Minggu, 16 Desember 2012

Ilmuwan Ungkap Banjir Besar di Masa Nabi Nuh


Bekas peradaban di bawah Laut Hitam terus dicari.

arkdiscovery.com
Cerita Nabi Nuh dan banjir besar merupakan kisah paling terkenal yang bersumber dari kitab suci, baik agama Yahudi, Nasrani, juga Islam. Tapi kemudian, ahli arkeologi bawah air mengungkap bahwa mereka berhasil membuktikan kisah Nuh dan banjir besar itu.

Robert Ballard, ahli arkeologi bawah air yang sudah dikenal dunia, mengaku timnya telah menelusuri kedalaman Laut Hitam di sekitar Turki. Ini dilakukan untuk mencari bekas peradaban yang tersimpan di dasar laut, yang terpendam sejak masa Nabi Nuh.

Mengutip laman ABC News, selama ini Ballard memiliki rekam jejak untuk berhasil menemukan hal-hal yang dianggap mustahil. Pada 1985, dengan menggunakan robot yang dilengkapi pengendali jarak jauh, Ballard dan timnya menelusuri sisa reruntuhan Titanic.

Sekarang Ballard pun menggunakan teknologi robotik yang lebih canggih untuk mencari jejak Nabi Nuh. Menurut dia, dunia pada 12.000 tahun lalu terselimuti es. Namun, dia tetap berusaha mencari jejak Nabi Nuh.

Menurut Ballard, Laut Hitam dulu merupakan danau air tawar yang dikelilingi kawasan pertanian. Tapi, kemudian gletser mencair pada saat temperatur Bumi semakin menghangat pada 5600 SM, yang mengakibatkan terbentuknya sejumlah lautan.

Inilah yang mengakibatkan terjadinya banjir besar di sebagian besar kawasan dunia. Air itu kemudian mengalir melalui Selat Bosporus dari Turki, untuk kemudian menuju Laut Hitam.

"Kami bicara tentang banjir di sejarah hidup manusia. Pertanyaannya adalah, apakah ada induk dari semua banjir yang terjadi saat itu?" tutur Ballard.

Penelitian Ballard ini dilakukan mengikuti kajian yang dilakukan William Ryan dan Walter Pitman. Mereka menggambar bukti arkeologi dan antropologi, yang menyebut "10 kubik mil air dituangkan setiap hari", yang terjadi selama 300 hari.

Menurut Ryan dan Pittman, lebih dari 60.000 mil persegi daratan terendam banjir. Lalu, permukaan air danau meningkat hingga ratusan kaki, dan memicu migrasi massal hewan-hewan di seluruh Eropa. Kekuatan air sebesar 200 kali air terjun Niagara ini kemudian menyapu seluruh permukaan daratan. Karena itu, danau tersebut pun kemudian berubah menjadi air asin.

Para ilmuwan ini pun mengaku telah melakukan penanggalan karbon dan penggambaran sonar, untuk membuktikan bencana banjir Nuh itu.

"Kami ke sana untuk mencari banjir," ucap Ballard. "Tidak hanya bergerak secara perlahan, yang menyebabkan meningkatnya air laut. Tapi, juga banjir besar yang kemudian menutup daratan," kata Ballard.

Tim ini pun mengklaim telah menemukan garis pantai purba yang dipercaya sebagai bukti kisah Nuh itu. Dengan penanggalan karbon terhadap kerang yang ditemukan, maka pantai itu diperkirakan berasal dari 5000 SM.

Tapi, Ballard mengaku kesulitan untuk menemukan bahtera Nuh. Ballard hanya mengaku memiliki kemungkinan untuk menemukan masyarakat yang tersapu banjir pada 7000 tahun lalu itu.

"Sepertinya bodoh untuk berpikir bisa menemukan bahtera itu," ucapnya. "Tapi apakah bisa menemukan masyarakat yang pernah hidup di situ? Apakah bisa menemukan perkampungan yang sekarang berada di bawah laut? Jawabannya tentu saja 'ya'," tutur Ballard. (art)

© VIVA.co.id  

Di Zaman Modern, Manusia Semakin Bodoh?


Manusia tidak membutuhkan kecerdasan untuk menghadapi seleksi alam.


neurobonkers.com
Apakah kita semakin bodoh? Sejumlah peneliti mengklaim bahwa kecerdasan manusia semakin berkurang karena kita tidak lagi membutuhkannya untuk bertahan hidup.

Sekelompok peneliti dari Stanford University mengklaim bahwa peradaban modern yang praktis malah mendegradasi kecerdasan manusia. Masih menurut mereka, kecerdasan manusia mencapai puncak kejayaan 4.000 SM.

Kecerdasan dan kemampuan berpikir abstrak manusia berkembang pada leluhur prasejarah manusia yang tinggal di Afrika antara 50 ribu sampai 500 ribu tahun yang lalu. Mereka harus mengandalkan kecerdasan mereka untuk membangun tempat tinggal dan berburu mangsa.

Seiring berjalannya waktu, manusia tidak lagi perlu berjuang untuk bertahan hidup. Seleksi alam tidak membutuhkan manusia-manusia cerdas.

Selain itu, manusia pun menghadapi mutasi gen berbahaya yang mengurangi kemampuan kita 'berpikir keras". Dan ini diteruskan manusia dari generasi ke generasi dan dibiarkan menumpuk. Kondisi ini mengarah pada tahap mandulnya kecerdasan manusia sebagai spesies.

Prof Gerald Crabtree, ahli biologi perkembangan di Stanford University, menjelaskan penelitian ini dalam jurnal Trends in Genetics. Menurutnya, mutasi pada salah satu dari 2.000 hingga 5.000 gen tertentu dapat menurunkan kecerdasan dan kemampuan emosional manusia. Dan, gen-gen ini rawan mutasi.

Perkembangan gen kecerdasan manusia, kata Crabtree, "Kemungkinan terjadi di dunia saat manusia harus menghadapi seleksi alam dalam memenuhi kebutuhan dasar." Tekanan ini tidak berlaku di zaman modern saat ini.

Pada masa purba, manusia yang salah mengambil keputusan saat berburu atau mencari tempat tinggal dan berlindung mungkin akan mati bersama keturunannya. "Sementara, eksekutif di Wall Street di zaman modern yang membuat kesalahan konsep yang sama, bisa jadi malah mendapat bonus besar." Artinya, kata dia, seleksi alam ekstrim hanya ada di masa lalu.

Berdasarkan waktu terjadinya mutasi gen manusia dan kerentanan gen-gen yang terkait fungsi intelektual dan emosional, Profesor Crabtree menghitung. Kecerdasan manusia "mencapai puncak" pada 2.000 sampai 6.000 tahun yang lalu.

"Saya berani bertaruh, jika ada warga biasa dari Athena 1.000 SM tiba-tiba ada di antara kita, dia pasti jadi orang yang paling cerdas. Dengan ingatan yang baik, berbagai ide, dan pandangan yang jelas mengenai isu-isu penting," jelas Crabtree.

Dalam 3.000 tahun mendatang, dia memprediksi, manusia akan mengalami sedikitnya dua mutasi genetika yang akan menurunkan kecerdasan dan kemampuan emosional. Tapi, imbuhnya, ilmu pengetahuan akan berkembang sedemikian pesat sehingga manusia bisa menyelesaikan masalah.

"Tapi, kemunduran kecerdasan sangat lambat, dilihat dari kemajuan masyarakat dalam penemuan-penemuan baru. Teknologi masa depan akan menciptakan solusi untuk masalah ini," kata Gerald Crabtree. 
(Dailymail/The Telegraph | umi)

Bagaimana Gen Penunjuk Jam Kematian Bekerja


Kombinasi nukleotida tertentu membuat kematian bisa diketahui jamnya



Genetika menentukan warna rambut, golongan darah, dan kerentanan terhadap penyakit tertentu. Kini gen dapat dijadikan ukuran untuk memprediksi pada jam berapa manusia akan mati.

Para peneliti telah menemukan hal tersebut dan menerbitkan studi dalam edisi November 2012 dari Jurnal Annals of Neurology. Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, para ilmuwan yang mempelajari jam biologis internal tubuh (ritme sirkadian) melaporkan penemuan varian gen yang tidak hanya menentukan kemungkinan menjadi orang dengan pola yang mudah bangun pagi (morning person) tetapi juga memprediksi kemungkinan waktu kematian seseorang.

Menurut pernyataan tertulis yang dikeluarkan oleh Harvard Medical School, gen biasanya memungkinkan untuk tiga kemungkinan kombinasi nukleotida (empat blok pembangun molekul DNA): adenine-adenine (AA), adenin-guanin (AG), dan guanin-guanin (GG).

Tim peneliti sebenarnya secara tidak sengaja menemukan temuan ini saat mereka sedang menyelidiki perkembangan pasien dengan penyakit Parkinson dan Alzheimer. Kemudian para peneliti memantau pola tidur dari 1200 subjek lanjut usia yang menjalani pemeriksaan neurologis dan kejiwaan.

Para peneliti menemukan sebuah molekul tunggal dekat sebuah gen yang disebut 'Periode 1' yang berbasis adenine (A) atau guanine (G). Gen molekul tipe A memiliki rasio yang lebih enam berbanding empat, oleh karena itu orang yang memiliki dua kromosom memiliki peluang 36 persen memiliki jenis molekul AA, 16 persen peluang memiliki GG dan 48 persen memiliki berpeluang memiliki molekul A dan G.

klik!

"Jenis genotipe tertentu ini mempengaruhi pola tidur dan bangun dari setiap orang pada hakikatnya," tulis Dr Clifford Saper, kepala neurologi di Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston, seperti dilansir Huffingtonpost.

"Dan itu adalah dampak yang cukup mendalam sehingga orang-orang yang memiliki jenis gen AA bangun sekitar satu jam lebih awal dari orang-orang yang memiliki genotipe GG, dan genotipe AG bangun hampir persis di pertengahan," katanya.

Selain itu, para peneliti menyadari karena beberapa dari 1.200 subjek tersebut yang urutan nukleotida merupakan pemprediksi akurat dari jam kematian para subjek tersebut, dalam jarak hanya beberapa jam. Pasien dengan genotipe AA dan AG biasanya meninggal sebelum 11 pagi, sedangkan subjek dengan kombinasi GG cenderung mati sekitar pukul 18.00.

"Jadi ada benar-benar sebuah gen yang memprediksi kematian anda pada pukul berapa. Bukan tanggal untungnya, tapi waktu (dalam) hari," kata Saper.

Sementara itu laman The Atlantic melaporkan peneliti percaya hasil mereka mungkin mengingat tubuh manusia kembali kepada lebih alami, imbas ritme jam biologis internal yang ditentukan sebagai pendekatan kematian.

Sumber: Huffingtonpost, Daily Mail

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tanggapan codebreakers