Untuk pertama kali momentum Isra Mi’raj yang telah menjadi
bagian yang mapan dari keagamaan umat islam Indonesia, kita peringati
saat bangsa tengah di landa krisis, dari krisis ekonomi-moneter, krisis
kepercayaan dan berbagai krisis lainnya.Bukan rahasia umum lagi, bila
multidimensi krisis yang sekarang menghimpit bangsa ini bersumber
kebobrokan moral (krisis iman, krisis aqidah) para elit (decision
maker) kita pada rezim-rezim sejak Orla, ORba, bahkan yang katanya
Reformispun penuh dengan hal-hal tersebut. Ini di tandai menjamurnya
pennyakit KKN (koncoisme), pelanggaran HAM, dan berbagai tindakan
inkonstitusional lainnya. Oleh karena itu reformasi total merupakan
pilihan yang tidak bisa di tawar-tawar lagi, terutama di bidang
politik, ekonomi, dan hukum.
Shalat, yang menjadi pilar utama rukun Islam dan merupakan ”buah tangan” Nabi Muhammad saw ketika melakukan Mi’raj dan “beraudiensi” langsung dengan Allah SWT, sebenarnya sarat dengan reformasi. Visi reformatif shalat, seara gamblang terutama dalam Al Qur’an: ”Sesungguhnya salat itu mencegah (kamu) dari melakukan perbuatan keji dan mungkar” (QS.29:45). Di samping itu, visi tersebut secara simbolik juga bisa di telusuri melalui syarat-syarat shalat, gerakan-gerakan shalat, dan shalat jamaah. Dari beberapa syarat shalat, paling tidak ada empat syarat yang cukup signifikan dan relefan dengan nuansa reformasi. Pertama, Bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari dimensi waktu, karena dengan waktu itulah roda sejarah hidup manusia bisa berjalan. Agar dapat mengikuti sejarah hidupnya, manusia dituntut untuk memahami waktu (lampu, sekarang, besok). Pengabaian terhadap waktu akan mengakibatkan manusia terisolasi dari sejarahnya, yang pada gilirannya akan melahirkan stagnasi karena tidak mengenal kedinamisan.Inilah makna simbolik dari mengetahui waktu ketika melaksanakan shalat. Sejarah kelam masa lalu harus dibuang jauh-jauh guna menyongsong masa depan yang lebih baik. Kedua, sebelum melaksanakan shalat, seseorang harus menyucikan diri dari segala bentuk najis (kotoran), baik raga, tempat, pakaian, maupun jiwanya. Makna simbul ini adalah, setiap muslim harus senantiasa suci ( bersih) dalam kehidupannya. Dengan demikian, seorang muslim seharusnya dapat terhindar dari segala bentuk kenegatifan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, manipulasi, prostitusi dan lain-lainnya. Ketiga, menutup aurat, yaitu menutup bagian tubuh yang seharusnya tidak di perkenankan terlihat. Syarat ini merupakan etika dalam hal pakaian saat menghadap Tuhan. Jika setiap hari dilatih untuk menerapkan etika ini, maka seseorang akan terbiasa dengan kehidupan yang indah dan bersih. Keempat, orang yang akan mengerjakan shalat secara formal diwajibkan menghadap ke kiblat di Mekkah. Selain menunjukan gerak orbital, shalat menghadap ke kiblat secara simbolik menunjukan adanya kesatuan dan kekompakan umat islam, yang pada gilirannya akan membentuk satu kesatuan umat manusia ( Wahdah al-ummah, unity of mankind ), Kesatuan ini terwujud karena konsesus dan kebersamaan ummat yang terlihat ketika shalat dengan menyembah Tuhan yang sama, menghadap kiblat yang sama, melakukan gerak yang sama, dan meneladeni nabi yang sama. Dari sini, maka menjamurnya partai politik berbasis islam, harus mengedepankan arti penting kesatuan dan persatuan umat untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik.
Simbol Gerakan Shalat
Jika dihitung secara matematis, maka keseluruhan gerakan shalat menunjukkan angka 360º derajat, angka yang menunjukkan gerakan orbital. Penghitungan 360 derajat di dapat dari akumulasi lima tahap gerak shalat. Tahap pertama adalah sikap berdiri sempurna, sejajar dengan bidang vertikal. Tahap ini menunjukan sudut nol derajat. Tahap kedua adalah sikap ruku sempurna yang akan membentuk proyek sudut siku-siku 90 derajat terhadap bidang vertikal. Tahap ketiga adalah sikap sujud pertama sempurna yang akan membentuk proyeksi sudut tumpul sebesar 135 derajat terhadap bidang vertikal. Gerakan melingkar adalah gerakan alam semesta yang terus menerus, bagaimana telah dijelaskan pada simbol menghadap kiblat.
Gerakan shalat dapat menggambarkan simbol kepemimpian yang idial. Kepala yang di dalamnya terdapat otak menjadi koordinator aktifitas tubuh manusia. Saat shalat, kepala harus bergerak keatas (saat berdiri ), ditengah ( saat ruku’), dan di bawah ( saat sujud ). Hal ini berarti, seorang pemimpin apa pun posisinya harus memperhatikan aspirasi rakyatnya, baik menyangkut kelas bawah, kelas menengah, maupun kelas atas. Dia seharusnya dapat bermusyawarah dengan rekan ( rakyat )-nya di kalangan atas secara demokratis. Dia seharusnya melihat dan mendengar suara rakyat kelas menengah. Dia juga seharusnya “ turun “ untuk memperhatikan keawaman dan kemiskian rakyat bawah, mendengarkan rintihan dan usulan wong cilik dan memikirkan solusi problematika mereka. Selanjutnya, gerakan shalat juga dapat menjadi simbul budi pekerti manusia seperti, ihklas, sabar, rendah hati, tidak arogan dan sebagainya. Ihklas dapat diketahui dengan gerakan tubuh misalnya gerakan kaki yang hanya dapat di lipat ke belakang. Alur kehidupan dan gerakan orbital, seperti yang telah di jelaskan di muka, berlangsung relative pelan, sehingga shalat harus di kerjakan dengan sabar ( tidak tergesa-gesa ). Gerakan kepala yang harus turun sampai ke tanah menunjukan simbuk rendah hati dan arogan.
Simbol Shalat Jama’ah
Shalat jama’ah merupakan simbul atau miniatur masyarakat. Imam shalat di analogikan dengan pemimpin masyarakat, sedangkan ma’mum dianalogikan dengan anggota mansyarakat. Shalat jemaah menggambarkan mekanisme kehidupan masyarakat. Seorang imam shalat mempunyai kriteria tertentu, seperti sanggup menunaikan shalat , mengetahui aturan shalat jemaah, berakal sehat, mampu membaca Al-Qur’an dengan benar , orangnya soleh ( baik terhindar dari maksiat ) dan disetujui oleh ma’mum. Syarat-syarat tersebut mengindikasikan kapabilitas dan akseptibilitas, seorang pemimpin. Artinya , seorang pemimpin seharusnya sanggup melaksanakan tugasnya , berakal sehat , dapat menjadi contoh yang baik dan di sepakati oleh masyarakat bawahnya. Makmum dianalogikan dengan anggota masyarakat atau bawahan. Ma’mum berada di belakang imam, meluruskan dan merapatkan barisan ( shaff ) , mempunya niat ikhlas untuk mengikuti gerak-gerak Imam , makmum pria berada di bagian depan , anak-anak di tengah, dan wanita di bagian belakang. Dari hal-hal tersebut di atas dapat di ketahui, anggota masysarakat atau bawahan menempati posisi lebh bawah daripada pemimpin. Mereka harus melaksanakan pekerjaan dengan lurus (benar) dan bersatu (bergotong royong). Mereka seharusnya bersedia dengan rela mengikuti dengan benar dari pemimpinnya. Anggota masyarakat mempunyai posisi (status) masing-masing. Heteroginitas makmum menggabarkanheteroginitas masyarakat.
Gerakan shalat jamaah merupakan gerakan kolektif, yakni gerakan yang di lakukan bersama-sama setelah imam memberikan contoh. Kebersamaan ini merupakan simbol persatuan dan persatuan yang seharusnya di galang dengan gotong-royong dan saling membantu.
Gerakan tersebut juga mengindikasikan keteladanan para pemimpin, yaitu ketika imam bergerak lebih dahulu daripada makmum. Dengan demikian , Seorang pemimpin harus ing ngarsa sung tuladha , ing madya mangun karsa , tut wuri handayani ( memberi contoh waktu di depan, memberi semangat waktu di tengah , dan memberi doarestu waktu di belakang ).
Jika imam melakukan suatu kesalahan bacaan maupun gerakan, maka makmum harus mengingatkannya. Makmum mengingatkan bacaanyan bila kesalahan pada bacaan, dan jika kesalahan pada gerakan, maka makmum pria mengingatkannya dengan bacaan subhanallah ( Maha Suci Allah ), dan makmum wanita mengingatkannya dengan tepuk tangan sekali. Hal tersebut kontrol sosial atau kritik sosial dari rakyat (wakil rakyat ) terhadap pemimpinnya. Kontrol atau kritik itu di lakukan dengan “suara”atau”gerakan” ( demontrasi ) yang kontruktif dan argumentatif . Dalam hal ini pwmimpin (imam) harus peka dan sadar terhadap kritik sosial.Apabila imam melakukan suatu yang membatalkan shalat ( misalnya kentut ), maka ia harus menyingkir untuk berwudhu, kemudian makmum yang berdiri di belakangnya maju selangkah untuk menggantikan dan melanjutkan kepemimpinannya dalam shalat. Hal ini menjadi suksesi atau regernerasi kepemimpinan. Imam yang batal shalatnya berarti dia tidak mampu ( tidak sah ), dan memang tidak boleh melanjutkan dalam shalatnya. Jika seorang tidak mampu (inkontitusional) atau tidak pantas memimpin, maka seharusnya ia lengser dari jabatan dengan sadar dan ikhlas. Penggantinya adalah orang yang paling dekat dengannya , yaitu dekat tempat, jabatan maupun kemampuannya. Dari uraian tentang makna simbolik dalam shalat di atas, dapat di ambil dua kesimpulan penting.
Shalat, yang menjadi pilar utama rukun Islam dan merupakan ”buah tangan” Nabi Muhammad saw ketika melakukan Mi’raj dan “beraudiensi” langsung dengan Allah SWT, sebenarnya sarat dengan reformasi. Visi reformatif shalat, seara gamblang terutama dalam Al Qur’an: ”Sesungguhnya salat itu mencegah (kamu) dari melakukan perbuatan keji dan mungkar” (QS.29:45). Di samping itu, visi tersebut secara simbolik juga bisa di telusuri melalui syarat-syarat shalat, gerakan-gerakan shalat, dan shalat jamaah. Dari beberapa syarat shalat, paling tidak ada empat syarat yang cukup signifikan dan relefan dengan nuansa reformasi. Pertama, Bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari dimensi waktu, karena dengan waktu itulah roda sejarah hidup manusia bisa berjalan. Agar dapat mengikuti sejarah hidupnya, manusia dituntut untuk memahami waktu (lampu, sekarang, besok). Pengabaian terhadap waktu akan mengakibatkan manusia terisolasi dari sejarahnya, yang pada gilirannya akan melahirkan stagnasi karena tidak mengenal kedinamisan.Inilah makna simbolik dari mengetahui waktu ketika melaksanakan shalat. Sejarah kelam masa lalu harus dibuang jauh-jauh guna menyongsong masa depan yang lebih baik. Kedua, sebelum melaksanakan shalat, seseorang harus menyucikan diri dari segala bentuk najis (kotoran), baik raga, tempat, pakaian, maupun jiwanya. Makna simbul ini adalah, setiap muslim harus senantiasa suci ( bersih) dalam kehidupannya. Dengan demikian, seorang muslim seharusnya dapat terhindar dari segala bentuk kenegatifan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, manipulasi, prostitusi dan lain-lainnya. Ketiga, menutup aurat, yaitu menutup bagian tubuh yang seharusnya tidak di perkenankan terlihat. Syarat ini merupakan etika dalam hal pakaian saat menghadap Tuhan. Jika setiap hari dilatih untuk menerapkan etika ini, maka seseorang akan terbiasa dengan kehidupan yang indah dan bersih. Keempat, orang yang akan mengerjakan shalat secara formal diwajibkan menghadap ke kiblat di Mekkah. Selain menunjukan gerak orbital, shalat menghadap ke kiblat secara simbolik menunjukan adanya kesatuan dan kekompakan umat islam, yang pada gilirannya akan membentuk satu kesatuan umat manusia ( Wahdah al-ummah, unity of mankind ), Kesatuan ini terwujud karena konsesus dan kebersamaan ummat yang terlihat ketika shalat dengan menyembah Tuhan yang sama, menghadap kiblat yang sama, melakukan gerak yang sama, dan meneladeni nabi yang sama. Dari sini, maka menjamurnya partai politik berbasis islam, harus mengedepankan arti penting kesatuan dan persatuan umat untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik.
Simbol Gerakan Shalat
Jika dihitung secara matematis, maka keseluruhan gerakan shalat menunjukkan angka 360º derajat, angka yang menunjukkan gerakan orbital. Penghitungan 360 derajat di dapat dari akumulasi lima tahap gerak shalat. Tahap pertama adalah sikap berdiri sempurna, sejajar dengan bidang vertikal. Tahap ini menunjukan sudut nol derajat. Tahap kedua adalah sikap ruku sempurna yang akan membentuk proyek sudut siku-siku 90 derajat terhadap bidang vertikal. Tahap ketiga adalah sikap sujud pertama sempurna yang akan membentuk proyeksi sudut tumpul sebesar 135 derajat terhadap bidang vertikal. Gerakan melingkar adalah gerakan alam semesta yang terus menerus, bagaimana telah dijelaskan pada simbol menghadap kiblat.
Gerakan shalat dapat menggambarkan simbol kepemimpian yang idial. Kepala yang di dalamnya terdapat otak menjadi koordinator aktifitas tubuh manusia. Saat shalat, kepala harus bergerak keatas (saat berdiri ), ditengah ( saat ruku’), dan di bawah ( saat sujud ). Hal ini berarti, seorang pemimpin apa pun posisinya harus memperhatikan aspirasi rakyatnya, baik menyangkut kelas bawah, kelas menengah, maupun kelas atas. Dia seharusnya dapat bermusyawarah dengan rekan ( rakyat )-nya di kalangan atas secara demokratis. Dia seharusnya melihat dan mendengar suara rakyat kelas menengah. Dia juga seharusnya “ turun “ untuk memperhatikan keawaman dan kemiskian rakyat bawah, mendengarkan rintihan dan usulan wong cilik dan memikirkan solusi problematika mereka. Selanjutnya, gerakan shalat juga dapat menjadi simbul budi pekerti manusia seperti, ihklas, sabar, rendah hati, tidak arogan dan sebagainya. Ihklas dapat diketahui dengan gerakan tubuh misalnya gerakan kaki yang hanya dapat di lipat ke belakang. Alur kehidupan dan gerakan orbital, seperti yang telah di jelaskan di muka, berlangsung relative pelan, sehingga shalat harus di kerjakan dengan sabar ( tidak tergesa-gesa ). Gerakan kepala yang harus turun sampai ke tanah menunjukan simbuk rendah hati dan arogan.
Simbol Shalat Jama’ah
Shalat jama’ah merupakan simbul atau miniatur masyarakat. Imam shalat di analogikan dengan pemimpin masyarakat, sedangkan ma’mum dianalogikan dengan anggota mansyarakat. Shalat jemaah menggambarkan mekanisme kehidupan masyarakat. Seorang imam shalat mempunyai kriteria tertentu, seperti sanggup menunaikan shalat , mengetahui aturan shalat jemaah, berakal sehat, mampu membaca Al-Qur’an dengan benar , orangnya soleh ( baik terhindar dari maksiat ) dan disetujui oleh ma’mum. Syarat-syarat tersebut mengindikasikan kapabilitas dan akseptibilitas, seorang pemimpin. Artinya , seorang pemimpin seharusnya sanggup melaksanakan tugasnya , berakal sehat , dapat menjadi contoh yang baik dan di sepakati oleh masyarakat bawahnya. Makmum dianalogikan dengan anggota masyarakat atau bawahan. Ma’mum berada di belakang imam, meluruskan dan merapatkan barisan ( shaff ) , mempunya niat ikhlas untuk mengikuti gerak-gerak Imam , makmum pria berada di bagian depan , anak-anak di tengah, dan wanita di bagian belakang. Dari hal-hal tersebut di atas dapat di ketahui, anggota masysarakat atau bawahan menempati posisi lebh bawah daripada pemimpin. Mereka harus melaksanakan pekerjaan dengan lurus (benar) dan bersatu (bergotong royong). Mereka seharusnya bersedia dengan rela mengikuti dengan benar dari pemimpinnya. Anggota masyarakat mempunyai posisi (status) masing-masing. Heteroginitas makmum menggabarkanheteroginitas masyarakat.
Gerakan shalat jamaah merupakan gerakan kolektif, yakni gerakan yang di lakukan bersama-sama setelah imam memberikan contoh. Kebersamaan ini merupakan simbol persatuan dan persatuan yang seharusnya di galang dengan gotong-royong dan saling membantu.
Gerakan tersebut juga mengindikasikan keteladanan para pemimpin, yaitu ketika imam bergerak lebih dahulu daripada makmum. Dengan demikian , Seorang pemimpin harus ing ngarsa sung tuladha , ing madya mangun karsa , tut wuri handayani ( memberi contoh waktu di depan, memberi semangat waktu di tengah , dan memberi doarestu waktu di belakang ).
Jika imam melakukan suatu kesalahan bacaan maupun gerakan, maka makmum harus mengingatkannya. Makmum mengingatkan bacaanyan bila kesalahan pada bacaan, dan jika kesalahan pada gerakan, maka makmum pria mengingatkannya dengan bacaan subhanallah ( Maha Suci Allah ), dan makmum wanita mengingatkannya dengan tepuk tangan sekali. Hal tersebut kontrol sosial atau kritik sosial dari rakyat (wakil rakyat ) terhadap pemimpinnya. Kontrol atau kritik itu di lakukan dengan “suara”atau”gerakan” ( demontrasi ) yang kontruktif dan argumentatif . Dalam hal ini pwmimpin (imam) harus peka dan sadar terhadap kritik sosial.Apabila imam melakukan suatu yang membatalkan shalat ( misalnya kentut ), maka ia harus menyingkir untuk berwudhu, kemudian makmum yang berdiri di belakangnya maju selangkah untuk menggantikan dan melanjutkan kepemimpinannya dalam shalat. Hal ini menjadi suksesi atau regernerasi kepemimpinan. Imam yang batal shalatnya berarti dia tidak mampu ( tidak sah ), dan memang tidak boleh melanjutkan dalam shalatnya. Jika seorang tidak mampu (inkontitusional) atau tidak pantas memimpin, maka seharusnya ia lengser dari jabatan dengan sadar dan ikhlas. Penggantinya adalah orang yang paling dekat dengannya , yaitu dekat tempat, jabatan maupun kemampuannya. Dari uraian tentang makna simbolik dalam shalat di atas, dapat di ambil dua kesimpulan penting.
- Pertama, sebenarnya shalat sarat dengan muatan visi reformatif, seperti demokratisasi, solidaritas sosial, keadilan, kesederajatan, kedisiplinan, kesabaran, kejujuran, keseriusan, keteledanan, kepemimpinan yang ideal dan sebagainnya.
- Kedua, sebagai umat islam hendaknya tidak hanya “mengerjakan shalat “, tetapi juga harus meningkat pada level “menegakan shalat “ , yakni mengerjakan shalat dengan benar kemudian menerjemahkan makna simbolik shalat dalam kehidupan kongkrit sehari-hari. Seiring dengan gaung reformasi marilah kita jadikan momentum Irsa Mi’raj tahin ini untuk kembali mengadakan perenungan-perenungan, sudahkah kita “mentegakan shalat”? Kalau belum, saat inilah yang paling tepat untuk mereformasi shalat kita, dari “shalat ritual “menuju “shalat aktual”. Yang di maksud dengan shalat aktual adalah shalat ritual yang telah diterjemahkan dalam realitas empiric. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar