Jumat, 26 Oktober 2012

Misteri Ikan Pemanah Terpecahkan

Toxotes jaculatrix
MILAN, Peneliti Universitas Milan di Italia memecahkan misteri kemampuan ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) dalam "menembak" mangsanya. Dalam BBC 25 Oktober 2012, dijelaskan, ikan pemanah mampu menyemburkan air secepat jet secara akurat dari jarak 2 meter.

Hebatnya lagi, tembakan air ini mampu menjatuhkan serangga yang sedang bergelantung di ranting. Setelah mangsa jatuh, ikan pemanah ini akan menyantapnya. Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE ini menggunakan metode pangamatan. Gerakan ikan direkam menggunakan video berdefinisi tinggi untuk merekam gerakan yang sangat cepat.

Prof Alberto Vailati, anggota tim peneliti, menggambarkan proses semburan air dari mulut ikan mirip dengan mekanisme pistol air atau menekan mainan dari bahan karet yang berisi air. Semprotan air yang sangat kuat ini dihasilkan saat ikan menekan lidahnya pada lekuk mulutnya. Ini membentuk formasi yang sempit dan tajam. Kemudian, ikan pemanah ini menutup insangnya untuk mendorong air melesat kea rah mangsa.

Pancaran ini diklaim lebih kuat dibanding enam kali kekuatan ototnya. Lesakan air ini menerobos badan air dan bertambah cepat sehingga membentuk tetesan air yang besar. Enerigi yang sangat besar ini memaksimalkan dampak titik air saat menghantam mangsa.

BBC

Minggu, 21 Oktober 2012

"Kantor Pos" Sel yang Memesona Juri Nobel


Salah satu penelitian yang mencuri hati juri nobel tahun 2012 adalah penelitian tentang keluarga reseptor terhubung protein G (GPCRs). Riset itu menghantarkan penelitinya, Robert Lefkowitz dan Brian Kobilka dari Amerika Serikat, meraih Nobel Kimia 2012.

Ilustrasi reseptor terhubung protein G (GPCRs). Reseptor digambarkan berwarna biru, punya struktur spiral, keluar masuk membran sel sebanyak 7 kali.
Apa gerangan reseptor terhubung protein G itu?

Reseptor ini kiranya bisa diumpamakan sebagai kantor pos tingkat sel. Reseptor akan menerima sinyal yang bisa diumpamakan sebagai surat dari luar sel, membantu menghantarkannya ke dalam sel atau ke penerima.

Dalam menghantarkan, reseptor akan terhubung dengan protein G, yang kiranya bisa diibaratkan bagian kantor pos yang berkoordinasi dengan tukang pos. Proses penghantaran akan dilakukan oleh tukang pos, dalam sel disebut second messenger.

Secara umum, proses penghantaran bermula saat sinyal atau ligand diterima oleh GPCRs. Sinyal kemudian mengalami sedikit perubahan ketika diterima GPCRs yang berlanjut pada aktivasi protein G. Sinyal kemudian dihantarkan ke dalam sel.

Apa arti penting reseptor terhubung protein G hingga risetnya mendapatkan nobel?

Reseptor terhubung protein G adalah keluarga besar reseptor yang terdiri 1000 anggota di tubuh manusia. Keluarga besar reseptor itu mencakup reseptor untuk hormon adrenalin, cahaya, bau, suara dan separuh dari obat yang beredar saat ini.

Selama ini, organisasi kantor pos sel dan cara kerjanya itu bekerja masih misteri. Lefkowitz dan Kobilka berperan menguak misteri kerja kantor pos tersebut, sekaligus memperlihatkan rupanya dalam tiga dimensi. Riset ini bermanfaat bagi dunia kedokteran masa depan.

Riset 4 dekade

Upaya menguak misteri GPCRs itu tak mudah. Seperti diuraikan situs Nobel Prize, riset memakan waktu lebih dari 4 dekade. Lefkowitz memulai risetnya tahun 1968 dengan menggunakan radioaktif iodium dan hormon adrenokortikotropik yang merangsang produksi adrenalin.

Lefkowitz mempelajari bagaimana hormon berhubungan dengan sel, mempengaruhi apa yang terjadi di dalam sel. Penggunaan radioaktif memungkinkannya melacak reseptor sehingga bisa diketahui fungsinya.

Lefkowitz kemudian mulai fokus bekerja pada reseptor hormon adrenalin dan noradrenalin, yang disebut reseptor beta adrenergik. Penelitian akhirnya berhasil menguak bagaimana reseptor itu bekerja.

Pada tahun 1980, Kobilka bergabung dengan tim Lefkowitz. Penyelidikan mulai diarahkan pada gen yang mengkode reseptor beta adrenergik. Kobilka berhasil mengisolasi gen yang berperan mengkode reseptor itu.

Dari sana, struktur reseptor beta adrenergik akhirnya terungkap. Reseptor itu merupakan tujuh rantai spiral yang panjang disebut helices. Di membran sel, reseptor ini tersusun keluar masuk membran sel 7 kali.

Lefkowitz mengatakan, penemuan struktur itu menjadi momen eureka. Diketahui, reseptor pada retina mata, rhodopsin, juga punya struktur serupa beta adrenergik. Dalam penelitian lain, telah ditemukan pula protein yang yang disebut protein G.

Reseptor beta adrenergik dan rhodopsin diketahui berpasangan dengan protein G. Saat itu, diketahui pula ada 30 reseptor yang bekerja dengan protein G. Penemuan struktur keduanya menjadi awal penemuan keluarga reseptor terhubung protein G.

Tahun 2011, Kobilka berhasil mencitrakan reseptor terhubung protein G dalam 3 dimensi saat berpasangan dengan protein G. Dalam citra itu, digambarkan adanya sinyal yang hendak ditransfer ke protein G.

Masa depan pengobatan

Penemuan keluarga reseptor terhubung protein G, cara kerja dan strukturnya sangat berdampak pada pengobatan masa depan. Pengetahuan ini akan menjadi dasar dalam perancangan obat-obatan.

Banyak obat tidak hanya berefek pada target tertentu tetapi juga pada reseptornya. Akhirnya, banyak obat yang dikenal saat ini memiliki efek samping, yang selanjutnya bisa berpotensi pada timbulnya penyakit lain.

"Kita berharap dengan diketahuinya struktur 3 dimensi, kita dapat mengembangkan obat yang lebih selektif dan efektif," kata Kobilka sepertio dikutip New York Times, Rabu (10/10/2012).

Lefkowitz kini bekerja di Howard Hughes Medical Institute and Duke University Medical Center di Durham. Sementara Kobilka berkarya di Sekolah Kedokteran Stanford University di Stanford, Amerika Serikat.

nytimes.com

Alasan Perasaan Sedih Bikin Mudah Mengingat Wajah

London – Berada dalam kondisi sedih telah lama dikaitkan dengan kinerja buruk pada tugas harian. Namun ilmuwan menemukan fakta mengejutkan yang menguntungkan ini.



Ilmuwan menemukan, orang yang sedang bersedih memiliki kemampuan lebih baik dalam mengenai wajah. Peneliti Peter Hills dari Anglia Ruskin University mengatakan, temuan ini bisa digunakan untuk perawatan yang lebih baik pada depresi.
“Saya terkejut. Sedih biasanya dikaitkan kinerja buruh dalam tugas kognitif,” ujarnya seperti dikutip Dailymail. Hills dan timnya memainkan tiga jenis musik untuk membuat relawan mengalami perasaan sedih, senang dan netral. Kemudian, relawan diminta memikirkan momen tersedih atau terbahagia dalam hidupnya atau saat di perjalanan pulang pada relawan netral.
Sebanyak 88 relawan ini kemudian diminta melihat 32 wajah netral dan mengisi quesioner sebagai pengalih perhatian. Setelahnya relawan ditunjukkan 64 wajah dan diminta memilih 32 wajah berekspresi asli. Relawan sedih ternyata mampu memberi responnya secara akurat sedangkan relawan senang kurang akurat.
“Orang lebih memilih melihat wajah senang karena lebih menarik dibanding wajah sedih. Sederhananya, orang lebih memerhatikan wajah senang,” ujarnya. Kemungkinan, orang sedih lebih bisa menerima isyarat sosial, lanjutnya.
Namun bukti yang ada masih belum cukup mengamini klaim ini. “Meski mempelajari kesedihan itu sendiri penting, fokus utama terletak pada memahami cara mencegah dan merawat depresi,” katanya.
Hasil riset ini diterbitkan di jurnal Consciousness and Cognition. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers