Tampilkan postingan dengan label Antropologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antropologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2013

Misteri Voynich Manuscript

The Naskah Voynich dianggap 'Naskah Paling Misterius di Dunia'. Sampai hari ini ini artefak abad pertengahan menolak semua upaya penerjemahan. Ini bisa berupa tipuan cerdik atau cipher bisa dipecahkan. Naskah ini dinamai penemunya, dealer buku antik dan kolektor Amerika, Wilfrid M. Voynich, yang menemukannya pada tahun 1912, antara koleksi naskah kuno disimpan di villa Mondragone di Frascati, dekat Roma, yang telah oleh kemudian berubah menjadi seorang Jesuit College (ditutup pada tahun 1953).



Sebuah Naskah kuno bernama Voynich Manuscript adalah sebuah buku yang sepertinya ditulis dalam bahasa Alien karena sampai saat ini belum ada yang memastikan bahasa yang digunakan sehingga telah membuat bingung para ilmuwan dan sejarawan selama beberapa dekade. 
Buku tulisan tangan itu diduga telah ditulis pada abad awal abad ke-15 dan terdiri dari sekitar 240 halaman vellum, sebagian besar dengan ilustrasi. Penulis, script, dan bahasa yang digunakan tetap tidak diketahui, sehingga digambarkan sebagai "manuskrip yang paling misterius di dunia".

Naskah itu sendiri ditulis pada kulit binatang sehingga bisa ditelusuri tanggal pembuatannya.



Berdasar penelitian tanggal dengan Carbon-14 oleh tim ilmuwan dari University of Arizona menunjukkan buku itu dibuat antara tahun 1404 dan 1438, lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya.

Voynich Manuscript pertama kali ditemukan oleh seorang pedagang buku di luar kota Roma bernama Wilfrid M. Voynich, pada tahun 1912, 

Buku kuno ini saat ini dimiliki oleh Beinecke Rare Book dan Manuscript Library of Yale University, dan telah menarik peneliti selama beberapa dekade. Tidak seorang pun telah mampu menguraikan bahasa yang digunakan, meskipun beberapa karakter menyerupai latin.



Naskah ini dinamai penemunya, agen dan kolektor antik Amerika, Wilfrid M. Voynich, yang menemukannya pada tahun 1912, antara koleksi naskah kuno disimpan di villa Mondragone di Frascati, dekat Roma, yang saat itu telah berubah menjadi Jesuit College (ditutup pada tahun 1953).



Berdasarkan bukti tulisan kaligrafi tersebut, gambar-gambar dan pigmen, Wilfrid Voynich memperkirakan bahwa naskah ini diciptakan pada akhir abad ke-13. Tujuh naskah kecil, panjang sepuluh inci, tapi lumayan tebal yaitu 235 halaman. Hal ini ditulis dalam naskah yang tidak diketahui tidak ada contoh lain yang dikenal di dunia.


Rupanya, Voynich ingin agar naskah misterius dapat diuraikan dan memberikan salinan foto ke sejumlah pakar. Namun demikian, walaupun upaya banyak ahli kriptologi terkenal dan cendekiawan, buku kuno ini masih belum dibaca. Ada beberapa klaim dari penguraian, namun sampai saat ini, tidak ada yang dapat mendukung dengan terjemahan lengkap. Harapannya adalah suatu waktu ada yang bisa memecahkan benda bersejarah ini sekaligus menguak misteri manusia di muka bumi.



Naskah Voynich dianggap ‘Naskah Paling Misterius di Dunia’. Untuk artefak kuno ini sejak abad pertengahan semua upaya penerjemahan tidak ada yang berhasil. Ini adalah salah satu tipuan cerdik yang tak dapat bisa dipecahkan.

Artefak kuno ini tetap menjadi misteri manusia. Ini adalah script abjad, yang memiliki 19-28 huruf, tidak ada yang memastikan hubungan apapun kepada sistem huruf Inggris atau Eropa. Teks ini tidak ada koreksi yang jelas. Ada bukti untuk dua bahasa yang berbeda yang diselidiki oleh Currier dan D’Imperio dan lebih dari satu juru tulis, mungkin menunjukkan skema coding ambigu.




download voynich (pdf)

source : 1. wired.com
             2. voynich.nu
             3. en.wikipedia.org

Kamis, 06 Desember 2012

Afrika adalah "Amerika" pada Zaman Purba Afrika adalah "Amerika" pada Zaman Purba


JOHANNESBURG, jika Amerika Serikat adalah pusat teknologi pada masa modern, dilihat dari inovasi, publikasi ilmiah, dan peraih nobel, Afrika Selatan bisa dikatakan "Amerika" pada zaman purba. Di sanalah, para perekayasa mulai berkarya melahirkan teknologi yang diperlukan pada masa itu.

Beragam peralatan yang dihasilkan manusia di awal revolusi teknologi di Afrika Selatan
Hal itu terungkap dalam hasil studi Christopher Henshilwood, arkeolog dari Wits University di Johannesburg. Makalah berjudul "Late Pleistocene Techno-traditions in Southern Africa: A Review of the Still Bay and Howiesons Poort, c. 75 ka" yang menguraikan hasil studi itu diterbitkan di jurnal World Prehistory, Kamis (6/12/2012).

Dalam makalah itu, Henshilwood mengungkapkan bahwa ada dua periode yang merujuk pada revolusi teknologi pada zaman purba, yaitu Still Bay techno tradition (75.000-70.000 tahun lalu) dan Howiesons Poort techno tradition (65.000-60.000 tahun lalu).

Berdasarkan hasil penelitian, pada masa itulah Homo sapiens mulai menciptakan teknologi. Sejumlah alat dihasilkan, di antaranya seni abstrak pertama di telur burung unta, perhiasan pertama, alat batu pertama, serta anak panah batu pertama yang dilepaskan dengan busur.

"Semua inovasi itu, dan banyak lagi yang baru saja ditemukan, menunjukkan dengan jelas bahwa Homo sapiens di Afrika  bagian selatan pada masa itu cerdas dan punya perilaku seperti kita," kata Henshilwood, seperti dikutip Physorg, Rabu hari ini.

Henshilwood dalam makalahnya juga menguraikan faktor pendorong munculnya inovasi itu. Menurut dia, inovasi dipacu oleh masalah kependudukan dan perubahan iklim, terutama naiknya permukaan air laut, yang menjadi ancaman saat itu.

Hasil penelitian Henshilwood menantang pandangan sebelumnya bahwa perilaku dan teknologi manusia berkembang dari manusia Eropa 40.000 tahun lalu. Perilaku kompleks dan teknologi manusia ternyata bermula di Afrika, wilayah yang kini kadang diasosiasikan dengan keterbelakangan.

PHYSORG, kompas.com

Selasa, 25 September 2012

Praktik Tambal Gigi Dimulai 65 Abad Lalu


TRIESTE, Arkeolog menemukan sebuah gigi purba dengan bekas tambalan yang terbuat dari bahan lilin lebah. Temuan ini bisa menjadi bukti bahwa praktik tambal gigi sudah ada jauh di masa lalu. Gigi yang merupakan gigi taring itu ditemukan lebih dari 100 tahun lalu bersama fosil tulang rahang. Analisis mengungkap, gigi tersebut milik manusia berusia 24-30 tahun, berasal dari masa 65 abad lalu. Gigi taring tersebut punya celah vertikal pada lapisan enamel yang keras dan dentin yang lembut. Menurut arkeolog, kerusakan itu tidak disebabkan oleh aktivitas makan biasa.

Fosil gigi purba dengan tambalan lilin lebah untuk mengurangi rasa sakit akibat lubang gigi.
Pria pada masa 65 abad lalu biasa menggunakan gigi untuk melembutkan bahan kulit dan membuat peralatan. Sementara, perempuan biasa menggunakan gigi untuk membantu membuat tenun. Menurut arkeolog, gigi pria tersebut ditambal dengan bahan lilin lebah sekitar waktu kematiannya. "Sangat sulit untuk mengidentifikasi tindakan dokter gigi secara kasat mata dengan alat yang sederhana," kata peneliti Claudio Tuniz, seorang ahli palaeoantropologi nuklir dari Pusat Penelitian Internasional Abdus Salam untuk Fisika Teoretik di Italia.

"Rahang bawah itu sudah ada di pusat penelitian selama 101 tahun tanpa ada seorang pun yang memperhatikan ada sesuatu yang aneh pada gigi taringnya," tambah Tuniz seperti dikutip Livescience, Rabu (19/9/2012). Arkeolog telah berusaha memperkirakan waktu persis aplikasi tambalan tersebut dengan akselerator ion dan sinar X. Namun, mereka belum berhasil melakukannya.

Menurut Federico Bernardini, arkeolog dari pusat penelitian, mengetahui waktu aplikasi tambalan itu penting. Jika tambalan diaplikasikan sebelum manusia tersebut mati, maka tambalan ini bisa menjadi bukti praktek dokter gigi di zaman purba sekaligus bukti nyata tertua praktek tambal gigi. Hingga saat ini, belum diketahui apakah praktik tambal gigi hanya ada di wilayah tempat gigi ini ditemukan atau menyebar di Eropa selama masa Neolitik. Belum diketahui pula efek tambalan lilin lebah pada rasa sakit di gigi. Arkeolog akan menyelidiki hal ini.

Bukti lain praktik dokter gigi purba juga pernah ditemukan. Pertama adalah temuan gigi geraham di Pakistan berusia 7.500 - 9.500 tahun dengan bekas bor. Selain itu, temuan gigi palsu dari Mesir berusia 5500 tahun. Riset ini dipublikasikan di jurnal PLoS ONE, Rabu (19/9/2012) lalu.
LiveScience

Manusia Purba Sudah Mengenal Animasi


PARIS, Dua peneliti asal Perancis menemukan hasil karya seniman gua prasejarah yang tergambar di permukaan dinding gua. Uniknya, gambar-gambar ini jika diperhatikan lebih saksama akan membentuk gambar yang berurutan layaknya teknik menggambar film kartun.

Inilah gambar prasejarah di sebuah gua di Perancis yang diyakini mirip teknik membuat film animasi
Karya yang menggambarkan sebuah binatang dengan beberapa kaki, kepala, dan ekor di dinding gua ini dikatakan sebagai teknik animasi primitif. Kedua peneliti, yakni arkeolog, Marc Azema dari University of Toulouse-Le Mirail; dan seorang seniman Florent Rivere; mengklaim jika dilihat di bawah cahaya api, maka gambar-gambar tersebut tampak seperti hewan yang sedang bergerak.

Temuan ini juga dipercaya sebagai tanda bahwa pada masa prasejarah mereka sudah mampu merancang gambar yang memiliki dua sisi agar dapat berputar dan semakin kabur layaknya di film animasi. Selain itu, mereka berdua membuat klaim yang sangat mengejutkan bahwa manusia prasejarah sudah memprediksi penemuan bioskop.

Clever: Ancient artists at France's Chauvet Cave superimposed drawings of two bison to create an eight-legged beast intended to depict trotting or running, two researchers say
dailymail.co.uk

Azema yang sudah selama 20 tahun meneliti teknik animasi zaman batu ini telah mengidentifikasi 53 lukisan yang terdapat di 12 gua di Perancis. Gambar-gambar yang telah ditemukannya memiliki lebih dari dua gambar yang merepresentasikan sebuah gerakan, misalnya gerakan seekor hewan yang berlari, menggerakkan kepala, atau menggoyangkan ekor mereka.

Grab from an animation by Marc Azema

Grab from an animation by Marc Azema
Caveman animation: This sequence of grabs shows how the cave paintings apparently show movement by superimposing different sets of legs

"Lascaux, sebuah gua yang di barat daya Perancis adalah gua yang memiliki gambar superimposisi bergerak," kata Azema kepada Discovery. "Ada sekitar 20 gambar hewan, terutama kuda yang memiliki beberapa kepala, kaki, atau ekor. Ketika lukisan ini dilihat dan diterangi dengan cahaya obor yang berkedip-kedip, maka efek animasinya akan sempura," tambahnya.



Azema dan Rivere mengklaim bahwa ini merupakan teori baru yang luar biasa. Rivere percaya bahwa seniman paleolitik telah menciptakan mainan optik yang sama baik pada abad ke-19.

Jumat, 20 April 2012

Kenapa Roda Terlambat Ditemukan

Roda merupakan penemuan penting yang merevolusi peradaban manusia. Meski terlihat primitif, manusia baru menemukan alat bantu ini 5.500 tahun lalu ketika manusia sudah membuat perahu layar dan mencampur logam. Kenyataan bahwa manusia butuh waktu cukup lama untuk menemukan roda menjadi misteri bagi ahli antropologi. Jika pertanian sudah berkembang sejak 12-10 ribu tahun lampau, kenapa roda tak segera ditemukan untuk membantu memindahkan hasil panen?


Ahli antropologi dari Hartwick College, New York, sekaligus penulis buku The Horse, the Wheel, and Language, David Anthony, mengatakan manusia butuh waktu untuk memahami dan membangun konsep roda yang stabil. Roda bukan cuma batang kayu bulat yang bergerak menggunakan sisi, tapi membutuhkan landasan kuat untuk menghubungkan silinder tersebut. Konsep inilah yang mendorong manusia menemukan roda dan as. “Membuatnya sangat sulit,“ ujarnya. Membangun sumbu kuat penghubung roda-roda yang berputar membutuhkan pengetahuan dan teknik khusus.

klik!
Struktur roda haruslah berbentuk sebatang kayu bulat dengan ujung yang pas dengan ukuran lubang di tengah roda silinder. Ada dua kemungkinan saat membuat sumbu penghubung. Pertama, as dibuat berukuran kecil untuk memperkecil gesekan pada roda yang berputar. Namun rancangan ini membuat batang terlalu ringkih dan tak sanggup menahan beban berat. Kedua, as dibuat berukuran besar agar bisa membawa beban berat. Sayangnya, rancangan ini membuat roda sulit berputar karena gesekan terlalu besar.


Manusia harus mengubah bentuk gerobak menjadi sangat sempit sehingga sumbu kecil tetap mampu menopang beban berat di atasnya. “Keahlian bertukang yang menunda penemuan roda hingga 5.500 tahun lalu,“ ujarnya. “Sebab, peralatan perunggu baru ditemukan 6.000 tahun lalu di Timur Dekat.“

SCIENTIFICAMERICAN

Jumat, 13 April 2012

TEKA-TEKI HOMO SAPIENS KELUAR AFRIKA

Temuan artefak di Uni Emirat Arab mengindikasikan manusia modern mungkin eksodus dari Afrika melalui Selat Bab al-Mandab yang 120 ribu tahun lalu surut.

Jurnal Science edisi 27 Januari 2011 mengulas panjang lebar tentang "Out of Africa". Media bergengsi tersebut tidak bercerita tentang film Out of Africa produksi 1985 yang dibintangi Meryl Streep dan Robert Redford, melainkan migrasi Homo sapiens atau nenek moyang manusia modern keluar dari Afrika.


 Sampai saat ini, para ahli sepakat bahwa Benua Hitam itu sebagai awal munculnya genus Homo, termasuk Homo sapiens, yang menjadi cikal bakal kita. Hal tersebut berdasarkan dukungan ilmu genetika melalui penelitian DNA mitokondria gen perempuan ("Eve"mitochondrial gen) dan Y kromosom gen laki-laki ("Adam"Y chromosome). Berdasarkan biomolecular dating, kronologi migrasinya sebagai berikut 120k (ribu tahun lalu) ke Afrika Selatan, 100k mencapai Israel, 7050k mencapai Arabia dan wilayah Timur Tengah, serta 50-30k mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia. Cabang lain ke Eropa dan Siberia; 20-15k mencapai Bering dan Alaska, Amerika Utara; 15-12k mencapai Amerika Selatan. Migrasi Homo erectus (spesies jauh sebelum Homo sapiens) dan Homo sapiens sangat dibantu oleh "global cooling"yang terjadi sejak 5 atau 6 M (juta tahun lalu), pada awal Pliosen. Zaman glasiasi merendahkan air laut, melebarkan daratan, menyempitkan laut, dan membentuk banyak jembatan daratan.

Bukti-bukti saat ini pada deep sea core menunjukkan turunnya temperatur dan luasnya glasiasi dalam tiga juta tahun terakhir. Siklus isotop oksigen yang diukur pada rangka fauna mikroskopik di dalam core menunjukkan fluktuasi muka laut ini yang mengikuti periode dingin dan hangat sejarah bumi. Ternyata pada periode 70k bumi memasuki zaman es terakhir. Permukaan laut menjadi lebih rendah 100-200 meter ketika air tertahan di gletser. Pada bagian tersempit, muara Laut Merah di antara Tanduk Afrika dan Arabia akan berjarak beberapa kilometer saja. Dengan rakit atau perahu sederhana, Homo sapiens dapat menyeberanginya untuk bermigrasi ke luar Afrika.

Simon Armitage dari Royal Holloway University of London, dalam tulisannya di jurnal Science ini, menyebutkan, lewat celah sempit di Tanduk Afrika itulah manusia modern keluar dari Afrika."Mereka tiba di Arabia timur jauh lebih awal, yakni 125 ribu tahun lalu, dan tidak melalui Lembah Sungai Nil atau Timur Dekat seperti hasil penelitian selama ini,"katanya. Armitage mendasari kesimpulannya setelah melakukan penggalian di situs arkeologi Jebel Faya di Uni Emirat Arab. Tim ahli internasional itu menemukan peralatan tangan yang relatif primitif yang dipakai untuk mencakar dan melubangi. Peralatan yang menyiratkan adanya inovasi teknologi dari manusia purba itu terkubur dalam sedimen yang terdiri atas batu dan pasir. Dari pengukuran karbon, alat-alat itu berusia sekitar 125 ribu tahun.

Temuan serta analisis Armitage dan timnya membuka analisis baru teori Out of Africa selama ini. Apa itu? Bahwa keluarnya manusia modern dari Afrika pertama kali belum tentu melewati Terusan Suez. Memang isu tentang kapan dan melalui jalur mana penyebaran manusia modern dari Afrika menjadi sumber perdebatan sejak dulu. Walaupun ada bukti yang menunjukkan eksodus di sepanjang pantai




Laut Tengah atau pesisir Arab sekitar 60 ribu tahun lalu. Selain Armitage dan koleganya, tim peneliti lain adalah Hans Peter Uerpmann dari University of Tubingen di Jerman. Gabungan tim peneliti ini menganalisis permukaan laut dan catatan perubahan iklim di wilayah Tanduk Afrika selama periode interglacial terakhir atau sekitar 130 ribu tahun lalu. Mereka menemukan petunjuk bahwa Selat Bab al-Mandab, yang memisahkan Arab dari Tanduk Afrika, menyempit karena paras muka laut yang rendah. "Manusia modern mungkin bisa berjalan menggunakan rakit atau perahu yang tentu dapat dibuat pada waktu itu,"kata Uerpmann.



Dari sini menjadi gerbang eksodus Homo sapiens ke Semenanjung Arab, kemudian ke Bulan Sabit Subur dan India. "Arkeologi tanpa waktu seperti sebuah teka-teki dengan ujung saling terhapus," kata Armitage. Menurut Armitage, kita memiliki banyak potongan informasi individu, tapi tidak dapat memasukkan mereka bersama-sama untuk menghasilkan gambar yang besar. Pada Jebel Faya, katanya, waktu mengungkapkan gambaran menarik di mana manusia modern bermigrasi keluar dari Afrika lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Hal ini dibantu oleh fluktuasi iklim global dan permukaan laut di Jazirah Arab. Peneliti lain antusias dengan penemuan di Jebel Faya. Namun mereka berhati-hati terhadap kesimpulannya. "Satu situs tidak dapat mengkonfirmasi hipotesis bahwa Out of Africa' melalui Saudi," kata arkeolog Mark Beech, dari Britain's University of York.

GRAPHICNEWS

Minggu, 11 Maret 2012

Nenek Moyang Manusia adalah Alien Mars?

Para ilmuwan sedang membuktikan apakah ada kesamaan genetik antara mahluk Mars.

SETG, intrumen penguji keterkaitan mahluk bumi dan mars
Planet Mars menjadi fokus perhatian manusia dalam rangka penjelajahan luar angkasa. Ada dua hal yang dicari tahu dari planet merah itu: apakah ada kehidupan di sana, dan apakah Mars bisa jadi koloni manusia, jika nantinya Bumi tak bisa menopang kehidupan.

Namun penelitian terbaru yang sedang dikerjakan oleh para ilmuwan cerdas dari dua universitas ternama dunia, MIT dan Harvard justru lebih maju dan revolusioner. Ingin membuktikan apakah ada kemungkinan pohon kehidupan di Bumi punya akar di Planet Mars. Para peneliti juga menciptakan sebuah instrumen untuk membuktikan dugaan itu.
Instrumen itu dinamakan Search for Extra-Terrestrial Genom atau SETG. Instrumen yang sedang dikembangkan itu akan menelaah sample debu dari Mars, mengisolasi materi genetik yang mungkin ada -- berupa serangga atau mahluk hidup lain yang mati beberapa juta tahun lalu.
Dengan instrumen ini, para ilmuwan bisa menggunakan teknik biokimia standar untuk menganalisa setiap urutan genetik yang dihasilkan lalu membandingkannya dengan temuan di Bumi.

"Ini proyek jangka panjang," kata peneliti dari MIT, Chris Carr seperti dimuat Space.com. "Jikan nantinya kita menemukan ada kaitan dengan Bumi, bisa jadi mahluk Bumi berasal dari Mars. Atau sebaliknya, bermula dari Bumi dan dikirim ke Mars."

Gagasan bahwa kehidupan Bumi berasal dari organisme di Mars mungkin tak ada di pikiran setiap orang. Namun, ini bukan ide gila.

Sebab, meski saat ini permukaan Mars dingin, kering, dan tanpa kehidupan -- ada banyak bukti planet ini lebih hangat dan basah miliaran tahun lalu.

Seperti halnya di Bumi, ketika semua kehidupan bergantung pada air. Mars kuno mungkin pernah menjadi pendukung beberapa bentuk kehidupan -- mungkin bahkan sebelum Bumi. Demikian kata para peneliti.

Jika ini yang terjadi, mikroba Mars mungkin telah mengkolonialisasi Bumi, saat asteroid raksasa meluncur ke Mars dan membuat partikel-partikelnya muncrat dan lalu mengalami perjalanan antar ruang. Para peneliti mengestimasi, ada 1 miliar ton bebatuan Mars yang berkelana di tahun-tahun itu.

Dan mikroba yang sangat kuat, sehingga mungkin bahwa beberapa dari mereka bisa selamat dari dampak asteroid dan menuju rumahnya yang baru di planet lain. Car menambahkan, dinamika orbital menunjukkan adalah 100 kali lebih mudah untuk batuan Mars menuju Bumi daripada sebaliknya.

Namun, Carr mengatakan, sangat kecil kemungkinan untuk menemukan sesuatu di permukaan Mars. Cara yang bisa dilakukan adalah penggalian. "Ada dua kemungkinan, Mars memiliki kehidupan atau tidak sama sekali. Namun kami ingin memastikannya."

Sementara, Badan Antariksa Amerika Serikat tak seoptimis pendapat para ilmuwan itu. "Hal ini tidak masuk akal bahwa kehidupan di Mars terkait dengan kehidupan di Bumi -- dan disebut bahwa dua planet berbagi genetika," kata astrobiologis dari Ames Research Center NASA di Moffett Field, California, Chris McKay.  Namun, "dalam kasus apapun, akan menjadi penting untuk menguji hipotesis ini. "

Chavez: Kapitalisme Musnahkan Kehidupan Mars


Jika para ilmuwan mendasarkan teori kehidupan di Mars dengan beberapa fakta ilmiah, entah apa yang ada di kepala Presiden Venezuela, Hugo Chavez saat ia mengatakan: "kapitalisme mengakhiri kehidupan di Planet Mars."

"Saya selalu mengatakan, juga mendengar, tak aneh jika Mars  ternyata punya peradaban. Namun mungkin datanglah kapitalisme, imperialisme, dan lihat apa yang dilakukannya pada planet ini," kata dia Selasa 22 Maret 2011, seperti dimuat Irish Times.

Tawa para pendengar pidato presiden nyentrik ini membahana. Namun, Chavez dengan cerdik mengurai maksud perkataannya itu. Ia memperingatkan, proses yang sama dengan Mars, degradasi lingkungan tengah terjadi di Bumi.

"Lihat! Berhati-hatilah! Di sini, di planet Bumi, lahan yang ratusan tahun lalu adalah hutan lebat menjadi kering-kerontang. Sungai besar menjadi padang pasir di mana-mana. Bagaimana kemajuan mempertaruhkan risiko kehidupan di planet ini, bukan jangka panjang, namun bahkan dalam jangka menengah.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers