Tampilkan postingan dengan label anekdot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anekdot. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 April 2012

Which come first? The chicken or the egg? Age old question answered.


Here is the answer to the age old question of which came first the chicken or the egg? 

(PHYSORG)- In the second report of our Egg Cetera series on egg-related research, let’s begin with the age-old question: which came first, the chicken or the egg? Armed with knowledge of evolution, the answer is straightforward. Eggs came first.

Dinosaurs, the animal group that includes birds and their ancestors, laid eggs. This means that the ancestors of birds laid eggs long before chickens came about. Because we know so much about the evolution of life on Earth, this answer now seems obvious. But without fossils, and without understanding how evolution works, we could have got it wrong.

My research focuses on the evolution of dinosaurs, and what that tells us about the evolution of the many distinctive features of birds, such as hollow air-filled bones, warm-bloodedness, feathers and flight.

Archaeopteryx, which lived 150 million years ago, shows a mosaic of bird-like features such as feathery wings, alongside distinctly non-birdy features such as teeth and a long bony tail. Fossil remains of archaeopteryx were first found in 1861. However, until recently, there was no consensus about where, evolutionarily speaking, birds came from. Scientists were confident that, among today’s animals, they formed a group with crocodiles, but how they fitted in with the vast diversity of extinct groups was not clear.

The idea that birds are descendants of dinosaurs was first proposed by Thomas Henry Huxley in 1869, but received little support until discoveries of the bird-like dinosaur Deinonychus (Jurassic Park’s ‘Velociraptor’) by John Ostrom in the 1960s. More recent discoveries include dinosaur fossils from China, preserved in ancient lake beds, complete with feathers.

Many features thought to be characteristic of birds have an ancient evolutionary history. For example, ‘pneumatic’ air-filled bones first appeared in Late Triassic dinosaurs, 200 million years ago, and were common in saurischians like Tyrannosaurus rex and Diplodocus.

We can also look at the evolution of eggs from the earliest fossil evidence right up to the egg we might eat for breakfast today. Like crocodiles and some turtles, birds lay hard-shelled eggs, enclosed by a calcitic, mineralised layer. These are unlike the primitive, leathery eggs of lizards, snakes, many turtles, and egg-laying mammals such as the platypus. Bird eggs also have a number of unique features not found in other reptile eggs. They form long shapes, not spheres, and they taper towards one end rather than being symmetrical. Furthermore, birds incubate their eggs directly using body heat, and they ovulate and lay one egg at a time, whereas crocodiles and other reptiles have two functional oviducts.

Kamis, 29 Maret 2012

Einstein Menjawab


Orang-orang akan bertanya, siapa yang menciptakan matahari, bumi dan bulan? Siapa yang mengatur mereka pada posisi yang begitu akurat, mengapa bisa terjadi gerhana matahari total yang begitu aneh? Siapa yang membuat bumi mengitari matahari dan ia juga berotasi, dan bulan berotasi mengelilingi bumi, dari hari ke hari, tahun ke tahun? Kekuatan apa yang membuat mereka bertahan pada orbitalnya masing-masing dengan abadi? Dan dalam kehidupan kita sehari-hari, yang kecil mulai dari mobil, yang besar sampai pesawat terbang, kereta api, pesawat angkasa buatan manusia harus memerlukan banyak orang yang terlibat, bila tidak ada energi maka tidak bisa dijalankan. Di Barat, Timur dalam alkitab Perjanjian Lama, Al-Qur'an  memberitahu orang, Tuhan menciptakan langit dan bumi.



Di China, pada zaman dulu juga tersebar cerita Nuwa menggunakan tanah menciptakan manusia, Pan Ku menciptakan langit dan bumi. Namun setelah komunis China berkuasa, menggunakan ajaran atheisme komunisme Marxis mengindoktrinasi orang-orang China, dari taman kanak-kanak sampai universitas, dalam kehidupan sehari-hari, di lingkungan kerja semua hidup di bawah pengendalian semacam suara media. Terutama selama Revolusi Besar Kebudayaan, budaya lima ribu tahun China telah hampir hancur, sampai abad terakhir pada pertengahan 70-an mulai melakukan hubungan dengan negara Barat, masyarakat hanya dapat berbicara tentang dewa-dewa secara pribadi, menyembah dewa-dewa, Buddha dan Tao. Jadi, jika Anda bertanya siapa yang menciptakan langit dan manusia ke orang-orang China, para ilmuwan dan orang atheis akan mengatakan itu adalah "fenomena alam", "hasil evolusi". Sangat jelas bahwa dari “gerhana matahari total” matahari, bulan dan bumi memberitahu orang di dunia, karakteristik tertinggi alam semesta sedang menggendalikan semuanya. Yang kecil mulai dari elektron dalam atom adalah berputar, yang besar sampai tata surya, dan Bimasakti semua berputar, siklus manusia juga berputar. Munculnya fenomena khusus, pasti adalah peringatan ke seluruh makhluk.



Jawaban Einstein :

Menurut majalah "Dominasi selebriti dunia ", pada suatu hari reporter tersebut mengunjungi Albert Einstein dan bertanya kepada dia pemahamannya tentang agama dan keberadaan Tuhan. Saat itu Einstein baru saja mengantar seorang tamu, reporter melihat di meja terletak kopi, permen, biskuit dan benda lainnya. Einstein bertanya pada reporter: "Apakah Anda tahu siapa yang meletakkan cangkir kopi dan benda lainnya di sini?" Reporter menjawab: "Tentu saja Anda." Einstein berkata lebih lanjut: "Benda kecil seperti cangkir kopi dan benda lainnya, memerlukan suatu kekuatan untuk mengaturnya; dengan begitu coba Anda pikir, dalam alam semesta memiliki berapa banyak bintang, dan setiap konstelasi bintang melintas dalam orbit tertentu, kekuatan yang mengatur orbital tersebut adalah Tuhan."


Einstein berkata lagi: "Mungkin Anda akan berkata:" Saya tidak pernah melihat dan mendengarnya, bagaimana saya bisa percaya bahwa Tuhan ada?" Ya, Anda memiliki lima indera, yaitu: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, peraba, tetapi lima indera ini memiliki batas, seperti suara, hanya bisa mendengar di antara panjang gelombang 20 Hz ke 20.000 Hz. Hari ini banyak orang di dunia ini yang berpikir bahwa saya seorang ilmuwan besar, kenyataan saya tidak dapat disebut ilmuwan besar. Ilmuwan yang benar-benar besar adalah Newton. Saya hanya mengoreksi kesalahan dalam perhitungan Newton. Meskipun demikian, Newton berkata: 'Saya hanya kebetulan memungut sebuah kulit kerang yang memancarkan warna warni di pinggir laut, masih jauh dari penemuan kebenaran dari laut. Dengan Newton seorang yang begitu cerdas, bahkan mengatakan masih jauh dari penemuan kebenaran laut, maka kita dengan kepintaran orang biasa, bila hendak mencari kebenaran alam semesta, itu merupakan suatu masalah yang sangat sulit! "



Kemudian, Einstein berkata lagi: "Ada beberapa orang berpikir bahwa agama tidak sejalan dengan kebenaran ilmiah. Aku adalah orang yang berlatar belakang studi sains, saya menyadari sepenuhnya bahwa saat ini ilmu pengetahuan hanya dapat membuktikan keberadaan objek tertentu, dan tidak dapat membuktikan suatu obyek yang tidak nyata. Oleh karena itu, jika kita sekarang tidak dapat membuktikan adanya objek tertentu, maka tidak dapat disimpulkan bahwa ia tidak ada. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu, kami tidak dapat membuktikan keberadaan nuklir, jika saat itu kita buru-buru menyimpulkan bahwa nuklir tidak ada, bukankah pada hari ini akan tertampak kita sudah melakukan kesalahan besar? Oleh sebab itu, pada hari ini iptek tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan, itu dikarenakan iptek belum berkembang sampai batas-batas itu, bukan Tuhan tidak ada. Singkatnya, lima indera manusia ada batasannya, tidak dapat merasakan keberadaan Tuhan, iptek juga tidak dapat menyangkal keberadaan Tuhan, jadi kita harus yakin keberadaan Tuhan."


(Berbagai sumber)

Rabu, 14 Maret 2012

Tubuh: Mesin atau Jagat Raya?


Di hadapan para pembuat mesin automat itu, Descartes terpukau. Baginya, dan juga bagi orang-orang sezamannya di abad ke-17, mesin hidup itu merupakan keajaiban baru: mesin mesin automat itu mampu bergerak sendiri seperti makhluk hidup, dengan keteraturan dan spontanitas yang menakjubkan.


Tak mengherankan bila Descartes pun lantas menulis dalam sebuah risalahnya: "Kita melihat arloji, air mancur buatan, jentera, dan mesin-mesin serupa lainnya, yang meskipun buatan manusia, mempunyai kekuatan untuk menggerakkan dirinya sendiri dengan bermacam-macam cara. Saya tidak melihat perbedaan antara mesin-mesin buatan manusia itu dan berbagai tubuh yang disusun alam sendiri." Lebih jauh lagi, Descartes menarik analogis itu kepada tubuh manusia, katanya: "Saya menganggap tubuh manusia sebagai mesin. Pikiran saya membandingkan seseorang yang sakit dan sebuah arloji yang kurang baik dengan konsep saya tentang seseorang yang sehat dan sebuah arloji yang baik."

Pandangan Descartes tentang tubuh mekanis seperti itu menjadi fondasi bagi ilmu kedokteran modern, dan terus berpengaruh sampai 300 tahun kemudian. Demikianlah selama ratusan tahun fokus ilmu kedokteran modern adalah mereparasi sebuah mesin fisik yang dikenal sebagai tubuh manusia.

Pikiran dan kesadaran manusia dipisahkan dari tubuhnya, dan tak diakui relevansinya dalam kesehatan. Perasaan, hasrat, jatuh cinta, saat-saat terpesona oleh sekuntum mawar atau sebuah wajah cantik, dianggap sebagai produk sampingan biokimiawi. Penyakit pun dilihat hanya sebagai produk sampingan dari molekul-molekul, rusaknya sebuah mekanika dalam tubuh laiknya rusaknya sebuah mesin arloji. Dalam alur logika ini, penyembuhan terhadap penyakit dilakukan dengan cara mengintervensi tubuh mekanik yang rusak. Jadi, misalnya, kalau kita mengetahui bagaimana bakteri bereproduksi, diasumsikan bahwa kita dapat menggunakan antibiotik untuk menghambat proses tersebut sehingga infeksinya hilang.

Harus diakui, model pendekatan biomedis semacam itu telah sangat berhasil menyingkirkan wabah penyakit tertentu, namun ternyata wabah penyakit lain meruyak menggantikannya. Kita memang terhindar dari ancaman polio, cacar air, dan malaria, namun lantas diserbu oleh sepasukan penyakit-penyakit ganas seperti stroke, kanker, kelainan degeneratif, AIDS, serta kecanduan obat-obatan dan alkohol. Dalam model kedokteran klinis semacam ini pula, sang dokter mendekati pasiennya bak seorang mekanik memperlakukan mesin kendaraan. David Simon, MD, dalam The Wisdom of Healing (Interaksara: 2006), bahkan mengibaratkan bahwa dalam model biomedis sang dokter mendekati pasiennya laiknya seorang polisi menginterogasi korban suatu kejahatan.


Untungnya, dalam beberapa dasawarsa belakangan ini terdapat perkembangan baru dalam dunia kedokteran, yakni tumbuhnya kesadaran akan pentingnya mendekati manusia secara menyeluruh. Timbul pula minat yang antusias terhadap model-model pendekatan tradisional seperti termaktub dalam Ayurveda, kitab I-Ching, dan lain-lain. Ilmu kedokteran Barat kini mulai mengakui bahwa kita harus juga merawat orangnya selain penyakitnya, bahwa kita harus mengenali sebab-sebab yang melandasi kesehatan yang buruk dan berusaha mengatasinya bahkan sebelum gejalanya timbul, bahwa nutrisi yang baik, olahraga yang tepat, kesetimbangan emosional, dan keheningan spiritual juga sama pentingnya bagi kesehatan sebagaimana obat-obatan dan pembedahan.

Alam Semesta di Dalam Tubuh Manusia
Telah datang masa ketika tubuh manusia tidak lagi dilihat sebagai mesin mekanik, melainkan sebuah organisme hidup yang memiliki arus gelombang kesadaran, bahkan kecerdasan. Pendekatan kedokteran mutakhir, yang disebut ilmu kedokteran tubuh-pikiran (mind body)--yang dipengaruhi pendekatan Ayurveda--menyatakan bahwa tubuh kita merupakan sungai atom, sementara otak merupakan sungai pikiran, dan keduanya disatukan oleh aliran sungai kecerdasan. Dalam tubuh manusia mengalir sungai inteligensi, sehingga, seperti arus sungai yang senantiasa berubah-ubah meskipun tampak sama, tubuh kita pun mengalami transformasi dan pembaharuan terus-menerus.

Bila kita memandang tubuh sebagai struktur fisik yang tetap, bak sebongkah patung, atau sebuah jam, maka sungguh logis bila kita melakukan pembedahan untuk membuang bagianbagian yang rusak. Tetapi, bila kita memandang tubuh sebagai sebatang sungai atau hamparan jagat raya dengan jaringan inteligensi yang luar biasa, dapatlah kita membayangkan kemungkinan-kemungkinan kesembuhan yang baru dan berbeda sama sekali. Dari perspektif ini, kita bisa mempengaruhi kesehatan kita melalui makanan yang kita cerna, emosi-emosi dan geletar perasaan yang kita alami, keputusan dan sikap kita dalam merespons masalah, serta pola-pola dan melodi kehidupan kita sehari-hari.


Pandanglah hamparan tubuh kita dengan saksama: seperti jagat raya, dalam satu waktu ia bisa mengkoordinasikan aktivitas yang hampir tak berhingga, dengan mengagumkan: kita makan, bernapas, bercengkerama, mencerna, membersihkan racun, melawan infeksi, memperbarui sel-sel, membuang limbah tubuh, dan pelbagai aktivitas lainnya.Setiap aktivitas organ tubuh saling berkorespondensi satu sama lain dalam membentuk jagat raya tubuh secara keseluruhan. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa tubuh kita adalah jagat raya alit yang menyerupai dan saling mempengaruhi dengan jagat raya besar di luarnya.

Deepak Chopra, MD, dalam kajian menarik bertajuk Quantum Healing: Exploring the Frontiers of Mind/Body Medicine (Bantam Books:1989), melansir suatu penelitian spektakuler yang membuktikan bahwa sejumlah zat kimia, yang sebelumnya diyakini hanya dihasilkan di otak, ternyata dihasilkan pula oleh sel-sel di dalam kelenjar-kelenjar tubuh lainnya. Sehingga, inteligensi tak hanya dilokalisasi di saraf pusat, namun juga terdapat di keseluruhan jaringan tubuh. Jadi, organ seperti hati, perut, dan jantung juga memiliki inteligensinya sendiri. Dengan menguak kecerdasan misterius jagat raya tubuh ini, kita bisa memahami kenapa separut luka akibat tergores pisau bisa sembuh dengan sendirinya, dan bahkan telah banyak penyakit kanker yang sembuh secara tiba-tiba.


Mendekati manusia secara holistik, berarti juga mengakui pentingnya dimensi kasih dalam perjumpaan antara pasien dan dokternya. Setiap dokter ada baiknya mengingat pesan Galen, seorang dokter paling awal dari Yunani kuno: "Di mana ada kasih, ada juga kasih kepada seni (penyembuhan sang dokter). Sebab, ada pasien yang, walaupun sadar bahwa kondisinya berbahaya, tetap saja pulih kesehatannya hanya dengan mengandalkan dirinya dengan kebaikan dan welas asih sang dokter."

Menurut saya, munculnya pendekatan ilmu kedokteran pikiran-tubuh (mindbody) ini tidaklah mensubstitusi ilmu kedokteran biomedis, melainkan saling melengkapi. Visi baru ilmu kedokteran mutakhir haruslah menjadi perpaduan yang cantik dan harmonis antara ilmu kedokteran modern dan ilmu kedokteran tradisional yang bersumber dari pelbagai khazanah. Konsekuensinya, bagi para dokter yang terdidik dalam ilmu kedokteran biomedis, diperlukan kerendahan hati untuk menyerap wawasan-wawasan tua dari ilmu kedokteran tradisional. Sedangkan bagi para penyembuh tradisional, diperlukan keterbukaan terhadap perkembangan baru dalam ilmu kedokteran modern. Sekat-sekat ilmu dan pelbagai prasangka harus diterobos, agar manusia bisa diperlakukan secara lebih manusiawi.

Minggu, 05 Februari 2012

Definition of Love



Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.
Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita. Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.
Mengapa menunggu? Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa. Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono. Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.
Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada. Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada. Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam, Kota Roma tidak dibangun dalam sehari, Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan, Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan. Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal – iman, keberanian, dan pengharapan – penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan. Pada akhirnya. Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.

blog.iqmatrix.com


Dikutip dari: Tambahkan Cinta & Kurangi Benci.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers