualitas merupakan sintesis atas (kegagalan) kedua fase awal evolusi Ego dimana kembali terjadi pengulangan fase PROYEKSI (Politas) dengan SUBLIMASI logos Yang Satu (Monoitas). - Yang Satu DIDALAM (diri) Ego pada fase Monoitas kini ditempatkan DILUAR seperti yang terjadi pada fase Politas. Namun secara garis besar pemahaman atas dualitas kebaikan-kejahatan (hukum keberadaan manusia) masih dibentuk, diterjemahkan dan dipahami melalui logos-logos sebagaimana terjadi pada fase-fase sebelumnya.

"Tuhan menciptakan Malaikat dari cahaya dan Iblis dari api. Kemudian Tuhan mengambil segumpal tanah/air dan meniupnya sehingga terciptalah Adam…"

Secara simbolis elemen-elemen pada penggalan kisah diatas mengilustrasikan fase dualitas pemahaman ego dimana elemen Yang Satu/Tuhan adalah berada diluar Adam (proyeksi) dan berada diantara diantara 2 buah elemen/logos berbeda Malaikat dan Iblis yang (oleh ego) sekaligus diterjemahkan sebagai kebaikan dan kejahatan.

Pada fase ini ego baru bisa mengenali atau menerjemahkan kejadian-kejadian atau fenomena-fenomena melalui 2 buah elemen/logos berbeda yang saling bertentangan. Faktor inilah yang mendasari sublimasi elemen Tuhan dan Malaikat sebagai kesatuan logos untuk menerjemahkan kebaikan dan logos Iblis untuk kejahatan. Stigma/Kesan yang dimunculkan pada fase ini adalah Tuhan dan Malaikat (seolah-olah) sedang berperang melawan Iblis dan/atau berusaha memusnahkan kejahatan.

Elemen dualitas sempurna adalah bercermin, proyeksi yang muncul pada fase ini adalah logos-logos yang mewakili kebaikan dan kejahatan dalam bentuk-bentuk fisik/tubuh/logos manusia. Malaikat digambarkan sebagai manusia bersayap (bisa terbang), Iblis dalam bentuk manusia bertanduk , berekor dan/atau buruk rupa –secara sederhana keduanya (sesungguhnya) menyiratkan apa yang menjadi keinginan dan yang tidak diinginkan terjadi pada/oleh (manifestasi fisik) ego.

3. TRINITAS

…Tuhan memerintahkan Iblis dan Malaikat untuk bersujud kepada ADAM (Manusia)– ciptaannya paling sempurna. Para malaikat tunduk pada perintah Sang Sempurna, sementara Iblis menolak untuk merendahkan dirinya. Tuhan memerintahkan Iblis untuk menghuni neraka…

Elemen-elemen kisah diatas mengilustrasikan fase pemahaman trinitas, yaitu keberadaan elemen Tuhan yang berada diantara kebaikan-kejahatan yang tidak lagi sekedar dipahami dalam bentuk logos (Pemberi perintah yang mengawali dualitas kebaikan-kejahatan). Pada fase ini Ego mulai meninggalkan sebagian keterikatannya pada logos untuk memahami esensi kesempurnaan Yang Satu. Ego mulai memahami bahwa keberadaan logos Adam adalah (`diwajibkan' untuk) bercermin pada logos Tuhan yang membuatnya mempertanyakan/mencari misteri/esensi dibalik keberadaan (logos) Tuhan diantara dualitas kebaikan-kejahatan.

Mengapa Tuhan kerap dipahami sebagai "kebaikan" ketika simbol kebaikan itu sendiri telah diwakili oleh Malaikat? Bukankah sepatutnya Malaikat tidak memiliki kekurangan sedikitpun atas kebaikan oleh karena kebaikan merupakan esensinya? Mengapa Malaikat tidak lebih baik dari Tuhan? Mengapa Tuhan hanya mewakili kebaikan dan tidak mewakili kejahatan? Bukankah Tuhan juga yang menciptakan Iblis?

Banyak stigma beranggapan bahwa Tuhan menciptakan kejahatan. Hal yang patut digaris bawahi adalah:

TUHAN MENCIPTAKAN (LOGOS) IBLIS, NAMUN TIDAK PERNAH MENCIPTAKAN KEJAHATAN. KEBERADAAN MANUSIA (ADAM) LAH YANG MENGAWALI/MENCIPTAKAN (ILUSI*) KEJAHATAN.

Demikian pula dengan stigma beranggapan bahwa Tuhan menciptakan kebaikan:

TUHAN TIDAK (PERNAH) MENCIPTAKAN KEBAIKAN, TUHAN ADALAH KEBAIKAN ITU SENDIRI. TUHAN MENCIPTAKAN (LOGOS) MALAIKAT. KEBERADAAN ADAM-LAH YANG MENGAWALI/MENCIPTAKAN (ILUSI*) KEBAIKAN.
* Tidak diciptakan/tidak pernah ada.

ILUSI KEBAIKAN-KEJAHATAN

Sebelum Tuhan memerintahkan Malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Adam, keduanya merupakan logos-logos tanpa arti. Dualitas kebaikan-kejahatan bukanlah ciptaan Tuhan, melainkan (ilusi) atas keberadaan Adam (manusia)/proyeksi dualitas sempurna;

Apakah Tuhan (memang) menghendaki Iblis untuk bersujud atau (memang) menghendaki mereka untuk membangkang? Bagaimana mungkin Sang Maha Berkehendak gagal membuat Iblis untuk melakukan kehendak-NYA? Bukankah Ia adalah Maha Kuasa yang bisa melakukan apa saja? Bukankah mempercayai kesempurnaan-NYA adalah percaya bahwa Tuhan memang menghendaki Iblis untuk tidak bersujud? Bahwa apapun yang terjadi adalah atas kehendak-NYA?Jika manusia membenci Iblis (yang membangkang) bukankah itu berarti (sekaligus) membenci Kehendak-NYA? Membenci Tuhan? Bukankah perintah untuk bersujud tersebut memang ditujukan agar Adam memahami esensi Tuhan yang sebenarnya? Perspektif-NYA? Ego-NYA? Bukankah kebaikan-kejahatan merupakan `ilusi atas/bagi manifestasi kesempurnaan (esensi) Yang Satu?

Pemahaman trinitas menempatkan esensi kesempurnaan Yang Satu diantara faktor eksternal dan/atau internal ego (manusia). Transformasi/bentuk-bentuk pemahaman trinitas kerap disalahartikan/disalah pahami oleh sebagian kelompok masyarakat sebagai bentuk pengingkaran terhadap Tuhan, ketika bentuk fase pemahaman tersebut (sesungguhnya) hanya (berusaha) merekonstruksi/mendekonstruksi/meninggalkan dan/atau mempertanyakan esensi TUHAN (KESEMPURNAAN) yang di-LOGOS-kan oleh/pada fase pemahaman dualitas.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang pesat tidak terlepas dari evolusi ego atas fase pemahaman trinitas. Fase yang sekaligus mengawali penanggalan/pelucutan bentuk-bentuk pemujaan (sakralisasi) terhadap logos-logos/ritual-ritual lama yang dibentuk pada/oleh fase dualitas. Proyeksi atas logos Tuhan mulai digantikan dengan bentuk-bentuk ciptaan-ciptaan/materialisme dan/atau sistem-strata sosial untuk membentuk sublimasi "keyakinan" baru atas bentuk-bentuk penciptaan ego sendiri. Stigma umum yang terbentuk pada fase ini adalah; "tidak perlu beragama untuk mempercayai Tuhan/kesempurnaan atau, mempercayai Tuhan/kesempurnaan namun bukan agama, meninggalkan dan/atau melakukan ritual-ritual agama seperlunya, serta bersikap moderat terhadap semua agama/kepercayaan/keyakinan.

Pemahaman Trinitas menciptakan keberagaman pilihan serta kebebasan yang lebih luas bagi ego memaknai masing-masing esensinya. Meskipun demikian fase tersebut secara tidak langsung sekaligus mengarahkan ego kembali kepada bentuk pemujaan atas logos-logos/materialisme yang membawa ego pada kehampaan makna/ketidak bahagiaan. Sekilas dapat dilihat bahwa bentuk sublimasi keyakinan atas kesempurnaan ciptaan-ciptaan (materialisme-sistem) mengarah kembali fase Politas maupun Monoitas (paganisme/absolutisme), dengan faktor esesial yang membedakannya adalah; ego telah mengenal (ilusi) dualitas kebaikan-kejahatan yang sekaligus menjadikan fase ini bisa bertahan begitu lama.

Bentuk lain yang muncul pada fase ini adalah Ateisme. Ateisme sendiri (sesungguhnya) tidak pernah bermakna "tidak memiliki Tuhan" oleh karena (logos) "Ateis" sendiri merupakan aksioma atas keberadaan Tuhan yang dipertanyakan, sebelum kemudian ditanggalkan logos-NYA. Persepsi umum yang menganggap bidah atau mengingkari kesempurnaan Tuhan merupakan bentuk proyeksi (ilusi) ego yang masih terikat pada fase pemahaman dualitas dalam upayanya mempertahankan keberadaan faktor yang senantiasa dijadikan pembentuk sublimasi `keyakinan/iman', yaitu `logos' Tuhan yang disakralkan/tidak patut dipertanyakan. Mengacu pada uraian sebelumnya, esensi Tuhan adalah Ego, yang menjadikannya tidak akan pernah tiada dan/atau ditiadakan.

Namun, fenomena menarik yang paling layak dicermati akhir-akhir ini adalah munculnya para pemikir-pemikir eksistensialis dan/atau nihilis, yang tidak hanya sekedar berani untuk mempertanyakan esensi Tuhan, namun sekaligus mempertanyakan esensi/keberadaan dirinya, dan/atau tidak sekedar larut dalam peradaban yang mengarahkan mereka menuju kebutaan makna (Nietzsche telah `meramalkan' fenomena ini). Ego mulai mempertanyakan esensi /kesempurnaan ego itu sendiri - evolusi menuju kesempurnaan. Meskipun demikian, pemahaman tersebut barulah awal dari/bagi puncak kesempurnaan pemahaman yang sesungguhnya. Kekosongan/kehampaan makna hidup/esensi ego masih menjadi bagian besar ditengah beragam pencapaian pemikiran beserta gemerlap megah bentuk ciptaan-ciptaan peradaban.

Secara pribadi saya berani mengatakan bahwa kebanyakan individu yang menyatakan dirinya BAHAGIA adalah sedang berusaha mengelabui ego-nya, memproyeksikan `ilusi' rasa takut yang berlebihan, dan/atau bentuk luapan emosi kemuakan atas standarisasi/stereotipe kehidupannya – "Tidak ada kebenaran yang lebih jernih selain tatapan mata". Saya tidak mencerna keseluruhan pernyataan-pertanyaan diatas melalui kacamata (dualitas) positif-negatif, baik-buruk, kebaikan-kejahatan, benar-salah (oleh karena kesemuanya merupakan bentuk ilusi) kecuali jalan bagi ego menuju kesempurnaan-NYA.

Renungan (pandangan pribadi); Bahwa keberadaan setiap fenomena merupakan proyeksi (hologram) atas keterbatasan ego memahami kesempurnaan esensinya, dan pada titik tertentu proyeksi tersebut menyalahi hukum keberadaan, akan muncul sosok-sosok maupun fenomena-fenomena (alam) yang mengarahkan ego kembali menuju jalan kesempurnaan. Tidak satupun hal, kejadian/fenomena terjadi atas faktor ketidaksengajaan. Sejak awal esensi Tuhan adalah sempurna dan esensi manusia adalah kembali kepada-NYA – SINERGI SEMPURNA.

Sabtu, 07 April 2012

Ego Manusia


"I need to believe in God because I was"


"Untuk melengkapi kesempurnaannya diciptakanlah Hawa dari (tulang rusuk) Adam".



Penggalan kisah diatas menggambarkan awal sekaligus akhir esensi tunggal kesempurnaan Manusia Tuhan dan Tuhan Manusia. Adam mulai menjalani sekuel keterpisahan dari esensi Yang Satu, dimana manifestasi kesempurnaan tunggal (Adam dalam dualitas sempurna/Ego Sempurna) disempurnakan (lagi) dalam bentuk dual dual Adam dan Hawa.


Namun dogma yang kerap menyebutkan bahwa "Wanita tercipta dari tulang rusuk Pria" (sesungguhnya) merupakan bentuk pemahaman yang SALAH :

PADA AWAL PENCIPTAANNYA, (LOGOS) ADAM TIDAK LAH PERNAH DI SEBUTKAN/DINUBUATKAN SEBAGAIMANA PRIA/LAKI-LAKI. ESENSI ADAM SEBELUM PENCIPTAAN HAWA ADALAH MANIFESTASI TUNGGAL DUALITAS SEMPURNA MANUSIA TUHAN - TUHAN MANUSIA (TIDAK BERKELAMIN/MEMILIKI GENDER) - YANG SATU.

 Sebelum penciptaan Hawa, manifestasi kesempurnaan ego adalah bentuk elemen tunggal pria–wanita/bukan pria-bukan wanita, sedangkan setelah penciptaan Hawa barulah manifestasi kesempurnaan ego berbentuk elemen dual pria dan wanita. Premis pria/laki-laki baru ada/merupakan bentuk aksioma atas penciptaan Hawa. Justifikasi (logos) Adam sebagai pria/laki-laki sebelum esensi/premis `pria/laki-laki' itu sendiri ada sekaligus menjelaskan bahwa keterikatan pemahaman manusia pada penafsiran/pemujaan terhadap logos (per logos) diatas kronologi kejadian yang (sesungguhnya) menjadikan dan/atau meniadakan logos itu sendiri.

Klik!
Terciptanya Hawa dari tulang rusuk (bagian kecil dari keseluruhan tulang pembentuk tubuh Adam) merupakan bentuk analogi menyeluruh atas proporsi pembagian esensi tunggal Manusia Tuhan-Tuhan Manusia. Realitas yang diwakili oleh analogi tersebut adalah perbedaan kekuatan (fisik) antara pria dan wanita. Hawa memiliki sebagian kecil kekuatan fisik Adam; kaum pria/jantan (secara umum) memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan kaum wanita/betina (yang diilustrasikan berasal dari potongan kecil bagian tubuhnya).

Ego merupakan awal sekaligus akhir. Analogi yang mengilustrasikan proporsi pembagian elemen tunggal Adam (menjadi Adam dan Hawa), sesungguhnya/secara esensial sekaligus menjelaskan karakteristik ego manusia:

Jika perintah bersujud bagi Malaikat dan Iblis ditujukan untuk seluruh umat manusia, mengapa Tuhan memerintahkan Malaikat dan Iblis untuk bersujud hanya kepada Adam (sebelum kehadiran Hawa)? Mengapa perintah tersebut tidak justru dihadirkan (kelak) setelah terciptanya Hawa (Keberadaan 2 elemen yang mewakili umat manusia)?

Elemen Adam memiliki 2 esensi berbeda dalam kronologi cerita:

1. Sebagai elemen tunggal kesempurnaan/dualitas sempurna/Tuhan Manusia – Manusia Tuhan (esensi pada kronologi pertama/awal cerita)

2. Sebagai salah satu elemen pelengkap esensi dual kesempurnaan/sebagai logos bagi/atas pria/laki-laki (esensi pada kronologi kedua/akhir cerita).

Mengapa logos Adam (Manusia-Tuhan-Tuhan Manusia) adalah tetap sebagai Adam (Pria/laki-laki) pada dua kronologi kejadian yang berbeda?

Penempatan logos Adam dalam 2 kronologi kejadian yang berbeda, secara sederhana menjelaskan bahwa; (bentuk pemahaman ego) laki-laki adalah berbeda dengan (bentuk pemahaman ego) wanita. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, perintah bersujud Tuhan mengawali `ilusi' dualitas (kebaikan kejahatan) yang secara secara visual diilustrasikan melalui tinggi-rendah posisi logos Adam terhadap logos-logos Malaikat dan/atau Iblis.

subtle picture of ego
Klik!
Pria/laki-laki (Adam yang mengalami secara langsung kejadian perintah bersujud Tuhan) memiliki keterikatan yang jauh lebih mendasar atas `ilusi' pemahaman yang didasari oleh tinggi-rendah posisi ego (sebagaimana posisi Malaikat dan Iblis terhadap Adam), dibandingkan dengan wanita (Hawa yang tidak secara langsung mengalami kejadian perintah bersujud Tuhan), dalam menerjemahkan esensi kesempurnaan bagi/atas ego mereka.

Realitas kehidupan menjelaskan, sejak usia dini anak laki-laki akan cenderung memilih bentuk-bentuk permainan yang memiliki/mengandung unsur-unsur persaingan/kompetisi dalam hubungan sosial mereka seperti: adu kecepatan, kekuatan, ketangkasan, keterampilan video game dan/atau bentuk-bentuk perlombaan/permainan lain, yang (sesungguhnya) mencerminkan/memproyeksikan bentuk pemahaman/karakteristik/esensi (ego) mereka:

Pria/laki-laki memiliki hasrat yang besar untuk bisa menempatkan egonya pada posisi yang lebih tinggi terhadap/atas ego-ego yang lain, dan memahaminya sebagai manifestasi kesempurnaan atas/bagi esensi(ego)nya (sebagaimana kejadian yang dialami Adam terhadap proyeksi (visual) posisi-posisi Malaikat dan Iblis).

Anak perempuan/wanita (sesungguhnya) tidak memiliki ketertarikan untuk/dalam memakna unsur-unsur persaingan/kompetisi sebagai faktor terpenting yang mendasari hubungan sosial mereka. Mereka akan cenderung memilih bentuk-bentuk permainan yang mengandung unsur kebersamaan, harmonisasi seperti: permainan boneka, rumah tangga dan masak-memasak dan lain-lain, yang (sesungguhnya) mencerminkan/memproyeksikan karakteristik/esensi (ego) mereka:

Wanita/perempuan tidak memiliki hasrat yang besar (sebagaimana pria/laki-laki) untuk bisa menempatkan egonya pada posisi yang lebih tinggi terhadap/atas ego-ego yang lain (Sebagaimana Hawa tidak mengalami secara langsung proyeksi posisi Malaikat-Iblis terhadap dirinya).

Penciptaan Hawa dari tulang rusuk (sebagian kecil tulang pembentuk tubuh) Adam secara analogi menjelaskan fenomena diatas; bahwa Hawa/wanita hanya memiliki sebagian kecil/inferioritas keterikatan atas bentuk `ilusi' dualitas tinggi-rendah posisi ego yang dimiliki/dipahami oleh Adam/pria.

Rumus penciptaan manusia; Adam = Adam + Hawa secara sederhana juga mengilustrasikan dominasi/superioritas 2 logos kembar Adam, terhadap 1 logos (tunggal) Hawa, atas pemecahan/pembagian esensi tunggal elemen dualitas sempurna; kaum pria mendominasi keterikatan atas bentuk `ilusi' dualitas tinggi-rendah posisi ego dibandingkan dengan kaum wanita.


KEHIDUPAN


"Hawa mengawali kehidupan manusia"

"Oleh bujukan seekor ular pada sebuah pohon, Hawa meminta Adam untuk memetik dan bersama-sama memakan buah terlarang/melanggar perintah Tuhan. Seketika itu juga mereka malu atas tubuh telanjang mereka dan berusaha menutupinya dengan dedaunan. Adam dan hawa diturunkan kedunia…"

Baik elemen tunggal Adam (Manusia Tuhan-Tuhan Manusia) maupun dual Adam dan Hawa (pria dan wanita) merupakan bentuk manifestasi kesempurnaan Yang Satu. Sebagai elemen dualitas sempurna, esensi Adam (sebagai kesempurnaan tunggal) merupakan proyeksi/cermin atas/bagi esensi Tuhan, sehingga nubuat penciptaan Hawa sebagai pelengkap/penyempurna Adam, adalah sekaligus bermakna melengkapi/menyempurnakan esensi/manifestasi Tuhan.

Bentuk manifestasi Hawa/wanita dalam menyempurnakan esensi Adam adalah dengan mengawali/memberi `kehidupan' manusia (didunia), sehingga mengingkari esensi kesempurnaan kehidupan adalah bermakna mengingkari manifestasi kesempurnaan Tuhan. Dogma/pandangan yang beranggapan bahwa Hawa/wanita lah yang menyebabkan Adam/pria melakukan `kesalahan' atau mendapatkan `hukuman' dari Tuhan (diturunkan kedunia), jelas merupakan paradoks atas/bagi manifestasi Tuhan sendiri yang sebelumnya telah/sekaligus menubuatkan bahwa penciptaan Hawa/wanita adalah untuk menyempurnakan esensi Adam/pria.

Bentuk-bentuk paradoks (manifestasi kesempurnaan Tuhan) akan senantiasa menjelaskan bahwa : keberadaan/penempatan setiap elemen-elemen dalam kronologi-kronologi kejadian kisah Adam dan Hawa/penciptaan manusia adalah terjadi atas kehendak-NYA, atau merupakan manifestasi kesempurnaan-NYA – Yang Satu.

Kronologi kejadian yang menempatkan elemen Hawa sebagai faktor esensial yang mengawali "kehidupan" manusia merupakan analogi bagi/atas kehidupan manusia yang berawal/dimunculkan dari (rahim) wanita (termasuk pria). Proses yang mengawali/mendasari (evolusi/siklus) terpecah/terbaginya esensi kesempurnaan dual ego (Adam dan Hawa), menjadi/atas ego-ego individual yang tak terbatas (umat manusia).

Proses perkembangbiakan, kelahiran dan kematian merupakan realitas sesungguhnya (ilusi) `hukuman' Tuhan terhadap manusia (Adam dan Hawa).

Dualitas adalah bentuk `ilusi' pemahaman ego. Sebagaimana dualitas kebaikan-kejahatan, konsep `kebenaran' pemahaman atas `kesalahan' yang dilakukan oleh Hawa dan Adam sehingga mendapatkan `hukuman' dari Tuhan pun (sesungguhnya) merupakan bentuk `ilusi' ego:

Bukankah (dogma awal) kaum pria yang beranggapan/menempatkan kaum Hawa/wanita sebagai pihak yang (paling) `bersalah' sehingga umat manusia `dihukum' untuk menjalani kehidupan merupakan bentuk pengingkaran terhadap `kehidupan' kaum pria yang/sehingga bisa mempersalahkan Hawa/wanita itu sendiri?

Mana yang terdahulu ayam atau telur? Bukankah awal adalah/sekaligus akhir - Yang Satu? Bukankah konsep `kebenaran' pemahaman (Adam/pria) atas `kesalahan' (Hawa/wanita) merupakan bentuk `ilusi' dualitas ego? Bukankah konsekwensi `hukuman' Tuhan juga merupakan bentuk `ilusi' ego? Bukankah `ilusi' dualitas kebenaran-kesalahan merupakan bentuk manifestasi kesempurnaan - Yang Satu? Bukankah tinggi-rendah posisi ego (kaum pria terhadap kaum wanita) merupakan realitas sesungguhnya atas/bagi keberadaan faham/dogma kebenaran-kesalahan yang dianut oleh umat manusia pada awal peradabannya?


REALITAS DUALITAS


"Tinggi-rendah (posisi) ego membentuk ilusi dualitas".

Hasrat ego untuk berada pada posisi yang lebih tinggi atas/terhadap ego yang lain merupakan aksioma bagi/atas bentuk `ilusi' pemahaman dualitas manusia, sebagaimana diilustrasikan melalui keberadaan Adam yang menemukan kebaikan/kenyamanan/keamanan oleh posisi Malaikat yang bersujud/merendahkan dirinya, dan sebaliknya merasa terusik/terganggu/terancam oleh posisi Iblis yang meninggikan dirinya. Tinggi-rendah posisi ego merupakan realitas bagi/atas bentuk `ilusi' dualitas, sekaligus kausa bagi/atas evolusi pemahaman (ego) manusia.

Kausa Prima menciptakan Malaikat dan Iblis, elemen-elemen yang merupakan proyeksi sekaligus membentuk sublimasi pemahaman atas/bagi esensi kesempurnaan-NYA. Sebelum datang perintah bersujud terhadap Adam, tampak bahwa baik elemen Malaikat maupun Iblis berada pada posisi yang sama/sejajar/seimbang serta tidak memiliki makna apapun kecuali proyeksi logos-logos atas/dari kesempurnaan Yang Satu.

Benarkah perintah bersujud Tuhan mengkoreksi kesetaraan/kesejajaran/keseimbangan posisi keduanya? Benarkah Malaikat berada pada posisi yang lebih `tinggi' dibanding Iblis setelah datang perintah bersujud terhadap Adam? Benarkah Tuhan memerangi Iblis sebagaimana ilusi dualitas kebaikan-kejahatan? Sebuah paradoks, bagaimana mungkin Sang Pencipta memerangi/merendahkan satu sisi proyeksi/sublimasi kesempurnaan-NYA?

"Tuhan memerintahkan Iblis dan Malaikat untuk bersujud kepada ADAM (Manusia)– ciptaannya paling sempurna. Malaikat tunduk pada perintah Sang Sempurna, sementara Iblis menolak untuk merendahkan dirinya. Tuhan memerintahkan Iblis untuk menghuni neraka".

1. Berdasarkan pengamatan visual/ fisik/logos/akal; posisi Malaikat yang bersujud adalah lebih rendah, sedangkan Iblis (merasa) lebih tinggi (derajatnya) atas/terhadap posisi Adam.

2. Berdasarkan penalaran non-visual/non-fisik/perasaan, posisi Malaikat yang bersujud adalah lebih tinggi/mulia, jika dibandingkan Iblis yang lebih rendah/hina (derajatnya) - karena menolak perintah Tuhan.

Hal menarik yang perlu dicermati adalah; baik Malaikat maupun Iblis (sesungguhnya) sama-sama menempati posisi-posisi yang lebih tinggi maupun lebih rendah ketika pahami melalui 2 kerangka penalaran yang berbeda. Penggabungan kedua bentuk penalaran diatas akan menjelaskan bahwa manifestasi Kausa Prima adalah sebagaimana sebelum keberadaan Adam (tidak terjadi perubahan atas kesejajaran (tinggi-rendah) posisi antara elemen-elemen Malaikat-Iblis), yang sekaligus menegaskan bahwa dualitas tinggi-rendah merupakan bentuk `ilusi' atas keterbatasan pemahaman ego atas manifestasi kesempurnaan-NYA.

Kedua kerangka penalaran yang tersebut menjelaskan hakekat keberadaan akal dan budi manusia. Akal (pikiran) membentuk pemahaman (atas esensi kesempurnaan) yang didasari oleh manifestasi fisik/material/inderawi, sementara budi membentuk pemahaman yang didasari oleh manifestasi non-fisik/perasaan.

Keberimbangan/kesejajaran diantara elemen-elemen proyeksi/sublimasi Kausa Prima (Malaikat dan Iblis) merupakan realitas bagi/atas manifestasi kesempurnaan yang sesungguhnya. Keberimbangan/kesejajaran antara kecerdasan akal/otak/pikiran (IQ) dan kecerdasan perasaan/emosi (EQ) adalah realitas kesempurnaan pemahaman ego yang sesungguhnya – Kecerdasan Spiritual (SQ).

Pertanyaan yang menarik adalah; jika segala sesuatu sesungguhnya memang terjadi atas kehendak/manifestasi kesempurnaan-NYA, dimana segala bentuk dualitas (sesungguhnya) merupakan `ilusi' pemahaman atas/bagi manifestasi kesempurnaan-NYA, untuk apa kehidupan (manusia) diciptakan? Bukankah hal tersebut (seolah-olah) mengisyaratkan bahwa Tuhan `ingin' merasakan/mengalami fase-fase/tahapan-tahapan/evolusi/bentuk-bentuk/keberagaman/ perbedaan-perbedaan kehidupan melalui ciptaan-NYA yang paling sempurna (manusia)? Berawal dari Sang Sempurna dan/untuk menuju/kembali kepada Sang Sempurna.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers