Rabu, 03 April 2013

FOTO: Bumi dari Jarak 170 Juta Kilometer


Tampak juga komet PanSTARRS yang pernah mendekati Bumi

Sebuah pesawat ruang angkasa NASA telah berhasil menangkap keindahan gambar Bumi yang diambil dari jarak 170 juta kilometer. Jarak itu hampir sama antara Bumi dan Matahari.

Gambar itu berhasil ditangkap oleh Solar Terrestrial Relations Observatory B (STEREO-B), menggunakan Heliospheric Imager (HI), yang merupakan salah satu instrumen canggih bertugas untuk mengamati Matahari.

Selain berhasil mengambil gambar Bumi, STEREO-B juga sukses mengambil gambar komet PanSTARRS yang pernah mendekati Bumi pada awal Maret 2013.

Saat komet PanSTARRS dapat terlihat dengan mata telanjang pada malam hari, di belahan Bumi bagian utara, STEREO-B pun sudah siap mengambil gambar kilauan cahaya komet PanSTARRS di luar angkasa.

Berdasarkan data NASA, jarak komet PanSTARRS dengan Matahari sekitar 0,3 Astronomical Units, atau sekitar 149 juta kilometer. Sementara itu, jarak Bumi dan Matahari sekitar 1,1 Astronomical Units, atau setara 170 juta kilometer.

Foto STEREO-B
Pada gambar berlatar biru dan hitam itu, terlihat cahaya terang dari ekor komet PanSTARRS. Sementara itu, Bumi berada di sebelah kanannya, dengan memunculkan setitik cahaya. Titik-titik hitam lainnya adalah bintang-bintang yang bertebaran di alam semesta.

Jika penasaran ingin melihat pergerakan komet PanSTARRS saat mendekati Bumi, Anda bisa mengklik tautan ini.

vivateknologi

Jumat, 15 Maret 2013

Astronom Saksikan Planet yang Sedang Diciptakan


Zurich - Ahli astronomi dari Institut Teknologi Federal (ETH) Zurich, Swiss, memotret planet yang baru terbentuk di sebuah bintang muda. Bakal planet itu bersinar amat terang karena masih memakan gas di sekitarnya.

Janin planet tersebut terletak di sekitar bintang HD 100546, yang terletak 335 tahun cahaya dari Bumi. Di sekeliling bintang terdapat gas dan debu sisa kelahiran bintang. Material sisa ini mengindikasikan bahwa bintang baru lahir.

Di sebelah bintang, terdapat titik terang lain. Kali ini berukuran lebih kecil. "Ukurannya sebesar Jupiter," ujar ahli astronomi Sascha Quanz dari ETH Zurich.

Gambar bintang dan planet itu terlihat melalui Very Large Telescope milik European Southern Observatory di Cile. Teleskop ini memiliki kemampuan melihat cahaya inframerah yang dipancarkan langsung dari jantung planet yang diselimuti gas. Inframerah merupakan "warna" favorit astronom untuk melihat tembus pandang.

Menurut dia, planet yang terang-benderang ini justru belum terbentuk sempurna. Pasalnya, planet masih dikelilingi oleh debu dan gas. Material ini, masih terus berjatuhan ke pusat sampai benda bulat tersebut matang sebagai planet. Kini janin planet tersebut masih berupa planet gas raksasa.

Penelusuran janin planet dilakukan dalam lima tahun terakhir. Waktu penelitian yang panjang dikarenakan waktu revolusi planet yang amat pelan, yaitu 360 tahun. Dalam waktu lima tahun, planet seharusnya bergerak lebih dari lima derajat busur.

"Perjalanan lambat hanya mungkin terjadi jika benda ini planet yang sedang terbentuk," ujar dia.

Penelitian terdahulu menyebutkan bintang HD 100546 tidak hanya mengasuh sebuah janin planet, melainkan dua. Rupanya bintang induk bergerak sempoyongan akibat tarikan planet kedua ini. Ada kemungkinan gravitasi planet kedua mengganggu janin planet yang baru ditemukan dan melontarkan planet ke lingkaran orbit lebih luar.

POPSCI

"Ngopi" Cara Lebah Mengingat Sifat Bunga

Newcastle-- Lebah madu mendapatkan kafein dari bunga tertentu yang menstimulasi memori ingatan mereka terhadap sifat bunga. Kafein ini mendorong lebah untuk kembali ke jenis tanaman yang sama sehingga dapat meningkatkan peluangnya untuk penyerbukan.

Cara Lebah Mengingat Sifat Bunga
Ilustrasi lebah. Sxc.hu
Salah satu bunga yang memberikan banyak kafein pada lebah adalah tanaman kopi. Menurut para peneliti di Universitas Newcastle, nektar menawarkan kafein sebanyak secangkir kopi instan. Selain itu, bunga jeruk juga mengandung kafein meskipun dalam konsentrasi yang lebih rendah.

Kafein membantu lebah selalu ingat bahwa aroma bunga itu menjanjikan hasil lezat. Sehingga lebah akan terus mencari bunga-bunga itu dan mentransfer serbuk sari mereka.

"Bagi lebah, sifat bunga sangat sulit diingat karena mereka terbang dari bunga ke bunga dengan begitu cepat," kata Dr Geraldine Wright, pemimpin penelitian. Mereka telah menemukan bahwa kafein membantu lebah untuk mengingat dimana bunga-bunga itu.

Pada gilirannya, lebah yang telah mencium nektar berkafein memungkinkan mereka untuk mencari nektar lebih banyak lagi. Ini menyebabkan penyerbukan menjadi lebih baik. "Kafein adalah bahan kimia sebagai pertahanan tanaman yang memberi rasa pahit untuk serangga, termasuk lebah. Kami terkejut kafein ditemukan dalam nektar," ujar Profesor Phil Stevenson, dari Royal Botanic Gardens di Kew. Namun, kafein ini dosis rasanya terlalu rendah untuk lebah tetapi cukup tinggi mempengaruhi perilaku lebah.

Para peneliti ini melatih individu lebah untuk meminum minunan manis ketika mencium aroma bunga tertentu. Beberapa lebah mendapat kafein dalam minuman mereka sementara yang lainnya tidak. 

Setelah 24 jam, lebah yang telah diberi kafein menjadi tiga kali lebih mungkin untuk mengingat aroma bunga dibandingkan lebah yang tidak meminum kafein. Lebah tidak bisa merasakan kafein pada tingkat yang ditemukan pada nektar. Namun para peneliti zat ini mempengaruhi sel-sel otak tertentu yang terlibat dalam memori. 

DAILY MAIL 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers