Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Oktober 2013

Sisa Nafas Patrimonialisme Indonesia di Era Pasca-Soeharto


Patrimonialisme merupakan sebuah sistem bentukan hubungan dari sang “patron” atau induk dengan “client” atau anak buahnya. Dalam patrimonialisme sang patron bertindak protektif kepada sang client dengan harapan sang client nantinya dapat menjaga kekuasaan atau hegemon sang “patron” yang telah memberikan dukungan pada si “client.” Sehingga, menurut Crouch (1979), kekuasaan sang pemimpin sangat tergantung oleh bagaimana kapasitasnya untuk memenangkan dan mempertahankan loyalitas dari para bawahannya yang berbentuk elit politik.
Patrimonialisme merupakan sebuah bentuk model sistem budaya politik yang telah mengakar di Indonesia sejak era kerajaan pada abad keempat masehi hingga era reformasi (perpolitikan modern). Pemusatan kekuasaan atau sentralisasi kekuasaan merupakan aspek terpenting dari hidupnya sistem patrimonialisme, sehingga peran satu orang yang sangat berkuasa (otokratis) memiliki andil yang besar terhadap keberlangsungan nafas sistem sosial ini. Pada abad ke empat setelah masehi, para pedagang, negarawan, maupun para misionaris yang berasal dari negara-negara Hindu seperti India melakukan ekspansi kebudayaannya menuju Indonesia. Sehingga, pada zaman tersebut kebudayaan di Indonesia yang sebelumnya memiliki keyakinan atas animisme dan dinamisme saja mengalami peleburan atau asimilasi kebudayaan yang akhirnya melahirkan sebuah kepercayaan atas adanya dewa-dewa, politheisme.
Kepercayaan tersebut tak hanya berdampak pada aspek religiusitas semata bagi masyarakat maupun kerajaan yang ada, tetapi juga pada aspek sosial dan politik pemerintahan. Dalam masyarakat tradisional, menurut Gabriel Almond, masih belum ditemukan adanya bentuk sekularisasi kultural maupun diferensiasi struktural. Dalam konteks sekularisasi kultural, dalam masyarakat tradisional masih ada batasan yang jelas atas sang pemimpin dan yang dipimpin. Di dalamnya berkembang adanya mistifikasi-mistifikasi atas sang pemimpin dengan melibatkan bentuk kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat yang luas. Sang pemimpin atau raja merupakan keturunan langsung dari dewa dan maraknya cerita mistis yang mengagung-agungkan kekuatan sang pemimpin dengan berbagai macam mitos dan kemampuan. Sehingga hal tersebut tentu memberikan batas kepada masyarakat biasa bahwa mereka ditakdirkan sebagai yang dipimpin. Sehingga dalam hal ini, peran sang raja merupakan aspek yang sangat penting bagi keberlangsungan sebuah pemerintahan. Hal tersebut ditambah lagi dengan belum terciptanya diferensiasi struktural, dimana dalam konsep tersebut dikenal adanya spesialisasi sistem bagi sang pemimpin. Dimana sekarang dikenal adanya kelembagaan yang fokus dalam kajiannya masing-masing, tetapi pada zaman kerajaan semua pekerjaan dibebankan kepada sang raja. Tentunya hal tersebut mendukung atas hadirnya konsep patrimonialisme yang terpusat pada satu pemimpin semata.
Dalam perkembangannya hingga mencapai dunia modern, tentunya modernisasi atas segala aspek kehidupan kian hari kian mengikis praktek mistifikasi kepada sang pemimpin. Dalam masyarakat yang modern mulai dikenal adanya spesialisasi kelembagaan yang lebih jauh lagi akan menuntut hadirnya para pakar. Selain daripada itu, dengan berkembangnya demokrasi dalam masyarakat, yang notabene telah melegalkan segala bentuk partisipasi kerakyatan dalam pemerintahan, telah menghapuskan tentang adanya batasan kepemimpinan. Legalnya partisipasi publik jelas meluruhkan adanya mitos takdir antara “sang pemimpin” dengan “yang dipimpin” karena masyarakat biasa pun kini dapat ikut andil dalam pemerintahan.
Tetapi perubahan sistem sosial dalam masyarakat telah berubah dengan mudahnya seperti itu? Saya rasa tentu tidak.
Meskipun dengan hadirnya proses demokrasi di era reformasi pasca-1998, demokratisasi terjebak dalam kolom demokrasi formal-elektoral semata. Dalam konteks demokrasi formal, masih banyak ditemukan masyarakat yang hingga kini mengandalkan peran dari kelembagaan untuk membuat sebuah kebijakan, seperti DPR maupun DPRD. Selain daripada itu, masyarakat Indonesia mengenal konsep demokrasi dengan bentuk pemilihan umum semata. Bahwa sesungguhnya, memang benar pemilihan umum merupakan aspek penting dari demokrasi, tetapi pemilihan umum bukanlah satu-satunya praktek demokrasi. Masih sering kita lihat, bahwa kurangnya partisipasi masyarakat dalam pembentukan kebijakan masih terjadi. Justru apatisme dari masayarakat yang kian hari tidak percaya dengan pemerintahan justu lebih nampak dalam sistem sosial di Indonesia.
Sistem patrimonialisme sangat kerap hubungannya dengan sistem yang oligarkis, dimana kepentingan kelompok atau pun bentuk kepentingan kelompok yang terpusat pada pemimpin (dalam patrimonialisme) merupakan hal yang terpenting untuk terlaksana. Sehingga, dengan adanya sekat dimana masyarakat sipil tidak bisa secara langsung berpartisipasi dalam pembentukan kebijakan justru mendukung untuk semakin berkembangnya konsep oligarkis, bahkan patrimonialisme. Karena dengan tidak mampunya masyarakat sipil untuk langsung berpartisipasi jelas memberikan ruang yang sangat luas bagi para politisi untuk bertindak atas kepentingannya sendiri. Bukankah pada zaman awal proklamasi Indonesia jirih payah proses memerdekakan bangsa ini terpusat pada kelompok tertentu saja? Lalu mengapa tindakan mereka tak oligarkis ataupun patrimonialis? Indonesia setelah generasi Soekarno-Hatta tidak lagi ditandai dengan kiprah negarawan-pemikir ataupun pemikir-negarawan, melainkan militer, birokrat, ataupun politisi karbitan. Akibatnya, Pancasila maupun UUD 1945 sering tidak konsisten dan tidak bermakna lagi. Para militer, birokrat maupun politisi karbitan sebegitu jauh menampilkan diri sebagai penguasa yang lebih berorientasi jangka pendek mengutamakan akumulasi kekuasaan dan kekayaan, seraya memberangus pemikiran kritis di kalangan masyarakat sipil.
Dengan berdasarkan penjelasan diatas dapat kita tarik suatu benang merah, bahwa sistem patrimonialisme di Indonesia hanya berubah atau bermanifestasi dalam bentuk yang berbeda tanpa adanya peluruhan yang masiv. Ketika sistem patrimonialisme sangat dituding bergejolak pada masa Orde Baru yang otokratis, kini dalam masa reformasi yang dibilang menjunjung tinggi demokrasi justru tetap menampakkan sifat oligarki dalam substansinya ketimbang demokrasi. Demokrasi hanya berjalan secara prosedural tanpa memikirkan aspek substansi yang ada. Masih terlihat, hingga sekarang para politisi bertindak demi perutnya sendiri hingga lupa atas janji yang telah mereka berikan. Presiden (pemimpin) pun hanya bergerak atas kepentingan kelompoknya sendiri. Secara jelas dalam masa pemerintahan Orde Baru bentuk patrimonialisme dibuktikan dengan tindakan Soeharto dalam penganak emasan badan militer, hingga terciptanya konsep dwifungsi ABRI. Lebih jauh lagi, dalam proses pemilihan umum Golkar selalu menjadi partai pemenang dengan memanipulasi bentuk sistem pemerintahan atau kepartaian yang ada. Meskipun corak patrimonialisme sangat ketara dalam pemerintahan Orde Baru, dalam pemerintahan pasca Orde Baru pun masih tampak juga kehadiran dari sistem patrimonialisme. Contohnya, dalam era presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam proses penarikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tidak mendukung atas konsepsi tersebut berubah haluan menjadi oposisi. Hal tersebut tentu membuktikan terlaksananya sistem patrimonialisme dalam pemerintahan Indonesia kontemporer. Karena PKS, yang notabene merupakan client, tidak lagi mendukung proses politik yang dirangkul oleh sang patron yaitu presiden maupun kamu elit, sehingga PKS pun harus hengkang dalam aliansi kepartaian sang patron.
Dapat disimpulkan bahwa hingga kini bentuk patrimonialisme hanya bermani-festasi kedalam bentuk yang berbeda. Dengan masih adanya sekat yang memisahkan para masyarakat sipil dalam proses pembuatan kebijakan secara langsung dengan para politisi yang bekerja secara tertutup akan tetap menumbuhkan sistem patrimonialisme yang ada di pemerintahan Indonesia. Karena dengan adanya pemisah tersebut kepen-tingan kelompok dalam bentuk hubungan patron-client antara pemimpin dan elit menjadi susah untuk tidak terhindarkan.
————-
Crouch, Harold. 1979. Patrimonialism and Military Rule in Indonesia. Cambridge:Cambridge University Press.
Revida, Erika. 2005. Korupsi di Indonesia: Masalah dan Solusinya. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Scott, James. 1972. Patron-Client Politics and Political Change in Southeast Asia. The American Political Science Review. Vol. 66.

Rabu, 02 Oktober 2013

Seri Politik dalam Kehidupan: Perseteruan Thomas Edison dengan Nikolas Tesla

Dunia telah dihiasi dengan perseteruan, perang berkaitan dengan ambisi untuk mendapatkan dominasi dan kekuasaan. Hal ini juga terjadi di dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya penemuan mengenai pengembangan listrik. Pertanyaannya adalah mengapa arus listrik yang didistribusikan PLN adalah arus AC dan bukan DC? Ada cerita persaingan menarik dibalik kenapa kita sekarang memakai arus AC. Inilah kisah nyata perang arus tersebut.

Nicola Tesla
Nicola Tesla adalah seorang jenius, penemu berbagai aplikasi yang berkaitan dengan listrik. Sebut saja lampu neon, remote control, dan masih banyak lainnya. Banyak penemuannya yang baru terasa kegunaannya puluhan tahun kemudian. Saking jeniusnya, banyak yang memitoskan Nikola Tesla. Sebagian rancangan temuannya disembunyikan oleh pemerintah AS karena takut ditemukan pihak musuh (Jerman saat itu). Bahkan Hollywood pernah memakai namanya untuk suatu penemuan mesin listrik pengcopy mahkluk hidup dalam film “The Prestige”. 

Temuannya yang masih banyak membuat orang kagum karena ditemukan puluhan tahun yang lalu adalah gelombang mikro dan lampu neon. Pada Expo Fair 1893 di Chicago, Tesla mendemonstrasikan lampunya yang dapat dipegang dan bersinar lebih terang dari lampu Edison. Itulah dasar dari lampu neon. Apa yang ditemukan Tesla merupakan dasar untuk lampu hemat energi yang dikembangkan seratus tahun kemudian. Artinya, Tesla sudah memikirkan soal hemat energi dari listrik. Benarkah? Tentu saja tidak. Mana mungkin orang jaman dulu berfikir hemat listrik, lha wong listrik baru saja dimulai pemakaiannya. 

Sedangkan temuan gelombang mikro dipakainya untuk mengirim kode morse tanpa kabel, menghancurkan gedung, dan remote control. Sayangnya penciptaan alat pengirim kode morse tanpa kabel didahului oleh Marconi. Padahal Marconi dalam membuat pemancar radionya memakai 17 alat temuan Tesla yang sudah dipatenkan. Sedangkan gelombang mikro penghancur gedung kemudian dikembangkan menjadi alat masak microwave yang sekarang menjadi alat masak wajib bagi rumah tangga di negara-negara maju. Remote control sudah didemonstrasikannya pada 1898 dan baru digunakan dalam kehidupan rumah tangga pada 1960-an.

Nikola Tesla dilahirkan di kota Smiljan pada 10 Juli 1856 sebagai keturunan Serbia. Smiljan sekarang berada di wilayah Kroasia. Kepandaiannya mengantarkan Tesla bekerja pada perusahaan Thomas Alva Edison di Perancis, dan kemudian ditarik ke Amerika Serikat.

Thomas Alva Edison adalah penemu berbagai aplikasi yang berpengaruh pada kehidupan sehari-hari sampai saat ini, seperti lampu, phonograph, dan kamera perekam gerak. Ia juga disebut “tukang sihir dari Menlo Park”, saking hebatnya penemuan-penemuannya. Edison juga seorang pengusaha yang sukses.

Tesla hanya setahun bekerja pada Edison. Ia keluar dari perusahaan Edison karena Edison ingkar janji, tak membayar gaji yang dijanjikannya sebesar $50.000. Ia kemudian bergabung dengan Westinghouse, seorang pesaing Edison. Ibarat langit dan bumi dengan Edison, Westinghouse adalah seorang gentleman yang selalu memegang janji. Mereka menjadi partner yang sempurna, dan kerjasama Tesla dengan Westinghouse menghasilkan banyak temuan menakjubkan.

Di awal penggunaan listrik, arus listrik langsung (Direct Current atau DC) mendominasi distribusi listrik di Amerika Serikat. DC merupakan pilihan Edison dimana perusahaannya, General Electric, mendominasi penjualan peralatan listrik. DC merupakan arus listrik yang fleksibel karena dapat menyalakan alat listrik dengan voltase rendah ataupun tinggi. Di samping itu, listrik DC dapat disimpan dalam sebuah baterei.




Add captionGenerator DC Edison di Los Angeles. Bangunan tempat generator ini berada adalah banguna pertama yang dialiri listrik di dunia
Namun demikian DC memiliki kelemahan. Generator listrik harus berada paling jauh 1 mil dari pengguna listrik. Jika tidak, ada kecenderungan voltase akan drop karena besarnya gesekan antara listrik dengan konduktornya. Oleh sebab itu, di setiap area dibutuhkan generator listrik tersendiri. Di samping itu, DC tidak mudah diubah voltasenya sehingga setiap voltase harus dihasilkan oleh satu generator listrik tersendiri. Misalnya diperlukan listrik dengan tiga voltase berbeda maka harus disediakan tiga generator listrik yang menghasilkan voltase berbeda. Oleh sebab itu, kabel yang membawa listrik tersebut memiliki diameter lebih dari 10 cm karena membawa listrik berbagai voltase. Dan biaya untuk hal ini tentu sangat mahal.

Ketika masih jadi pegawai Edison, Tesla sudah memperingatkan kelemahan DC ini dan mengusulkan arus alternatif yaitu AC (Alternating Current). Namun Edison menolaknya dan mengatakan ide itu absurd. AC memang tidak dapat disimpan dalam batere dan tidak sefleksibel DC dalam menyediakan voltase yang berbeda. AC hanya menghasilkan listrik bervoltase tunggal dan tinggi pula. Namun kelemahan ini dapat ditanggulangi dengan transformator, begitu penjelasan Tesla. Tapi Edison tak mau mendengar.


Setelah keluar dari perusahaan Edison, Tesla membawa idenya ke Westinghouse. Oleh Westinghouse, ide Tesla diterima dan dipraktikkan pada Expo Fair 1893 di Chicago. Hasilnya sukses besar. Listrik AC ternyata dapat diwujudkan dengan ongkos yang murah meriah. AC memang diciptakan untuk mengatasi kelemahan DC. Lokasi generator listrik penghasil AC dapat lebih jauh dari satu mil dari pengguna. Di samping itu, AC hanya memerlukan satu generator saja. Ketika sampai ke pengguna, penurunan voltase diserahkan pada transformator yang kecil dan murah. Jadi tidak memerlukan banyak generator untuk menghasilkan berbagai voltase. Oleh sebab itu, transmisi listrik AC hanya membutuhkan kabel yang jauh lebih kecil dan biaya yang juga jauh lebih kecil.

Saat itu, diyakini air terjun Niagara dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar. Perusahaan Niagara Falls Power Company (NFPC) mengadakan tender untuk memproduksi listrik dari jeram Niagara untuk kota Buffalo, kota terdekat dengan jeram Niagara. NFPC tentu tidak gegabah memilih 19 proposal yang dikirim perusahaan listrik termasuk milik Edison dan Westinghouse (rekan bisnis Tesla). Jelas, Edison menggunakan metode DC dan Westinghouse menggunakan metode AC dengan mesin yang patennya dimiliki Tesla.



Dan akhirnya diputuskan metode AC yang menang. Pertimbangannya adalah biaya yang lebih murah, suksesnya Westinghouse menyediakan listrik untuk Expo Fair 1893 di Chicago, juga banyaknya peralatan listrik yang dibuat untuk listrik AC oleh Westinghouse.

Sebelum pemenang diumumkan, Tesla mengatakan bahwa jeram Niagara tidak hanya dapat menghasilkan listrik untuk kota Buffalo, tapi juga untuk seluruh wilayah timur AS, asal menggunakan AC sebagai metode penghasil listrik (tentu saja kondisi waktu itu berbeda dengan kondisi sekarang dimana wilayah timur AS Konsumsi listriknya luar biasa besarnya). 

Kemenangan Westinghouse dan Tesla membuat berang Edison. Ia tahu, dengan kemenangan ini Westinghouse akan ditunggu oleh berbagai proyek distribusi listrik. Berarti uang jutaan dollar melayang dari tangannya.




Akhirnya Edison melakukan kampanye hitam, menuduh AC tidak aman bagi manusia. Edison mengumumkan bahwa hewan peliharaan seperti kucing dan anjing, ataupun hewan ternak seperti sapi maupun kuda dapat mati kalau kena aliran listrik AC. Selanjutnya, ia juga membuat film dokumenter bagaimana seekor gajah sirkus yang sebelumnya telah membunuh 3 orang dieksekusi mati dengan menggunakan listrik AC. Alih-alih ingin kampanye hitam, justru film Edison ini memicu ide pembuatan kursi listrik untuk mengeksekusi terpidana mati.

Perang arus listrik baru berhenti setelah Edison mengaku menyesal tidak mendengarkan ide Tesla sebelumnya. Akhirnya perusahaan Edison, General Electric, mau memproduksi alat listrik yang menggunakan AC. Dapat dimaklumi mengapa Edison tidak faham dengan ide Tesla. Edison adalah penemu ulung, namun pendidikannya kurang karena tidak menyelesaikan sekolah dasar resminya, dan pengetahuannya berkembang karena otodidak. Hal itu menyebabkan Edison tidak mampu membaca rumusan matematika yang kompleks. Padahal ide Tesla dapat difahami jika memiliki ketrampilan menggunakan matematika.

Sekarang penggunaan listrik AC sudah mendunia. Metode DC benar-benar ditinggalkan untuk listrik bervoltase tinggi. Terakhir tercatat kota Stockholm di akhir 1970an mengakhiri penggunaan DC. Sedangkan di AS, generator listrik DC terakhir ditutup tahun 2007. Sekarang pengguna DC dapat menggunakannya melalui converter atau umum disebut adaptor. Sampai saat ini listrik DC tetap dipakai untuk alat listrik bervoltase rendah seperti radio dan mainan.


Tapi cerita belum selesai. Perkembangan teknologi selanjutnya memungkinkan munculnya High Voltage Direct Current (HVDC) untuk mengatasi kelemahan AC. HVDC memungkinkan listrik disalurkan dengan lebih efisien dibanding metode AC karena dapat mengalirkan listrik lebih jauh. Aplikasinya digunakan untuk menyalurkan listrik melalui kabel bawah laut. Bayangkan jika panjangnya 50 mil, maka dengan memakai AC setiap 10 mil harus dibangun penguat listrik di bawah air. Kalau kedalamannya 100 meter, bagaimana membangunnya?

Penemuan hebat Tesla yang lain adalah mobil listrik. Mobil listrik temuan Tesla tidak menggunakan baterai, tetapi menggunakan ether yang terdapat di udara. Proyek mobil listrik ini dilaksanakan pada tahun 1931, dibiayai oleh Pierce Arrow dan Westinghouse. Namun ciptaan Tesla ini disabotase oleh J.P. Morgan, J.D. Rockefeller dan Henry Ford. Rockefeller memberangus mobil listrik Tesla, karena jika mobil tak lagi memerlukan gasoline, maka perusahaan minyaknya, Standard Oil Company akan bangkrut. Adapun Henry Ford membekap mobil listrik Tesla, karena perusahaannya memproduksi mesin-mesin mobil yang menggunakan gasoline!

Inilah mobil listrik temuan Tesla. Keren, anti polusi, dan tak memerlukan gasoline. Sayang keburu ‘dibunuh’ oleh para raksasa minyak dan produsen mesin mobil pengguna minyak
Pada masa tuanya, Tesla ditinggalkan oleh sahabat-sahabat dekatnya yang sudah lebih dulu meninggal. Orang yang ‘melistrikkan’ planet bumi ini hampir terlupakan oleh dunia. Menjelang akhir hidupnya, ia banyak menghabiskan waktu dengan memberi makan burung merak di Bryant Park, Fifth Avenue. Tesla meninggal pada 7 Januari 1943.

Tesla tak pernah menikah dan tidak memiliki ahli waris. Ia juga tidak meninggalkan surat wasiat. Maka setelah ia meninggal, semua karya tulis dan penemuan-penemuannya diambil oleh FBI dan dibawa ke Washington City dalam klasifikasi TOP SECRET. Penemuan-penemuannya di kemudian hari menjadi dasar pembuatan senjata massal yang dikembangkan oleh Pentagon.

Minggu, 10 Maret 2013

Jose Mujica dari Uruguay, Presiden Termiskin Di Dunia


Tak banyak para pemimpin di dunia ini yang bersedia memilih bergaya hidup sederhana. Salah satu dari yang tak banyak itu adalah Presiden Uruguay, Jose Mujica (77). Kendati mengambil gaji sebagai presiden, namun dia menyumbangkan 90 persen gajinya untuk beramal. Ini membuatnya dijuluki 'Presiden Termiskin di Dunia'.

klik!
Jose Alberto Mujica Cordano, demikian nama lengkapnya, menjadi Presiden Uruguay sejak tahun 2010. Sebelumnya, mantan gerilyawan sayap kiri ini menjadi Menteri Pertanian, Peternakan dan Perikanan dari tahun 2005-2008, kemudian menjadi Senator.

Gaya hidup sederhananya menjadi sorotan dan perhatian dunia. Gaji Mujica sebagai presiden per bulan adalah US$ 12 ribu atau Rp 116 juta. Mujica mengambilnya, namun menyumbangkan 90-an persen penghasilannya untuk beramal kepada warga yang miskin dan membutuhkan. Mujica hanya menyisakan US$ 800 atau Rp 7,7 juta gajinya, nyaris seperti rata-rata pendapatan per kapita Uruguay, US$ 775 atau Rp 7,5 juta, demikian dilansir dari New York Times dan BBC.

Nah, gaya hidup seperti apa yang Mujica lakoni dari gaji yang disisakan 'hanya' US$ 800 per bulan di Uruguay?


Mujica tinggal di rumah peternakan milik istrinya di pinggiran Montevideo. Alih-alih seperti Istana, rumah peternakan ini bisa dibilang bertipe 'RSS' alias rumah sangat-sangat sederhana. Cucian tampak tergantung di luar rumahnya, tampak sumur di halaman rumahnya yang ditumbuhi rumput liar. Dari sumur itu sumber air rumah tangga Mujica terpenuhi.

Jangan bayangkan pula ada sekompi Paspampres berjaga ketat. Rumah Mujica hanya dijaga 2 orang polisi serta beberapa anjing milik Mujica, salah satunya Manuela yang berkaki tiga. Jangan bayangkan pula ada kepala pelayan atau kepala rumah tangga yang bisa melayani dan memasak apa saja seperti layaknya rumah kepala negara.

Mujica dan istrinya bekerja sendiri memenuhi kebutuhan mereka. Termasuk menggarap tanah pertanian mereka dengan bercocok tanam bunga krisan untuk dijual. Maklum, profesi asli Mujica adalah petani.

Pada tahun 2010, saat menjadi presiden, Mujica wajib melaporkan harta kekayaannya, semacam Laporan Hasil Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) di Indonesia. Ternyata, diketahui kekayaannya berjumlah US$ 1.800 atau Rp 17,4 juta, itu pun 'hanya' nilai dari mobil VW Kodok lawas tahun 1987 miliknya.

Tahun 2012, Mujica menambahkan aset-aset milik istrinya, Lucia Topolansky, yang juga mantan gerilyawati yang sekarang menjadi Senator. Penambahan aset itu berupa tanah, traktor dan rumah hingga kekayaannya menjadi US$ 215 ribu atau Rp 208 juta.

Kekayaan ini hanya dua per tiga dari kekayaan wakilnya Danilo Astori dan sepertiga kekayaan presiden sebelumnya Tabare Vasquez.

"Saya mungkin terlihat sebagai manusia tua yang eksentrik. Namun ini adalah pilihan bebas. Saya telah hidup seperti ini di sebagian besar hidup saya. Saya bisa hidup dengan baik dengan apa yang sudah saya punya," kata Mujica seperti dilansir dari BBC.

Saat menjadi gerilyawan, Mujica memang akrab dengan lingkungan yang keras, tertembak 6 kali dan dipenjara 14 tahun. Sebagai tahanan politik, dia kemudian dibebaskan pada 1985. Tempaan hidup yang keras ini membantu membentuk pandangan dan cara hidupnya.

"Saya dijuluki 'presiden termiskin', tapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin itu adalah mereka yang hanya bekerja untuk memenuhi gaya hidup yang mahal, dan selalu ingin lebih dan lebih. Ini hanyalah masalah kebebasan, jika Anda tak memiliki banyak keinginan, Anda tak perlu bekerja seumur hidup seperti budak untuk memenuhinya. Dan dengan begitu Anda memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri," tutur Mujica.

Mujica juga seorang vegetarian, dan dia sangat mendukung kebijakan penggunaan energi terbarukan seperti tenaga angin dan biomassa. Namun ada juga kebijakannya yang kontroversial seperti legalisasi ganja dan aborsi.

Di balik kebijakannya yang kontroversial itu, sekali lagi Mujica menegaskan bahwa gaya hidup seperti ini adalah pilihan hidupnya. "Ini adalah suatu pilihan bebas," tutur pria kelahiran 20 Mei 1935 ini.


Sumber : detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers