Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 September 2013

Negara Manakah Paling Bahagia Di Dunia?

Guys, pernahkah kita bertanya-tanya, dimanakah bagian negara paling bahagia di dunia ini? Mungkinkah Negara kita Indonesia? atau negara maju seperti Amerika? Mari kita cari tahu!

World Happiness 2013
Dalam sebuah laporan tahun 2013 tentang World Happiness yang dibuat untuk mengukur negara manakah yang memiliki kebahagiaan lebih besar dibandingkan dengan negara-negara lainnya di seluruh dunia menempatkan Denmark sebagai negara terbahagia di Bumi di susul oleh Norwegia diposisi dua.

Amerika Serikat berada di posisi 17 setelah Meksiko serta Jerman di nomor 26. Di Bagian Asia tenggara Singapura menjadi negara paling bahagia terbukti berada diurutan nomor 30 serta Thailand di posisi 36. Dimanakah Indonesia? Indonesia memperoleh nilai cukup lumayan dan menempati urutan ke 76 mengalahkan Turkey di posisi berikutnya.

Darimanakah kebahagiaan suatu negara dinilai?

Ahli terkemuka di beberapa bidang termasuk ekonomi, psikologi, analisis survei, statistik nasional dan banyak lagi yang menggambarkan bagaimana pengukuran kesejahteraan dapat digunakan secara efektif untuk menilai kemajuan bangsa.

Terdapat enam hal yang menjadi patokan negara dikatakan bahagia yakni berdasarkan faktor-faktor berikut:PDB riil per kapita, harapan hidup sehat, memiliki seseorang untuk diandalkan, kebebasan yang dirasakan untuk membuat pilihan hidup, kebebasan dari korupsi  dan kemurahan hati.

Laporan yang disebarluaskan di link ini, menyatakan bahwa kebahagiaan bukan hanya diukur dari tingkat pendapatan suatu negara namun paling penting adalah kesehatan mental. Bahkan di negara-negara kaya, kurang dari sepertiga dari orang sakit mental dalam pengobatan.

Hal tersebut berarti bahwa membuat pengobatan efektif untuk depresi, kecemasan dan psikosis lebih banyak tersedia bisa mendatangkan senyum lebar diseluruh duniaLaporan tersebut juga menemukan bahwakebahagiaan memiliki manfaat sangat besar bahwa orang-orang bahagia hidup lebih lama, lebih produktif,menghasilkan lebih banyak karyadan juga menjadikan suatu negara yang lebih baik.


Meskipun tak dipungkiri tingkat kesejahteraan dan teknologi maju menjadi faktor yang kadang berpikir itulah negara paling hebat dan bahagia, namun tak semuanya benar. Kadang kemjuan teknologi membuat seseorang bekerja lebih keras bahkan banyak PHK yang membuat orang banyak stress.

World Happiness Report 2013 menawarkan bukti kaya tentang pengukuran yang sistematis dan analisis kebahagiaan dapat mengajarkan kita banyak tentang cara untuk meningkatkan kesejahteraan dan pembangunan berkelanjutan di dunia. Cek Laporannya disini.

By: Aim Kazuhiko

Jumat, 08 Maret 2013

Hubungan Manusia-Mesin Lunturkan Nilai Kemanusiaan


Manusia kini bergantung pada mesin dalam berbagai cara, melupakan hal krusial mengenai kasih dalam percakapan yang hanya bisa terjadi antarmanusia.

anak,gadget
Ilustrasi anak dan gadget. (thinkstockphoto)

Sudah bukan hal aneh melihat seseorang sibuk dengan gadget miliknya. Tidak acuh pada lingkungan sekitar, hanya gadget dan koneksi di dalamnya-lah yang terpenting. Seseorang yang sudah sedemikian kuat hubungan dengan gadget-nya, bisa kelimpungan ketika sang gadget tertinggal atau hilang. Hubungan macam ini memperlihatkan bahwa manusia makin mencari hubungan pertemanan baru dengan gadget atau "mainan" mesin lainnya. 

Aplikasi seperti asisten digital dismartphone juga mengajarkan manusia agar bergantung pada mesin dalam berbagai cara. Demikian kritik yang disampaikan Sherry Turkle, profesor studi sosial iptek di Massachusetts Institute of Technology (MIT), AS, dalam pertemuan American Association for the Advancement of Science, Jumat pekan lalu (15/2). "Ide untuk menciptakan persahabatan rekaan sudah menjadi 'normal' yang baru," kata Turkle yang menambahkan anak-anak kini berteman dengan hewan peliharaan dari robot atau sangat terikat dengan game komputer. Hubungan "normal" yang baru ini membuat manusia akhirnya menimbang ulang nilai dari hubungan dengan manusia lain.

robot
Ilustrasi robot. (thinkstockphoto)
Turkle mempelajari pemikiran dan perasaan mengenai robot yang berubah seiring jalannya waktu. Dikatakan subjek yang dipelajari Turkle, pada era 1980 dan 1990-an, cinta dan pertemanan adalah hubungan yang hanya bisa terjadi antarmanusia. Namun, subjek masa kini menyebut, robot bisa mengisi peranan yang dulu diisi manusia. Sebagai contoh, Turkle mempelajari Paro, robot bayi anjing laut yang digunakan sebagai teman bagi warga lanjut usia yang terkena demensia ataupun depresi. Di masa depan, robot semacam ini diprediksi akan menjadi penjaga yang ideal bagi warga lanjut usia. Mengingat Paro dan robot sejenisnya diprogram dengan rasa sabar tanpa batas, tidak akan abusif atau berbohong. "Bagi saya, hal terpenting di masa kanak-kanak dan dewasa adalah menjalin hubungan dan kepercayaan pada orang lain. Kita melupakan hal krusial mengenai kasih dalam percakapan yang hanya bisa terjadi antarmanusia," ujar Turkle.

(Sumber: Phys.org)

Rabu, 11 Juli 2012

Mengapa Orang Mau Bersedekah?


Rotterdam -- Menyisihkan sebagian harta untuk orang lain merupakan interaksi sosial yang lazim dilakukan oleh manusia. Peneliti sosiologi dan psikologi dari Erasmus University, Belanda, menyelidiki perilaku berderma.


thepowerofgiving.org
 Sebanyak 85 persen penderma merelakan harta kepada orang lain karena diminta langsung. Permintaan bisa berasal dari teman, peminta-minta yang mendatangi rumah, atau melalui iklan di media. Akibatnya, orang paling murah hati adalah yang paling sering dimintai sedekah.

"Seseorang terdorong berderma untuk menjaga reputasi," ujar peneliti dari Erasmus University, Pamala Wiepking, dalam wawancara kepada NewScientist, Selasa, 10 Juli 2012. "Mereka tak ingin merusak reputasi tersebut."

Di antara penderma, orang taat beragama menjadi yang paling murah hati. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan kemurahan hati orang taat berlaku di seluruh kebudayaan dunia. Dorongan ini berasal dari penanaman nilai-nilai pemurah sejak kecil yang berdampak ketika dewasa.

Lingkungan yang taat juga memaksa seseorang menjadi pemurah. Sifat senang memberi dianggap sebagai kemuliaan, sehingga untuk masuk ke dalam lingkungan tersebut seseorang harus sering berderma.

Umur ikut mempengaruhi kedermawanan seseorang. Semakin tua seseorang, semakin besar kecenderungannya untuk memberi. Namun sifat senang memberi menciut ketika seseorang melewati usia 75 tahun. Penelitian menunjukkan penciutan ini disebabkan oleh orang sepuh dianggap tak memiliki kemampuan fisik yang prima sehingga jarang dimintai sumbangan.

Kecenderungan berderma ternyata dipengaruhi gender. "Perempuan lebih pemurah," kata dia. Hal ini disebabkan oleh tingginya rasa empati dan perhatian pada perempuan. Laki-laki berderma kepada partai atau kelompok politik dan cenderung lebih pemurah jika mengenyam pendidikan tinggi.

Secara mengejutkan, orang miskin menyumbang lebih banyak porsi hartanya ketimbang orang kaya. Hal ini bisa dipahami karena permintaan sumbangan biasanya memiliki batas minimal yang sama pada seluruh kelas sosial. Wajar jika orang miskin menyisihkan uang lebih banyak untuk sedekah ketimbang orang kaya. "Bukan karena orang kaya kurang pemurah," kata dia.

Wiepking memiliki tip agar orang mau bersedekah lebih banyak, yaitu menunjukkan keteladanan. Seperti di Amerika Serikat, kata dia, dermawan selalu dihargai, sekecil apa pun pemberiannya.

Riset yang dilakukan Wiepking didasarkan atas jajak pendapat yang disebar pada lembaga amal. Dari data ini pula diketahui bahwa kebanyakan orang enggan berdusta mengenai pemberian yang mereka lakukan. Beberapa orang malah menganggap pemberian mereka kurang banyak.


tempo.co

Kamis, 19 April 2012

Dunia Bersama Bisa Memiliki Dua Makna


Mengingat manusia sebagai mahluk sosial yang dengan sendirinya pasti membutuhkan orang lain dalam hidupnya, membuat manusia akan selalu berhubungan dengan orang lain. Salah satu "jembatan" yang menghubungkan manusia sebagai individu dengan manusia-manusia lain dan dunia luar adalah komunikasi. Melalui komunikasi itulah manusia menyatakan dirinya, menyimak orang lain atau memahami berbagai keadaan lingkungannnya. Oleh karena itu, komunikasi menjadi ciri penting manusia. Kemampuan berkomunikasi itu pulalah yang membedakan manusia dengan mahkluk-makhluk lain yang ada di muka bumi ini.

Dengan komunikasi manusia menyelesaikan berbagai permasalahan, misalnya melalu musyawarah dicarikan solusi untuk satu permasalahan. Namun, komunikasi pun bisa menjadi sumber masalah. Orang tersinggung karena kata-kata seseorang atau orang marah karena pernyataan seseorang. Kembali kita tegaskan di sini, dalam berkomunikasi tersebut bukan hanya menggunakan bahasa verbal, tetapi juga bahasa non verbal. Orang bisa marah karena komunikasi non verbal kita dianggap menghina atau melecehkannya.

Dalam konsep diri sosial kita merumuskan bagaimana kita menampilkan diri kita sendiri pada orang lain. Kita berinteraksi dengan orang lain dengan membawa keseluruhan bagian dari diri kita, baik diri pribadi maupun diri sosial. Interaksi itu membawa kita pada apa yang dinamakan sebagai dunia bersama, yakni dunia yang oleh Huijbers (12986:41) dinyatakan sebagai "situasi bagi kehidupan bersama manusia". Dunia bersama bisa memiliki dua makna :

Pertama, secara objektif, dunia bersama itu adalah dunia yang kita tinggali ini. Kita dan orang-orang Korea, Amerika, Afrika tinggal di dunia yang sama, namun antara kita dan orang-orang Korea, Amerika dan Afrika tidak ada pertemuan yang melahirkan hidup bersama.

Kedua, secara subjektif, dunia bersama itu mengandung makna hidup bersama, misalnya orang-orang bertemu berdiskusi membahas persoalan-persoalan kehidupan di dalam satu kelompok masyarakat yang merupakan dunia bersama.

Dalam dunia bersama secara subjektif itu, kita berinteraksi dan bergabung dalam satu kelompok. Namun, kita tidak kehilangan diri pribadi kita atau individualitas kita. Diri pribadi dan diri sosial ada sekaligus dan saling memperkuat dan menunjang satu sama lain  dalam melakukan interaksi dengan orang lain. Bayangkan sajalah, ketika kita berdiskusi kelompok . Pengetahuan yang kita miliki dipadukan dan dibagikan kepada orang lain, namun pengetahuan kita tidak lenyap melainkan malah bertambah dalam kelompok tersebut.

Hidup bersama tentunya akan membutuhkan etika. Secara sederhana, etika berkaitan dengan apa yang baik dan apa yang buruk atau apa yang patut dan apa yang tidak patut. Membantu orang lain merupakan pekerjaan yang baik. Mencelakakan orang lain merupakan pekerjaan yag buruk. Hidup bersama atau pergaulan hidup manusia tentunya mesti didasari kebaikan dan kepatutan. Perilaku yang tidak baik atau tidak patut akan membuat orang lain merasa marah, terhinakan atau tersinggung.

Permasalahan etika terjadi manakala kita dihadapkan pada pilihan baik dan baik atau buruk dan buruk. Mudah saja bagi kita untuk menentukan pilihan bila dihadapkan pada pilihan baik dan buruk. Kita memiliki kewajiban moral untuk memilih yang baik. Apabila dihadapkan pada pilihan bekerja atau mencuri makak kita memiliki keharusan moral memilih bekerja. Namun, situasi hidup bersama manusia sering menghadapkan kita pada pilihan baik dan baik atau buruk dan buruk.

Dalam hidup keseharian kita kerap dihadapkan pada permasalahan etis itu, misalnya saat kita hendak memberitahukan kesalahan yang dilakukan orang tua kita. Bila tidak diberitahu, berarti salah. Namun, apabila diberitahukan, orang tua kita kemungkinan besar tersinggung atau bahkan marah. Atau contoh lain, kita dihadapkan pada pilihan etis saat kita hendak pergi belajar ada tetangga kita yang sakit. Belajar merupakan tindakan yang baik dan menolong tetangga yang sakit juga merupakan tindakan baik. Di situ kita dihadapkan pada pilihan etis.

Peristiwa seperti itu tentu saja sering kita alami dalam pergaulan hidup sehari-hari. Kita dihadapkan pada keharusan untuk memilih di antara pilihan baik dan baik atau buruk dan buruk. Pertimbangan dalam melakukan pilihan ini biasanya didasarkan pada konsepsi pribadi kita mengenai apa hidup yang baik itu. Konsepsi pribadi kita mengenai apa hidup yang baik itu akan terkait dengan apa yang seharusnya atau hendaknya kita lakukan untuk mencapai kebahagiaan hidup.

Jadi, manakala kita dihadapkan pada permasalahan etis seperti di atas maka kita akan menelaahnya melalui konsepsi kita mengenai hidup yang baik. Apabila kita merumuskan hidup yang baik itu, artinya apabila kita selalu terlibat dalam mencegah orang lain berbuat kesalahan maka kita akan memberi tahu kesalahan yang dilakukan orang tua kita, apa pun resikonya. Apabila kita memandang kerukunan hidup merupakan hidup yang baik maka kita akan memilih untuk tidak membuat orang tua kita tersinggung. Nah, maka cara menyampaikan pesan terkait dengan soal kesantunan atau bagaimana sebaiknya relasi komunikasi antara anak dan orang tuanya agar tidak terjadi ketersinggungan atau amarah dari orang tuanya. Belum lagi kita pun mesti mempertanyakan pada diri kita apa sebenarnya maksud kita. Apakah maksud kita itu hanya untuk membuat kita merasa nyaman atau tenang ataukah maksud kita demi kebaikan atau kemashlahatan bersama.

Dalam pergaulan hidup manusia mana pun pastilah ada norma-norma yang mesti ditaati. Norma itulah yang mengajar apa yang baik dan apa yang buruk atau apa yang patut dan tidak patut dilakukan oleh manusia. Sedangkan etika lebih banyak berkaitan dengan "teori nilai", yakni menjelaskan mengapa sesuatu itu baik atau buruk. Meski ada juga yang menyamakan antara norma dan etika. Namun, untuk kepentingan kita disini penekannya adalah adanya aturan main yang mesti dihormati dalam pergaulan hidup manusia, termasuk dalam berkomunikasi, yaitu norma-norma.


Sabtu, 14 April 2012

Bunker Anti Bencana?


Apakah benar manusia benar-benar bisa terhindar dari suatu bencana? Padahal tidak ada satupun manusia yang tidak bisa menghindari suatu fase perjalan hidupnya yang disebut kematian. Bangunan kokoh sekalipun dibuat tetap fase itu akan terjadi. Padahal apa yang seharusnya manusia lakukan adalah memberikan nilai dan makna dari tujuan hidupnya, bukan bagaimana memperlama hidup tapi hanya sekedar untuk menikmati hidup itu sendiri. Berikut saya berikan peringatan dari Ilahi mengenai cara pandang manusia yang seperti judul artikel ini.
Qs: An-Nisa,4/78: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan , mereka mengatakan : "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan : "Ini  dari sisi kamu ". Katakanlah : "Semuanya  dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu  hampir-hampir tidak memahami pembicaraan  sedikitpun ?
Memasuki tahun 2012 dengan isu akan adanya kiamat, badai matahari menjadikan rasa takut dan kehawatiran. Ketakutan yang berlebih terhadap kiamat menjadi bisnis menggiurkan bagi sejumlah pengusaha. Salah satu cara meraup untung adalah dengan membuat bunker alias lubang perlindungan superkuat yang menawarkan iming-iming, penghuninya bakal aman dan tenteram meski seisi dunia sedang kocar-kacir menghadapi bencana.
bunker buatan milyuner untuk berlindung saat kiamat 3 Inilah Bunker Buatan Milyuner untuk Berlindung saat Kiamat

Setelah bunker buatan perusahaan Vivos, yang terletak di sebuah lokasi rahasia di Gurun Mojave, Barstow, Kalifornia, kini hadir lubang persembunyian lain di bawah padang rumput di Kansas. Bunker baru ini dibangun di bekas gudang misil, dan jauh lebih mewah. 
Kenyamanan yang ditawarkan setara dengan kondominium mewah yang hanya bisa dibeli orang berkantong supertebal. Lengkap dengan kolam renang, bioskop, dan perpustakaan. Juga jaminan, bunker itu akan bertahan saat kiamat terjadi. Atau setidaknya, saat bencana keruntuhan ekonomi, badai matahari, serangan teroris, dan pandemi penyakit mematikan.
Sejauh ini sudah ada empat pembeli, yang menyetor dana total US$7 juta atau sekitar Rp64 miliar.
bunker buatan milyuner untuk berlindung saat kiamat 2 Inilah Bunker Buatan Milyuner untuk Berlindung saat Kiamat

Siapa identitas pembelinya, tak diungkap. Namun setidaknya mereka punya dua kesamaan: sama-sama punya banyak uang dan ketakutan. “Mereka mengkhawatirkan banyak hal dari badai matahari, keruntuhan ekonomi, serangan teror, sampai kelangkaan pangan,” kata pengembangnya, Larry Hall seperti dimuat Daily Mail, 10 April 2012.
Inside: The circular designs provide a luxurious and attractive setting to watch the world end

Hall mengaku menyimpan satu kondominium itu untuk dirinya sendiri. Ia membelinya karena dirundung khawatir, lidah matahari akan memutuskan jaringan listrik dan memicu kerusuhan. Selama ‘masa damai dan aman’ mereka akan menggunakan bunker itu sebagai tempat berlibur.
Ia bukan satu-satunya orang yang membeli gudang misil rudal nuklir dan mengubahnya menjadi lokasi persembunyian. Salah satu pertimbangan, gudang tersebut di masa lalu sengaja dibangun untuk menahan ledakan bom atom — dinding beton setebal 9 kaki dan terletak 53 meter di bawah tanah.
Hall membangun 14 lantai bawah tanah, tujuh lantai di antaranya dijual US$1 juta sampai US$2 juta per setengah lantai.
Bunker kiamat mewah untuk para miliuner 1

Untuk menghubungkan antar lantai saat ini masih menggunakan tangga besi. Namun, nantinya, bunker ini akan dilengkapi lift. Tiap unit kondominium dilengkapi dengan kamar mandi, dapur, dua ruang keluarga, serta segala perlengkapanya. Juga layar elektronik yang berperan seolah jendela. Dengan pemandangan yang bisa dipilih: romantisnya Paris, New York, pantai, hutan, apapun.
Untuk memberi makan para penghuninya yang berjumlah sekitar 70 orang, Hall membangun pertanian dalam ruang, untuk menanam sayur dan memelihara ikan. Juga timbunan makanan kaleng dan kering yang cukup untuk lima tahun. Sementara energi menggunakan sumber konvensional, termasuk kincir angin dan generator.
Untuk rekreasi, ada lantai yang digunakan untuk kolam renang, bioskop dan perpustakaan. Dalam posisi ‘terkunci’, ada lantai yang difungsikan sebagai pusat medis dan sekolah.
Bunker kiamat mewah untuk para miliuner 2

Untuk keamanan, Hall menyebut, dirancang secara rumit, mencegah gerombolan perampok menjarah lokasi itu. Lift hanya akan beroperasi berdasarkan sidik jari penghuni, kamera pengawas ditebar, dan pagar kawat berduri berlapis dipasang di sekeliling lokasi yang dirahasiakan itu.
Sejumlah pesohor telah melirik bunker ini. Ada pemain NFL, pembalap mobil, politisi terkenal, juga produser film.
Menanggapi fenomena bunker kiamat, antropolog University of Kansas, John Hoopes mengakui, ini bisnis yang menjanjikan. “Menjual ketakutan lebih baik, bahkan jika dibandingkan dengan menjual seks,” kata dia.
“Sekarang seluruh penghuni planet ini terlibat dalam menyebarkan ketakutan itu. Itu hasil campur tangan internet.”

Senin, 30 Januari 2012

Mengapa Ada Orang Jahat Seumur Hidup?


Perangai jahat ternyata dapat diturunkan orang tua kepada anaknya. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan hasil mencengangkan, yakni penjahat bakal menurunkan perilaku jahatnya. Gagasan bahwa perilaku jahat terekam dalam gen manusia ini sontak menyulut kontroversi. Sebab, sebagian besar kriminolog selama ini berpendapat bahwa penyebab kejahatan adalah faktor lingkungan, seperti kemiskinan. Tapi sekarang sekelompok peneliti mengklaim bahwa gen manusia dapat memainkan peran signifikan terhadap kemungkinan mengubah sifat seseorang untuk berbuat kriminal di kemudian hari.

Sebuah penelitian dari University of Texas di Austin, Amerika Serikat, yang dipublikasikan dalam jurnal Criminology menemukan, meski tidak ada gen tunggal yang menyebabkan perilaku kriminal, diduga kuat ada sejumlah variabel yang berperan menyulut atau meredam perilaku jahat. Salah satu peneliti, J.C. Barnes, mengatakan ada ratusan, bahkan ribuan, gen yang secara bertahap akan meningkatkan kemungkinan seseorang terlibat dalam tindak kejahatan, meski kemungkinannya hanya 1 persen.
“Tapi ini masih merupakan efek genetik. Dan itu penting,“ kata dia. Para peneliti mengamati tiga kelompok besar responden, yakni mereka yang sepanjang hidupnya terus-menerus melakukan pelanggaran, mereka yang hanya melakukan kejahatan pada usia remaja, dan orang-orang yang selalu mematuhi hukum.

Mereka berfokus pada apa yang disebut faktor “pelanggar“, yang biasanya menunjukkan perilaku anti-sosial selama masa remaja. Perilaku tersebut akan berubah menjadi tindak kejahatan atau kekerasan saat orang itu beranjak dewasa. Berdasarkan data 4.000 orang dari The National Longitudinal Study of Adolescent Health, para peneliti menemukan, perilaku melanggar pada pelaku remaja tampaknya lebih dipengaruhi faktor lingkungan. Tapi hal serupa tidak ditemui pada mereka yang menjadi penjahat seumur hidup. Metodologi kembar untuk menentukan pengaruh relatif dari berbagai faktor lingkungan dan gaya hidup tidak berhasil mengidentifikasi gen mana yang bertanggung jawab. Namun metode tersebut menganalisis 70 persen kemungkinan seseorang melakukan tindak kriminal yang dipicu secara genetik.

Barnes mengatakan kesimpulan menyeluruh dari penelitian tersebut adalah pengaruh genetik dalam faktor “pelanggar“ berperan lebih besar dibanding pengaruh lingkungan. “Faktor genetik memainkan peran besar dan demikian pula lingkungan. Untuk pelanggar berusia remaja, faktor lingkungan tampaknya paling penting,“ ujar dia.

TELEGRAPH

Kamis, 19 Januari 2012

Manusia Bunuh Orang Baik Demi Orang Banyak


90% responden memilih selamatkan 5 orang yang bersalah daripada 1 orang yang tak bersalah.



Peneliti akhirnya berhasil mengujicoba dilema etis yang terkenal dengan sebutan “trolley problem” dalam setting uji coba laboratorium yang sangat nyata. Filusuf sendiri telah memperdebatkan soal dilema ini selama beberapa dekade terakhir.

Umumnya, mereka menghadirkan sebuah situasi sebagai latihan mental. Sebuah kereta api akan menabrak 5 orang yang berjalan kaki di rel yang salah. Setelah itu, responden diminta untuk memilih apakah mereka akan memindahkan kereta ke jalur lain demi menyelamatkan 5 orang yang melanggar aturan tersebut.

Namun demikian, jika responden memindahkan kereta ke jalur lain, maka risikonya kereta akan menabrak satu orang yang berjalan kaki di tempat yang benar.

Baru-baru ini, peneliti melakukan uji coba untuk mengetahui respons manusia pada umumnya, jika menghadapi kondisi tersebut dalam suasana yang lebih nyata.

Dikutip dari Scientific American, 5 Desember 2011, mereka menempatkan 147 orang responden dalam sebuah lingkungan virtual 3 dimensi di mana mereka berada dalam sebuah tuas pengatur jalur lintasan kereta.

Mereka kemudian dihadapkan dengan situasi di mana ada 5 orang yang berjalan di rel kereta api yang salah dan 1 orang berjalan di rel kereta api yang benar. Di sisi kiri dan kanan kereta tersebut adalah jurang dan tiba-tiba serangkaian kereta akan menabrak 5 orang tersebut.

Lewat joystick, responden kemudian diminta untuk memilih. Apakah akan menggeser kereta ke jalur yang tidak seharusnya dan menabrak 1 orang yang berjalan di jalan yang benar, ataukah membiarkan kereta tetap berada di jalur yang semestinya dan menabrak 5 orang yang berjalan di jalur yang salah.

Ternyata, 90 persen responden penelitian tersebut memilih untuk memindahkan kereta ke jalur yang tidak seharusnya dan membunuh satu orang yang berjalan di jalur yang benar demi menyelamatkan 5 orang yang berjalan di jalur yang salah.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal Emotion ini persis sama dengan studi-studi serupa yang dilakukan sebelumnya, namun hanya merupakan eksperimen abstrak.

Peneliti menyebutkan, meskipun dalam kondisi sangat realistis, dalam sebuah situasi yang membutuhkan tindakan cepat, orang-orang akan memilih apa yang disebut dengan ‘Sophie’s Choice’ yakni melakukan kebaikan yang ‘tampaknya’ lebih besar. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers